Keluarga Tetap Sehat di Era New Normal

 

Bismiilah…

Beberapa waktu yang lalu, Salimah Surakarta bekerjasama dengan Pocari Sweat menggelar program talkshow live ig bersama dr Randi Dwiyanto. Dalam perbincangan yang dipandu oleh pengurus Salimah, Irna Kartina tersebut kami membahas tentang tema yang sangat relevan dengan situasi yang sedang terjadi saat ini terutama bagi keluarga dan khususnya ibu-ibu muslimah yaitu Keluarga Tetap Sehat di Masa New Normal.

Artikel ini adalah rangkuman yang bisa kami berikan kepada muslimah dari perbincangan live IG selama satu jam kemarin. Silakan disimak semoga bermanfaat.

Masa pandemi adalah masa yang tidak satu orang pun menginginkan nya, namun tidak ada pilihan yang bisa dilakukan selain menghadapi dengan upaya menjaga diri dan keluarga. “Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, maka jika kita ingin menyehatkan masyarakat maka keluarga adalah titik awal brangkat yang tepat,” kata dr Randi.

Hal yang perlu dipahami menurut dr Randi adalah New Normal merupakan suatu keadaan beradaptasi dengan keadaan yang baru, namun kita belum terbiasa dengan keadaan tersebut. “Bisa juga diartikan dalam makna luas bahwa new normal adalah masa menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang yang pandemi dengan gaya hidup yang mengikuti protokol kesehatan,” ujarnya.

Ada tiga hal yang bisa diupayakan (tips) dalam New Normal dalam pandemi ini :
1. Adaptasi baru dengan protokol kesehatan : tetap sehat dan terhindar dari resiko penyakit.

2. Tetap membudayakan PHBS, makanan gizi seimbang, minum air putih yg cukup, tidur harus cukup, dan berolahraga (dengan mempertimbangkan protokol kesehatan, seperti tetap menggunakan masker, tempat olah raga yang sepi /indoor). Bersabar untuk tidak melakukan olahraga Outdoor sampai keadaan benar-benar aman.

3. Menjaga hubungan dan interaksi dengan orang tercinta (quality time) dengan tetap mempertimbangkan jaga jarak dan mandi setelah beraktivitas di luar rumah, keep in touch dengan dunia maya.

Selain itu, memberikan pengertian kepada keluarga terkait dengan kodisi yang sedang terjadi termasuk tentang protokol kesehatan. Memberikan edukasi yang jelas kepada anggota keluarga, berarti melindungi keluarga kita secara tidak langsung.

Semoga seluruh keluarga kita terlindung dari virus covid-19 dan bisa terus kokoh hingga masa pandemi berakhir.

Wallohu’alam bi showab.

Muslimah Tangguh di Era Milenia

Di era kemajuan teknologi seperti saat ini, manusia dirasuki digitalisasi. Tak peduli usia. Tua, muda, remaja, anak-anak, hingga balita. Tak peduli masa. Pagi, siang, petang, malam, bahkan satu detik setelah terjaga. Pun, tak peduli di mana. Di kantor, di sekolah, di kantin, di kendaraan, di sawah, di kamar mandi, bahkan hingga menjelang shalat di masjid. Sayangnya, kebanyakan dari orang yang mengakses gadget ini menggunakan sosial media yang kurang bermanfaat untuk mengisi waktunya.

Keadaan ini diperparah dengan kondisi generasi muslim muda di Indonesia yang jauh dari kata baik. Pasalnya, mereka terlalu banyak mengadopsi budaya dari luar. Mereka hanyut dalam arus globalisasi dan lupa dari mana mereka berasal. Mulai dari cara berpakaian, tingkah laku, sopan santun seakan hilang bertahap dari jiwa muda muslim di Indonesia. Perlahan mereka meninggalkan budaya berpakaian Islam yang sopan dan lebih senang menggunakan budaya berpakaian dari Barat yang terkesan terbuka. Mereka beranggapan bahwa berpakaian Islam itu ketinggalan zaman dan berpakaian mengadopsi Barat menunjukkan modernitas.

Dengan masuknya berbagai informasi yang tidak terbendung, pola dan gaya hidup ikut berubah menjadi materialisme dan konsumerisme. Penilaian seseorang dilihat dari materi yang dimiikinya. Gaya dan penampilan lebih dipentingkan daripada yang lain, sehingga memaksa diri, hingga terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane mengungkapkan, tingkat sadisme dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia kian memprihatinkan, ditandai dengan makin tingginya angka pembuangan bayi di jalanan di sepanjang Januari 2018. “Ada 54 bayi dibuang di jalanan di Januari 2018. Pelaku umumnya wanita muda berusia antara 15 hingga 21 tahun.” Tidak hanya itu, kondisi Indonesia saat ini diwarnai dengan angka perceraian yang terus meningkat, bahkan ratusan ribu tiap tahunnya. Pada tahun 2016, terdapat 350.000 kasus perceraian di negara ini.

Peran Muslimah

Muslimah merupakan salah satu benteng Islam. Di pundak para muslimah, ada tanggung jawab besar untuk melindungi, mendidik, dan menjaga umat. Ada ungkapan yang mengatakan “Wanita adalah tiang negara, hancur atau majunya suatu negara tergantung bagaimana kondisi wanita yang ada di dalamnya”.

Apabila baik akhlak para wanitanya, maka baik pulalah negara itu. Dan apabila buruk perangainya, maka buruk dan hancurlah negara tersebut. Menghadapi realita yang ada sekarang, diperlukan sosok-sosok muslimah yang tangguh, yang dapat menjalankan peran yang diberikan Rabb padanya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimanakah muslimah tangguh itu? Muslimah tangguh adalah muslimah yang kuat menghadapi berbagai tantangan hidup dan fitnah dunia, yang mampu menjaga diri dan hatinya, dengan berbekal iman dan akhlak mulia.

Bagaimana Cara Menjadi Muslimah Tangguh?

  1. Genggam erat iman kita, jaga ruhiyah kita, jaga rasa takut kita pada Allah SWT

Dari Abu Raihannah, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW dalam satu peperangan. Kami mendengar beliau SAW bersabda, ‘Neraka diharamkan atas mata yang mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah. Neraka diharamkan atas mata yang tidak tidur di jalan Allah.’” Abu Rahainah berkata, “Aku lupa yang ketiganya. Tapi setelahnya aku mendengar beliau bersabda, ‘Neraka diharamkan atas mata yang berpaling dari segala yang diharamkan Allah.’” ( HR. Ahmad, Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, disetujui oleh Adz-Dzahabi dan An-Nasai).

Takut dan menangis karena Allah SWT akan melapangkan hati kita dan menjadikan jiwa kita tenang, serta menjauhkan kita dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT. Muslimah…jaga hubungan kita dengan Allah, melalui ibadah-ibadah dan dzikir kita..

  1. Tutup aurat, dan hiasilah diri dengan rasa malu serta akhlak mulia                 An-Nuur :31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.

Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.                                                                                                                 

Al-Ahzab :59

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan mu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulur kan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang….

Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.

Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Malu Adalah Cabang Keimanan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”[5]

  1. Sabar dan ikhlas terhadap segala ketentuan Allah SWT

Keharusan bagi seorang muslim untuk selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Di antara tanda seorang seorang muslim berbaik sangka pada Allah SWT adalah mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan dan pertolongan Allah SWT dalam setiap menemui ujian. Allah SWT memuji orang yang mengharapkan perkara-perkara tersebut seperti halnya Allah SWT memberikan pujian bagi orang yang takut pada Allah SWT.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 218).

Dengan senantiasa mengharapkan dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah SWT akan memberi energi positif pada diri kita karena setiap masalah pasti ada solusinya.

Sabar terhadap cobaan dan ridha terhadap ketentuan Allah SWT akan menuntun kita pada sikap konsisten untuk selalu berpegang teguh pada Kitabullah, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan. Sabar seperti inilah yang akan semakin menambah kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (TQS. Al-Baqarah[2]:155-157).

Wanita, jadikanlah dirimu tangguh dengan terus menerus belajar ikhlas untuk selalu mengharap ridla-Nya, karena saat kamu mampu bersifat ikhlas maka sudah tentu Allah akan selalu memberimu rahmat dan hidayah-Nya agar dirimu tetap dalam kebaikan-Nya.

  1. Teruslah belajar dan luaskan wawasan kita. Datangilah majelis-majelis ilmu,..

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan/ilmu agama.” (Muttafaq ‘alaih)”

Belajar dari siroh,.. Rasulullah, ummul mukminin, dan para sahabiyah..Khadijah ra, aisyah ra, fatimah az zahra, asma binti abu bakar, dll… yang bisa kita jadikan teladan dlm hidup

  1. Pilihlah teman dan lingkungan yang baik

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119).

Berteman dengan Pemilik Minyak Misk

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Dan karena untuk menjadi baik, dan istiqomah dalam kebaikan, dibutuhkan teman, dibutuhkan jamaah.

  1. Manfaatkan waktu dengan optimal, dan berperanlah.

Manfaatkan waktu dan umur yang diberikan Allah ini untuk kebaikan. Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata “ Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yag batil”.

Teknologi seperti pisau bermata dua. Kedua sisinya menawarkan manfaat atau mudharat, tergantung si penggunanya. Teknologi, gadget harus dimaknai sebagai peluang untuk ‘melejit’ sekaligus pemberat tabungan di hari penghitungan, kelak. Manfaatkan untuk hal yang positif.Mulailah mengambil peran di lingkungan sekitar kita, isi hari dengan mengumpulkan bekal untuk akhirat kita nanti.                                                                                                                                     Al Hasyr: 18 :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Wahai muslimah, jadilah muslimah yang tangguh,

Yang menjadikan ridho dan surga Allah satu-satunya tujuan

Yang menjadikan Allah satu-satunya sandaran

Yang menjadikan malu dan akhlakul karimah sebagai perhiasan

 

Yang tidak hanyut oleh hiruk pikuk dunia,

Yang menjadikan shalat dan sabar penolong pertamanya

Yang tidak membiarkan rayuan laki-laki bukan mahram mengganggu hari dan hatinya

Yang mengisi hari-harinya dengan taat dan takwa….

 

**Anita Indrasari, ST., M.Sc**

Pengurus Salimah Surakarta

 

“Menjadi Menantu Idaman”

Bunda sholihah ketika dulu kita menikah dengan suami tentu kita sudah mempertimbangkan segala sesuatunya pasca menikah.
Kita akan menyiapkan diri kita dengan menyesuaikan diri dengan kondisi suami, termasuk juga kondisi mertua kita. Sekarang mari kita evaluasi sejauh mana diri kita menjadi menantu yang diidamkan oleh mertua , menantu kesayangan mertua . Apakah kita sudah mendapatkan gelar itu?
Jika sudah Alhamdulillah. Istri yang disayang oleh mertuanya pastilah istri yang disayang oleh suaminya. Suami akan merasa sangat bahagia apabila melihat keharmonisan hubungan antara istrinya dan ibunya. Dia akan merasa bersyukur sekaligus bangga karena tidak salah memilih istri. Semoga kita termasuk di dalamnya. amin.

Untuk menjadi menantu idaman tentu harus di upayakan, bukan ditunggu.
Sebagai konselor keluarga saya banyak mendapati menantu yang mempunyai hubungan kurang baik dengan mertuanya. Menantu yang merasa tidak nyaman berada di dekat mertuanya atau bahkan menantu yang tertekan dengan sikap mertuanya.

Tidak ada kata terlambat semua bisa diperbaiki .
Mulailah dari niatan yang tulus untuk bisa hidup harmonis dengan mertua. Kita sudah menikah dengan anaknya, tentu kita harus bersyukur kepada beliau karena lewat beliaulah kita mendapatkan suami yang sekarang . Beliaulah yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik membiayai dengan segala perjuangannya debagai ibu.
Dan akhirnya setelah dewasa , anaknya meninggalkan ibunya untuk bersanding dan hidup bersama dengan kita. Maka kuatkan niat kita untuk turut serta berbakti kepada mertua sebagaimana kita berbakti kepada orang tua kita sendiri.

Berikut beberapa tips agar kita menjadi menantu idaman mertua

Pertama , dapatkan ridho dan restu mertua. Pastikan bahwa kehadiran kita di keluarga besar suami diterima dengan baik terutama oleh mertua. Bagaimanapun orang tua akan berat berpisah dengan anak laki-lakinya untuk bersanding dengan perempuan yang belum banyak dikenalnya, yaitu kita. Untuk itu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan kita harus mendapatkan an ridho dan restu orang tua. Karena jika laki-laki dan perempuan nekat menikah tanpa ada restu dari orang tua maka sudah hampir pasti kehidupan rumah tangganya akan penuh dengan masalah.
Bagaimana jika kita sudah terlanjur menikah tetapi ridho orang tua belum turun ? Upayakan semaksimal mungkin agar kita mendapatkan restu tersebut. Selalu ada jalan selama kita mau berusaha. Usahakanlah untuk menempatkan mertua sama seperti orangtua kita sendiri. Ini adalah cara yang mudah untuk mendapatkan Ridho orang tua

Kedua, Pahamilah karakter beliau segeralah menyesuaikan diri dengan karakter mertua banyaklah bertanya kepada suami bagaimana agar beliau Ridho kepada kita. Jangan menuntut orang tua untuk menyesuaikan dengan diri kita dan minta dia memahami kita. Justru sebaliknya kitalah yang harus pintar-pintar menyesuaikan diri dengan karakter mertua. Banyaklah bertanya kepada suami bagaimana cara agar kita bisa segera menyesuaikan diri dengan karakternya. Sesulit apapun karakter manusia pasti bisa akan ditaklukan nama cara kita tempat.

Ketiga, fahamilah apa yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan mertua. Kemudian upayakan untuk melakukan apa yang disukai mertua dan jangan lakukan apa yang tidak disukai oleh mertua. Hal ini termasuk cara berbicara, cara menata rumah, sampai selera makan.
Dapatkan perhatian orang tua dan kelembutan hatinya dengan memberikan makanan kesukaan mertua. Sesekali juga penting mengirimkan apa yang dibutuhkan beliau sesuai dengan kemampuan kita. Berinisiatiflah. Jangan menunggu suami. Justru ketika kita yang mengambil inisiatif dampak psikologisnya akan lebih mengena apabila ide itu berasal dari kita.

Keempat, berbaik hatilah juga kepada para ipar. Jaga komunikasi baik dengan mereka. Anggaplah mereka seperti saudara sendiri. Akan sangat baik apabila kita memberikan sekedar makanan atau bahkan hadiah pada saat-saat tertentu. Selain akan mempererat hubungan kita dengan para ipar, ini juga sekaligus akan mendatangkan rasa cinta dari mertua untuk kita.

Demikian Bunda beberapa tips agar kita menjadi menantu idaman mertua
Ayo terus semangat …ayo lebih baik lagi

Farida nur aini
Sie pendidikan Salimah Surakarta

Persiapan Pernikahan

PERNIKAHAN seperti yang disampaikan Cahyadi Takariawan “Pernik-pernik Rumah Tangga Islami”  berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dan bukan mempertentangkannya. Menikah adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. Fitrah artinya pernikahan merupakan salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan (yakni kecenderungan terhadap lawan jenis). Fiqhiyah artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih yang jelas (dari proses pembentukan keluarga, setelah terbentuknya keluarga, permasalahan dan solusinya). Dakwah artinya pernikahan merupakan pengkabaran tentang jati diri Islam kepada masyarakat. Tarbiyah artinya dengan pernikahan, akan menguatkan sisi-sisi kebaikan individual dari laki-laki dan perempuan yang menikah tersebut, jadi bareng-bareng gitu. Sosial artinya dengan pernikahan, terhubungkanlah 2 keluarga besar pihak laki-laki dan perempuan. Budaya artinya dengan pernikahan, terbaurkanlah 2 latar budaya yang tidak mesti sama dari kedua belah pihak

KESIAPAN adalah perpaduan harmonis antara pekerjaan akal, hati dan anggota tubuh. Tidaklah seseorang dikatakan siap melakukan sesuatu sebelum akal, hati, dan anggota tubuhnya menyatakan kesangggupan.

Hadits-hadits Rasulullah:

“Apabila seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya, maka hendakalah ia menjaga separuh yang lain dengan bertaqwa kepada Allah”

“Menikah adalah sunnahku, maka barangsiapa tidak suka dengan sunnahku, ia bukan termasuk golonganku.”

“Menikahlah, karena akau akan membanggakan jumlahmu yang banyak di hari akhir nanti.”

“Wahai para pemuda, barangsiapa telah mampu di antara kalian, hendaklah melaksanakan pernikahan, karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (kehormatan).”

“Carilah kekayaan dan rizki melalui pernikahan”

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS An Nuur 24:32)

Di jalan dakwah hendaknya kita menikah. Jalan para nabi dan syuhada, jalan orang-orang shalih, jalan para ahli syurga. Jalan ini menawarkan kelurusan orientasi, bahwa pernikahan adalah ibadah.
Bahwa berkeluarga adalah salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi Allah SWT.

Bahagia itu adalah kosakata ruhani, dengan demikian sesungguhnya ia tak akan dicapai dengan jalan materi. Ia hanya dicapai dengan jalan ruhani. Materi tak akan pernah bisa memuaskan nafsu manusia, berapapun banyaknya. Kebahagiaan itu letaknya di hati yang mampu mensyukuri seluruh nikmat yang Allah berikan. Pada jiwa yang senantiasa mendambakan keridhaan Allah, pada pikiran yang senantiasa tersibghah dalam kebenaran. Kebahagiaan itu bersumber dari: keimanan yang mendalam, ketundukan yang tulus atas ketentuan Allah, kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Nya.

PERSIAPAN DIRI MENJELANG PERNIKAHAN

1.Persiapan MORAL & SPIRITUAL

Artinya: mantapnya niat. Siap dengan segala konsekuensi dan resiko. Persiapan moral dengan: (1) meningkatkan  pengetahuan agama, (2) perbaikan diri secara kontinyu, (3) jadikan diri cinta beramal shalih dan ihsan. Sedangkan secara spiritual: (1) meningkatkan ibadah wajib dan sunnah, (2) berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dan kemantapan hati, dan (3) istighfar, mohon ampun, taubat

2.Persiapan KONSEPSIONAL

Artinya: menguasai hukum etika, aturan dan pernik-pernik pernikahan serta rumah tangga. Cara mempersiapkannya dengan banyak belajar, pembekalan pernikahan, belajar tentang fiqh yang berkaitan dengan kerumahtanggaan seperti fiqh thaharah, fiqh berhubungan suami istri, pengasuhan anak, dll.

3.Persiapan FISIK

Artinya: sehat jasmani, rajin olahraga, sehat dan bugar. Caranya; hidup teratur, makan seimbang dan bergizi, cukup istirahat, olahraga teratur. Perempuan menyiapkan rahimnya untuk melahirkan bayi-bayi sehat, jangan banyak makan makanan instan. Ayah dan ibu yang sehat bisa membersamai tumbuh kembang anaknya hingga dewasa.

4.Persiapan MATERIAL

Materi merupakan salah satu sarana ibadah kepada Allah. Kesiapan pihak laki-laki untuk menafkahi dan kesiapan pihak perempuan untuk mengelola keuangan keluarga. Setiap muslim hendaknya memiliki optimisme tinggi untuk bisa mendapatkan karunia dari Allah berupa rizki. Sepanjang mereka mau berusaha, melakukan sesuatu untuk kehidupan, jalan-jalan kemudahan itu akan datang. Yang penting adalah etos kerja dari pihak laki-laki untuk berusaha mencari nafkah dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.

5.Persiapan SOSIAL

Artinya: membiasakan diri terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Istri telah menjadi tanggung jawab suami sehingga harus menjaga izzah/harga diri suami dalam bersosialisasi. Berbaur dengan masyarakat tapi tidak lebur, mempunyai prinsip-prinsip Islam yang tetap harus dijaga. Dakwah masyarakat dengan berkontribusi terlibat. (End)

Materi ini disampaikan oleh Ketua Salimah Surakarta, Rianna Wati SS MA pada program on air “Salimah On Radio” bekerjasama dengan RDS FM. Program ini mengudara setiap hari Ahad, jam 07.30 WIB.