Tips Rihlah agar Berkah

Selepas rutinitas duniawi yang melelahkan, alternatif aktivitas yang paling asyik adalah rihlah. Apalagi rihlah dilakukan dengan keluarga. Selain memperbaiki komunikasi juga mencari inspirasi sebagai motivasi diri dengan lebih dekat dengan alam.

Rihlah sesuai sunnah yang bisa dilakukan secara berjamaah antara lain berenang, berkuda dan memanah. Sebagai muslimah kegiatan tersebut membekali kita dalam konsentrasi, fisik yang kuat dan strategi dalam menghadapi gejolak duniawi.

Ada sedikit tips yang bisa dicoba untuk kalian para muslimah kala melakukan rihlah :

  1. Pastikan sehat jasmani dan rohani termasuk kesehatan kantong. Jangan sampai selepas rihlah jadi pusing karena mikir hutang.
  2. Perhatikan lokasi rihlah mau ke gunung, main air atau ke pantai disesuaikan donk dengan barang bawaan dan kebutuhan yang diperlukan sesuai tujuan seperti baju ganti dan perlengkapan sholat.
  3. Keperluan seperti charger, powerbank atau batu cadangan untuk kamera pastikan terbawa.
  4. Bawa makanan ringan sebagai teman dalam perjalanan kesukaan keluarga dan air putih tentunya.
  5. Obat-obat ringan jangan lupa dibawa seperti minyak angin, koyo, dan lain sebagainya.
  6. Tetep memperhatikan rambu lalu lintas.
  7. Jangan buang sampah sembarangan ditempat rihlah semisal tidak tersedia tong sampah, sediakan kantong plastik untuk menampungnya.
  8. Jangan rusak atau dengan sengaja memetik tanaman di lokasi rihlah cukup diabadikan dalam bentuk gambar .
  9. Tetep jaga akhlak sebagai muslimah dengan tetep murojaah biar lebih berkah.

SELAMAT MENIKMATI DENGAN SENYUM DAN HATI BAHAGIA KARENA ALLAH SUDAH MEMPERJALANKAN DI ATAS BUMINYA 😊

**Nur Hidayah**

Pengurus Salimah Surakarta

Sambut Ramadan, Muslimah Solo Kampanyekan Pola Makan Sehat

Dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan 1440 H, Ormas Persaudaraan Muslimah (Salimah) bekerja sama dengan Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Surakarta menggelar kampanye sambut Ramadan di area CFD Solo, Ahad (28/4). Bertempat di depan Halte Timuran, sejumlah muslimah yang mengenakan kostum tradisional khas Solo, yakni kebaya dan jarik, tampak menyapa pengunjung.
Mereka juga menjajakan makanan kepada pengunjung CFD yang menyempatkan mampir ke booth. Makanan yang dibagikan secara gratis tersebut meliputi lenjongan, snack khas Solo, dan aneka makanan pokok pengganti nasi seperti jagung, singkong, ubi, dan kacang. Yang menarik, makanan tersebut dibawakan dalam tenggok dan tampah, wadah makanan dari anyaman bambu.


Ketua Pengurus Daerah (PD) Salimah Surakarta Rianna Wati, SS. MA, mengatakan Salimah ingin menjadikan momentum Ramadan ini sekaligus sebagai aksi mengampanyekan pola hidup sehat. Salah satunya dengan cara mengajak masyarakat mengganti makanan pokoknya dengan selain nasi. “Hal ini terkait dengan dukungan Salimah pada program ketahanan pangan pemerintah dengan memberikan sosialisasi pengganti makanan pokok selain nasi,” kata dia.


Untuk memberikan edukasi tentang tema di atas, acara pagi ini juga diisi dengan langsung berbincang dengan pengunjung CFD tentang sehat memasuki ramadhan. “Muslimah mengemban fitrah sebagai ibu yang bertugas menerapkan pola hidup sehat di keluarga sehingga menjadi keluarga yang kokoh dan berkualitas. Melalui acara ini kita ingin membangun kesadaran para muslimah melalui edukasi yang kita berikan dalam orasi tersebut. Pesan dari muslimah untuk perempuan Solo pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” terang Rian.
Panitia juga membagikan jadwal imsakiyah kepada pengunjung CFD. Hal ini dilakukan agar masyarakat menyadari Ramadan akan segera datang dan dapat mempersiapkan Ramadan lebih baik lagi.

Surakarta, 28 April 2019
Humas Salimah Solo

Intan Nurlaili

Bagaimana Menjadi Muslimah Yang Punya Inner dan Outer Healthy?

  1. INNER HEALTHY

Makna sehat dari dalam (inner healthy) mencakup 3 hal yaitu: sehat fisik (jasadiyah/physically), sehat mental (ruhiyah/mentally) sehat pemikiran (mind set/fikriyah).

  1. Fisik(Phisically)

Orang yang sehat secara fisik dari dalam berarti fisiknya tidak menderita penyakit dan terpenuhi asupan gizi atau nutrisi. Gizi atau Nutrisi adalah substansi organic yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari system tubuh, pertumbuhan pemeliharaan kesehatan (Wikipedia).

Bagaimana cara agar fisik sehat dari dalam?

  • Menerapkan pola makan yang teratur dan seimbang. Teratur dalam jadwal dan seimbang secara nutrisi.
  • Utamakan makanan yang sehat meski sedikit lebih mahal ketimbang sekedar enak dan murah.
  • Hindari makanan yang mengandung pengawet, penyedap rasa, dan pewarna makanan yang berlebihan.
  • Olahlah daging dan telor hingga matang. Hindari makanan dari olahan daging dan telor yang setengah matang. Hal ini agar terhindar dari banyak penyakit akibat kuman dan cacing yang kemungkinan masih hidup pada makanan yang setengah matang.
  • Mengutamakan mengolah makanan dengan dikukus atau direbus daripada digoreng maupun dibakar.
  • Cuci bersih sayuran dan buah yang hendak dimakan atau diolah. Sayuran dan buah yang tidak bersih mengandung bakteri salmonella yang membahayakan tubuh.
  • Hindari makanan yang mengandung lemak jahat yang bias mengakibatkan kolesterol meningkat dan berat badan meningkat juga.
  1. Kejiwaan(Mentally/Ruhiyah)

Orang yang sehat secara kejiwaan berarti jiwanya dipenuhi oleh keimanan kepada Allah SWT, tidak ada gangguan jiwa, mampu membedakan yang baik dan buruk atau benar dan salah, serta optimis dalam menjalani kehidupan.

Nutrisi ruhiyah adalah ibadah kita kepada Allah. Dan, bukankah misi hidup manusia dan jin tak lain dan tak bukan hanyalah untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Bagaimana memperoleh ruhiyah yang sehat?

  • Ruhiyah yang sehat dimulai dengan pendekatan yang intensif dengan sang pemilik ruh, yaitu Allah SWT. Untuk itu, kita harus mendekatkan diri kepada Allah dengan sarana ibadah, seperti sholat sunah, puasa sunah, tilawah Al Quran, berdzikir, dan sebagainya. Allah berfirman:”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.
  • Ruhiyah akan menjadi sehat jika kita sering siram dengan nasihat dan ilmu yang mencerahkan. Nasihat dari orang-orang salih, baik ulama, pemimpin, maupun saudara dalam islam. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk bergaul dan mencari teman orang-orang yang sholih.

Rasulullah saw, bersabda: “seseorang yang duduk (berteman) dengan orang yang salih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan seorang pandai besi. Jika engaku tidak dihadiahkan minyak misk oelhnya, engkau bias membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak”

(HR. Bukhari no.2101, dari Abu Musa).

  • Ruhiyah akan menjadi sehat apabila kita jauh dari maksiat. Hal ini karena maksiat akan membuat jiwa kotor. Kita ibaratkan seperti cermin yang kotor. Kotoran pada jermin adalah maksiat yang kita lakukan. Semakin banyak kotoran yang menempel maka semakin tidak berfungsi cermin tersebut karena tidak dapat memantulkan bayangan yang berada di dekatnya. Maka, maksiat akan meyebabkan hati kotor. Hati yang kotor menyebabkan ruhiyah tidak sehat. Ruhiyah yang sehat adalah pengendali diri untuk membedakan perilaku yang baik atau tidak dan merupakansumber kekuatan untuk tetap pada jalan kebenaran.
  • Ruhiyah akan menjadi sehat jika kita senantiasa sadar bahwa Allah selalu melihat kita (muroqobatulloh). Kesadaran seperti inilah yang akan membimbing kita untuk melakukan segala sesuatu dengan cara yang terbaik. Baik itu yang berkaitan dengan hablu minnallah ataupun hablu minannaas. Baik itu yang berupa perintah maupun larangan Allah. Maka, kita akan berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah maupun manusia.
  • Ruhiyah yang sehat akan diperoleh apabila kita banyak mengingat mati dan mengurangi tertawa. Mengapa? Karena dengan mengingat mati, hati kita akan menjadi lembut dan mudah menerima kebenaran. Sedangkan banyak tertawa akan membuat hati kita keras dan sulit menerima kebenaran. Tertawa tidak dilarang tetapi jangan berlebihan.
  • Terakhir, sering mengingat nikmat Allah akan menyehatkan ruhiyah. Nikmat Allah yang dikaruniakankepada kita sungguh tidak terbatas jumlahnya. Kesadaran bahwa segala nikmat yang datang melalui makhluk Allah adalah berasal dari Allah dan tidak ada sekutu bagi-nya. Hal ini akan menjadikanruhiyah kita sehat, dipenuhi rasa syukur kepada Allah tanpa melupakan rasa syukur kepada makhluk-Nya. Ruhiyah yang selalu optimis dengan karunia Allah dan terbebas dari belenggu manusia.
  1. Pola Pikir(Mind set)

Pola pikir yang sehat diperoleh dari hati yang bersih dan pengetahuan yang baik. Orang yang terbebas dari segala penyakit hati akan mempunyai pola pikir yang sehat. Contoh penyakit hati: riya, sombong, iri, dengki, tidak mau menerima nasihat, suudzon dll.

Bagaimana agar pola pikir kita sehat?

  • Membersihakan hati dari segala penyakit hati sehingga pikiran pun juga bersih
  • Mengisi hati dan pikiran dengan hal-hal yang positif
  • Membiasakan/memaksakan diri untuk berpikir positif
  1. OUTER HEALTHY
  2. Penampilan (Performance)

Mungkin kita berpikir apalah arti sebuah penampilan. Penampilan memang tidak menjamin kualitas diri seseorang. Namun, tidak dipungkiri bahwa penampilan lah yang akan pertama kali tampak dan dinilai oleh orang lain. Terkadang bukan masalah usia yang membuat orang kelihatan lebih tua atau lebih muda dari umurnya, tapi mungkin karena cara merawat diri dan cara berpenampilan. Maka, tidak salah jika kita memperhatikan penampilan diri kita.

Adalah Abdullah bin Masúd menceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: “Sesungguhnya seseorang suka pakainnya bagus dan sandalnya bagus.” Maka Nabi saw bersabda,”sesungguhnya Allah mencintai keindahan.” (HR Muslim).

Hadits di atas menerangkan bahwa Allah mencintai keindahan. Maka, hamba-Nya yang berusaha berpenampilan indah juga tentu disukai Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, ada hadits yang menceritakan tentang seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah dengan muka kusut dan rambut dan jenggot yang acak-acakan, maka Rasulullah saw menyuruhnya pergi untuk merapikannya. Begitu sudah rapi, Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu keluar dengan rambut yang acak-acakan seperti rambut setan.”

Seorang muslimah, tentunya, jika keluar rumah akan menutup auratnya, berkerudung. Jika rambut acak-acakan, siapa yang tahu? Hanya dirinya dan Allah yang tahu..he..he..meski tidak diketahui orang lain maka sebaiknya juga seorang muslimah menjaga kerapian diri. Jangan samapi bagus tampak luar tapi berantakan di dalam. Lagi pula, tidak nyaman kan.

Dalam beberapa hadits lain disebutkan bahwa muslimah diperbolehkan berhias dengan beberapa hal, yaitu pakaian yang indah (kain sutera), wewangian yang tidak mencolok, perona pipi (humroh), menghias wajah dengan warna keputih-putihan/bedak (isfidai), bercelak, memakai inai/pacar, dan memakai perhiasan gelang/cincin/kalung.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak beberapa hadits berikut ini.

Dari Ummu Athiyah,”kami dilarang berkabung untuk mayat lebih dari tiga hari, kecuali atas suami selama empat bulan sepuluh hari. Kami tidak boleh bercelak, memakai wewangian, dan memakai pakaian yang bercelup” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ungkapan pada hadits di atas menunjukan pada kebolehan menggunakan celak, wewangian, dan pakaian yang bercelup pada kondisi di luar masa berkabung.

Aisyah berkata bahwa seorang perempuan menyodorkan tangannya kepada Nabi saw dengan sebuah kitab, lalu berkata,”Aku menyodorkan tanganku dengan sebuah kitab, tetapi engkau tidak mengambilnya.”Beliau menjawab,” aku tidak tahu apakah itu tangan perempuan atau laki-laki? Dia menjawab,”Tangan perempuan.”Sabda Nabi,”jika engkau seorang perempuan, tentu engkau akan mengubah warna kukumu dengan inai”(HR Nasaí)

Hadits di atas menggambarkan dibolehkannya memakai inai, bahkan dianjurkan. Asma’ binti Yazid menceritakan bahwa dia dan bibinya mengenakan gelang emas. Beliau bertanya, “Apakah kamu sudah mengeluarkan zakatnya?”Belum,”jawabnya. Beliau bersabda,”Apakah kamu tidak takut Allah akan memakaikan kepadamu gelang-gelang dari neraka? Keluarkanlah zakatnya!”(HR.Ahmad).

Hadits di atas menggambarkan kebolehan memakai perhiasan gelang dan semacamnya, namun harus dikeluarkan zakat apabila mencapai nisabnya.

“sesungguhnya pakaian sutera dan emas diharamkan atas kaum laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi kaum perempuan.” (HR. Tirmidzi)

Hadits di atas menjelaskan tentang kebolehan memakai sutera dan emas bagi kaum perempuan.

Aisyah menceritakan,”Kami keluar bersama Rasulullah saw. Ke Makkah. Kami ikatkan pada dahi kami pembalut yang diberi wewangian ketika berikhram. Apabila salah satu dari kami berkeringat dan mengalir di wajahnya lalu Nabi melihatnya, maka beliau tidak melarang”(HR.Abu Dawud).

Hadits di atas menggambarkan kebolehan memakai wangi-wangian pada pakaian asalkan tidak berlebihan.

Jadi, muslimah diperbolehkan berhias asalkan sesuai syariat dan tidak berlebihan. Begitupun dalam hal memakai perhiasan berupa pakaian dan kerudung, muslimah boleh memilih model maupun warna sesuai selera, asalkan memperhatikan kaidah sebagai berikut:

  1. Menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.

Berkaitan dengan hal ini, Abu Dawud meriwayatkan hadits Nabi saw. sebagai berikut: “Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa tidak layak kelihatan darinya, kecuali ini dan ini (sembari beliau menunjuk wajah dan telapak tangan beliau,” (HR.Abu Dawud)

Pendapat tentang perempuan harus menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan ini juga disepakati oleh para ulama terdahulu seperti dalam fikih Madzab Hanafi dan Zhahiri (Kitab Al Muhala karya Ibnu Hazm.

Bahkan, seorang ulama salafi yang bernama Syaih Nasiruddin Al Albani, dalam kitab Ar-Rad Al Mufhi, mengatakan,” orang-orang yang mewajibkan para perempuan menutup wajah dan kedua telapak tangan tidak beradasar kepada Al Qur’an dan Sunnah maupun ijma ulama.”

Albani juga menambahkan, bahwa mereka yang mewajibkan cadar bagi muslimah sebagi “berdalil dengan hadits-hadits dhaif, atsar-atsar lemah, serta atsar-atsar palsu yang mereka ketahui, atau mungkin tidak mereka ketahui.

Beliau juga mengatakan, “ Saya berkeyakinan bahwa sikap berlebih-lebihan terhadap urusan wajah perempuan itu tidak mungkin bias mencetak generasi perempuan di tiap-tiap negerinya yang mampu mengemban tugas yang tergantung pada leher mereka.”

“Perempuan-perempuan seperti itu juga tidak akan mampu bertindak secara luwes dan tangkas di saat keadaan membutuhkan. Dari berbagai hadits, kita bias mengetahui bahwa perempuan di zaman Rasulullah ikut menyuguhkan makan dan minum untuk para tamu, ikut berperang dengan memberi minum bagi mereka yang kehausan, memberi makan bagi mereka yang kelaparan, dan mengevakuasi mereka yang terbunuh. Terkadang perempuan sendiri ikut berberang saat kondisi mengharuskan.”

“Mungkinkah perempuan-perempuan yang memakai cadar dan kaos tangan mampu melakukan kegiatan dan tugas semacam itu?”Lanjut Albani,”Sunnguh tidak mungkin. Kegiatan dan tuigas-tugas semacam itu hanya bias dilakukan tatkala para perempuan membuka wajah dan telapak tangan mereka.”

Dalam hal pakaian dan perhiasan, Abu Syuqoh dalam buku berjudul Kebebasan Wanita Jilid I halaman 31, memberikan rambu-rambu sebagai berikut:

  1. Membuka wajah sudah umum dilakukan pada zaman Nabi saw. Kondisi seperti ini merupakan kondisi awalnya. Adapun memakai cadar, sehingga yang terlihat hanya bola mata, merupkan salah satu tradisi atau mode/cara berdandan yang menjadi trend pada sebagian wanita sebelum dan sesudah kedatangan Islam.
  2. Berdandan secara wajar pada muka, kedua telapak tangan, dan pakaian diperbolehkan agama dalam batas-batas yang pantas dilakukan oleh seorang wanita mukminat.
  3. Tidak pernah diwajibkan mengikuti satu mode tertentu dalam berpakaian. Yang diwajibkan adalah menutupi badan. Tidaklah berdoas mengikuti beberapa mode sesuai dengan kondisi cuaca dan lingkungan social.
  4. Kriteria-kriteria di atas membantu wanita untuk lebih bebas bergerak dan memudahkannya dalam mengikuti kegiatan social.
  5. Menggunakan kain yang tidak tembus pandang.
  6. Lonngar dan tidak sempit.
  7. Tidak menyerupai laki-laki.
  8. Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
  9. Memperhatikan keindahan dan kepantasan secara wajar.
  10. Kepribadian (Personality)
  11. Salimul Akidah (Akidah yang bersih)
  12. Shahihul ibadah(ibadah yang benar)
  13. Matinul khuluk (akhlak yang kokoh)
  14. Qowwiyul Jismi (Kekuatan jasmani)
  15. Mutsaqoful Fikri (intelek dalam berpikir)
  16. Mujahadatun linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
  17. Harishun ‘ala waqtihi (pandai menjaga waktu)
  18. Munazhzhamun fi syuúnihi (teratur dalam suatu urusan)
  19. Qodirun ‘ala kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri atau mandiri finansial)
  20. Naafi’un lighoirihi (Bermanfaat bagi orang lain)
  21. Kecerdasan dan Kreativitas (Intellegency and Creativity)
  22. Brightly intelligence
  • S Al Mujadillah ayat 11: “…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
  • Utlubul ‘Ilma walau bissin” artinya tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Chia
  • Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin” artinya menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim
  • Bagaimana agar muslimah cerdas akalnya:
  • suka membaca
  • suka menuntut ilmu

ilmu diniyah maupun ilmu umum

  • spesialis dalam satu ilmu dan berwawasan global

Agar mampu menjawab berbagai persoalan yang berkaitan dengan bidang keahliannya dan menjadi referensi orang banyak terkait dengan keahliannya

  • prioritas investasi ilmu.

Mengalokasikan dana untuk membeli buku, mengikuti training, seminar dll.

  1. Creativity
  • Orang yang kreatif akan mampu mengubah hambatan menjadi peluang, ancaman menjadi kekuatan, dan kekuatan dapat dilipat gandakan.
  • Steve Job
  • Abdurrahman bin Auf adalah seorang sahabat nabi saw. yang terkenal sebagai pengusaha yang kaya raya. Saat hijrah di Madinah, semua hartanya dia tinggal di Makkah. Sesampainya di Makkah, dia menolak tawaran saudara angkatnya yang akan memberikan harta. Dia hanya minta ditunjukan pasar. Dan di pasar itulah, Abdurrahman bin Auf memakai kreativitasnya untuk berdagang. Tidak butuh waktu yang lama, beliau kembali menjadi pengusaha.
  • Salman Al Farisi adalah sahabat nabi yang berasal dari Persia. Saat Madinah dikepung oleh tentara yang bersekutu ( tentara musyrik dari Makkah dan Madinah, juga orang-orang Yahudi di Madinah). Saat itu, tampillah Salman Al Farisi memberikan konsep kepada Rasulullah saw. agar membuat parit mengelilingi Kota Madinah untuk menghalangi musuh menyerang kota. Konsep parit saat itu belum familiar di kalangan orang Arab. Dan dari ide parit inilah, maka perang itu dinamakan Perang Khandaq (Perang Parit)
  • Umar bin Khatab, penggagas Terusan Zues. Terusan Zues adalah terusan yang menghubungkan antara Benua Afrika dan Asia yang letaknya di dekat Mesir. Jika melihat sejarah, terusan suez itu ditemukan oleh orang Barat tetapi sesungguhnya ide untuk menghubungkan sudah di mulai sejak Umar bin Khatab dan dietruskan oleh para pemimpin muslim
  • Zainab binti Jahsy. Beliau adalah muslimah yang suka bekerja, tidak mau nganggur, dan suka sekali bersedekah. Padahal, dengan gelar ummul mukminin dan istri Nabi saw., beliau tidak perlu bekerja. Tapi beliau memilih bekeraja. Belaiu banyak membuat kerajinan tangan seperti anyaman, lalu menjualnya di pasar. Dan hasil penjualannya beliau sedekahkan kepada orang-orang miskin. Hingga Nabi saw. menggelari beliau sebagai istri paling panjang tangannya, artinya paling banyak sedekahnya.

Wallahu ‘alam bi showab.

*Materi siaran RDS oleh Ari Purwani, pada Ahad 11 Februari2018, Solo Jawa Tengah

Persiapan Pernikahan

PERNIKAHAN seperti yang disampaikan Cahyadi Takariawan “Pernik-pernik Rumah Tangga Islami”  berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dan bukan mempertentangkannya. Menikah adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. Fitrah artinya pernikahan merupakan salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan (yakni kecenderungan terhadap lawan jenis). Fiqhiyah artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih yang jelas (dari proses pembentukan keluarga, setelah terbentuknya keluarga, permasalahan dan solusinya). Dakwah artinya pernikahan merupakan pengkabaran tentang jati diri Islam kepada masyarakat. Tarbiyah artinya dengan pernikahan, akan menguatkan sisi-sisi kebaikan individual dari laki-laki dan perempuan yang menikah tersebut, jadi bareng-bareng gitu. Sosial artinya dengan pernikahan, terhubungkanlah 2 keluarga besar pihak laki-laki dan perempuan. Budaya artinya dengan pernikahan, terbaurkanlah 2 latar budaya yang tidak mesti sama dari kedua belah pihak

KESIAPAN adalah perpaduan harmonis antara pekerjaan akal, hati dan anggota tubuh. Tidaklah seseorang dikatakan siap melakukan sesuatu sebelum akal, hati, dan anggota tubuhnya menyatakan kesangggupan.

Hadits-hadits Rasulullah:

“Apabila seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya, maka hendakalah ia menjaga separuh yang lain dengan bertaqwa kepada Allah”

“Menikah adalah sunnahku, maka barangsiapa tidak suka dengan sunnahku, ia bukan termasuk golonganku.”

“Menikahlah, karena akau akan membanggakan jumlahmu yang banyak di hari akhir nanti.”

“Wahai para pemuda, barangsiapa telah mampu di antara kalian, hendaklah melaksanakan pernikahan, karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (kehormatan).”

“Carilah kekayaan dan rizki melalui pernikahan”

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS An Nuur 24:32)

Di jalan dakwah hendaknya kita menikah. Jalan para nabi dan syuhada, jalan orang-orang shalih, jalan para ahli syurga. Jalan ini menawarkan kelurusan orientasi, bahwa pernikahan adalah ibadah.
Bahwa berkeluarga adalah salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi Allah SWT.

Bahagia itu adalah kosakata ruhani, dengan demikian sesungguhnya ia tak akan dicapai dengan jalan materi. Ia hanya dicapai dengan jalan ruhani. Materi tak akan pernah bisa memuaskan nafsu manusia, berapapun banyaknya. Kebahagiaan itu letaknya di hati yang mampu mensyukuri seluruh nikmat yang Allah berikan. Pada jiwa yang senantiasa mendambakan keridhaan Allah, pada pikiran yang senantiasa tersibghah dalam kebenaran. Kebahagiaan itu bersumber dari: keimanan yang mendalam, ketundukan yang tulus atas ketentuan Allah, kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Nya.

PERSIAPAN DIRI MENJELANG PERNIKAHAN

1.Persiapan MORAL & SPIRITUAL

Artinya: mantapnya niat. Siap dengan segala konsekuensi dan resiko. Persiapan moral dengan: (1) meningkatkan  pengetahuan agama, (2) perbaikan diri secara kontinyu, (3) jadikan diri cinta beramal shalih dan ihsan. Sedangkan secara spiritual: (1) meningkatkan ibadah wajib dan sunnah, (2) berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dan kemantapan hati, dan (3) istighfar, mohon ampun, taubat

2.Persiapan KONSEPSIONAL

Artinya: menguasai hukum etika, aturan dan pernik-pernik pernikahan serta rumah tangga. Cara mempersiapkannya dengan banyak belajar, pembekalan pernikahan, belajar tentang fiqh yang berkaitan dengan kerumahtanggaan seperti fiqh thaharah, fiqh berhubungan suami istri, pengasuhan anak, dll.

3.Persiapan FISIK

Artinya: sehat jasmani, rajin olahraga, sehat dan bugar. Caranya; hidup teratur, makan seimbang dan bergizi, cukup istirahat, olahraga teratur. Perempuan menyiapkan rahimnya untuk melahirkan bayi-bayi sehat, jangan banyak makan makanan instan. Ayah dan ibu yang sehat bisa membersamai tumbuh kembang anaknya hingga dewasa.

4.Persiapan MATERIAL

Materi merupakan salah satu sarana ibadah kepada Allah. Kesiapan pihak laki-laki untuk menafkahi dan kesiapan pihak perempuan untuk mengelola keuangan keluarga. Setiap muslim hendaknya memiliki optimisme tinggi untuk bisa mendapatkan karunia dari Allah berupa rizki. Sepanjang mereka mau berusaha, melakukan sesuatu untuk kehidupan, jalan-jalan kemudahan itu akan datang. Yang penting adalah etos kerja dari pihak laki-laki untuk berusaha mencari nafkah dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.

5.Persiapan SOSIAL

Artinya: membiasakan diri terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Istri telah menjadi tanggung jawab suami sehingga harus menjaga izzah/harga diri suami dalam bersosialisasi. Berbaur dengan masyarakat tapi tidak lebur, mempunyai prinsip-prinsip Islam yang tetap harus dijaga. Dakwah masyarakat dengan berkontribusi terlibat. (End)

Materi ini disampaikan oleh Ketua Salimah Surakarta, Rianna Wati SS MA pada program on air “Salimah On Radio” bekerjasama dengan RDS FM. Program ini mengudara setiap hari Ahad, jam 07.30 WIB.