SALIMAH SURAKARTA LAKUKAN STUDI BANDING

Foto bersama pengurus Salimah Solo dan Sukoharjo di akhir acara studi banding

Solo, 15 Oktober 2017

Beberapa jajaran Pengurus Daerah (PD) Persaudaraan Muslimah (Salimah) Surakarta melakukan anjangsana dan studi banding ke pengurus Salimah Sukoharjo, Minggu, 15 Oktober 2017. Kegiatan tersebut dilakukan untuk belajar dari Salimah Sukoharjo dalam mengembangkan program untuk memberikan layanan yang semakin bermanfaat kepada masyarakat melalui kegiatan-kegiatan Salimah.

“Dalam kepengurusan periode kali ini, sebagian besar pengurus Salimah Surakarta adalah pengurus baru yang masih perlu banyak belajar tentang kegiatan-kegiatan khas Salimah. Untuk itulah kami melakukan studi banding ini,” kata Ketua Salimah Surakarta, Rianna Wati S,S. M,A.

Dipilihnya Salimah Sukoharjo sebagai lokasi tujuan studi banding kali ini menurut Rian karena di sukoharjo memiliki lembaga dan kegiatan yang sangat bagus. “Salimah sukoharjo sudah memiliki koperasi yang sangat berkembang, memiliki rumah tahfiz, griya yatim dan semua terkelola dengan baik. Untuk itulah kami memandang perlu untuk ngangsu kawruh ke sini,” jelas Rian.

Sementara itu, Salimah Sukoharjo menyambut studi banding tersebut dengan tangan terbuka. “Kami sangat senang mendapatkan kunjungan dari keluarga kami di Solo. Semoga dengan sarana bersilaturahmi ini bisa semakin menambah semangat kita untuk memberikan manfaat bagi ummat,” ujar Ketua Salimah Sukoharjo, Seti Rahayu, S.Pd.

Pada kesempatan tersebut Seti juga memberikan resep supaya tetap bersemangat dalam menjalankan kegiatan-kegiatan di Salimah. “Kuncinya adalah komitmen dan selalu memperbarui niat. Jika kita punya kemauan dan senantiasa meluruskan niat kita untuk mendapatkan ridha Alloh SWT, pasti selalu ada energi untuk berjuang dan bergerak,” kata Seti seraya memberikan motivasi kepada Salimah Solo bahwa ketika ada kemauan pasti ada jalan.

Setelah melakukan sharing, studi banding diakhiri dengan foto bersama dan saling memberikan cinderamata. (End)

Antara ilmu dan masalah

Motivasi Keluarga Sakinah Salimah Surakarta

edisi 4

Antara ilmu dan masalah

🌷Bunda sholehah, mempunyai keluarga yang tenang, bahagia dan penuh cinta menjadi harapan kita semua di awal menikah. Nah, sudah berapakah usia pernikahan kita? Sudahkah kita berhasil mewujudkan harapan itu? Apakah harapan itu akan tercapai seiring usia pernikahan?
Ternyata tidak. Ada yang usia pernikahan bisa dihitung dengan jari, namun rumahtangganya berjalan dengan baik. Masalah bisa di atasi dengan baik. Bertengkarpun paling hanya sekali dua kali dalam satu tahun. Namun ada juga yang usia pernikahan sudah puluhan tahun, tapi terus saja terjadi pertengkaran demi pertengkaran. Segala yang ada bisa menjadi bahan pertengkaran. Mulai dari kendaraan, hape, makan sampai hal-hal sepele. Handuk, jemuran, pakaian sampai sisir. Mengapa demikian?

🌷Bunda sholehah, sebenarnya kejadian dan pengalaman dalam rumahtangga siapapun sama saja. Cuma berbeda intensitasnya. Yang menjadikan keluarga tersebut menjadi harmonis dan tidak adalah penerapan ilmu berumahtangga. Ya. Penerapannya. Kalau hanya ilmu saja kita semua tentu faham cara berumahtangga yang baik. Berbakti dan taat kepada suami. Menyayangi dan mendidik anak-anak. Menjaga kesehatan keluarga, dan sebagainya.

🌷Menerapkan ilmu tentu tidak semudah teorinya. Misalnya dalam ketaatan pada suami. Sudahkah kita meniru perempuan pertama yang dijamin masuk surga, Muthiah? Dia benar-benar menjaga dirinya agar jangan sampai penampilan dan pelayanannya pada suami mengecewakan suami. Sampai-sampai dia menyediakan sendiri kayu kecil untuk suaminya agar digunakan untuk memukul dirinya jika ada yang tidak berkenan dari dirinya. Sudahkah kita menerapkan ilmu ketaatan yang sedemikian pada suami. Tentu, cara kita boleh berbeda. Namun subtansinya, pelayanan prima pada suami. Sudahkah kita melakukannya?

🌷Jika kita sudah bisa bersikap sebagaimana Muthiah, maka masalah rumahtangga akan mudah diselesaikan. Kepemimpinan ada pada suami. Istri taat dan mendukung, walau terkadang hati tak sejalan. Inilah perjuangan penerapan ilmu ‘taat pada suami.’ Berat di depan. Tapi bahagia di akhirnya.

🌷Mendidik anak menjadi tugas utama ibu. Ilmu parenting bertebaran dimana-mana. Bahwa ibu itu harus sabar mendidik anak. Sabar mengajari dan mengajak anak sholat berjamaah, sabar memberi contoh berakhlaq yang baik, sabar membenarkan sikapnya yang salah. Menjadi ibu itu harus tahu psikologis anak. Bagaimana menghadapi anak yang susah di atur, anak yang mogok sekolah, yang minta berbagai barang, ngambek tanpa alasan yang jelas dan berbagai masalah anak. Semua bisa di atasi dengan baik jika kita menerapkan ilmu parenting. Penerapan ini tentu tak semudah membalik telapak tangan. Disitulah indahnya perjuangan menjadi ibu. Ibu yang berhasil mendidik anaknya dengan baik, imbal baliknya suamipun akan semakin menyayanginya.

🌷Bunda sholehah, mari terus menerapkan ilmu kita. Karena Allah tidak membebani hambaNya melebihi kemampuannya. Kita pasti bisa mengatasi semua masalah dalam rumahtangga kita selama kita terus menerapkan ilmu rumahtangga kita. Perbesar terus ilmu kita maka masalah yang ada akan menjadi kecil.
Dan harapan menjadikan rumahtangga kita sakinah, mawaddah warahmah akan terwujud. InsyaAllah.

Farida Nur’Aini
Bidang Pendidikan dan Dakwah Salimah Surakarta

Reaksimu Penentumu

Motivasi Keluarga Sakinah Salimah Surakarta

Edisi 3

Reaksimu Penentumu

🌷Bunda sholehah, setiap kali kita menerima sebuah peristiwa pasti kita memberikan reaksi. Misalnya anak kita sulit dibangunkan. Maka aksi tersebut akan menimbulkan reaksi dari kita.

🌷Jika reaksi kita marah-marah maka berakibat :
– anak bangun dengan cemberut
– anak sholat subuh dengan malas karena masih membawa rasa tidak enak waktu dibangunkan
– hati kita jadi panas
– wajah kita gak enak dilihat
– anak yang lain ikut kena marah
– suami jadi tidak nyaman melihat kita
– pekerjaan jadi terburu-buru
Dan masih banyak lagi.

🌷Jika kita hadapi dengan. kesabaran, maka berakibat :
– wajah kita tetap enak dlilihat suami dan anak
– Anak bangun dengan nyaman
– sholat subuh dengan tenang
– hati tetap bahagia
– sekeluarga menyambut pagi dengan ceria
Dan masih banyak lagi efek baik selanjutnya.

🌷Bunda sholehah, reaksi kita akan menentukan aksi selanjutnya. Dan demikian terus menerus akan saling berkaitan dan bereaksi. Nah, kita sebagai ibu tentu harus bijaksana dalam memberikan reaksi dalam berbagai kondisi. Reaksi yang positip akan berdampak positip bagi fase kehidupan selanjutnya.
Maka, mari kita jaga dan kendalikan diri ketika memberikan reaksi.
Yuk, perhatikan beberapa poin berikut agar reaksi kita tetap terkontrol :

🍃Jaga stamina ruhiyah kita tetap dekat dengan Allah swt. Hati yang dekat dengan Allah akan menjadi lembut. Dan inilah yang akan menentukan gerak reflek reaksi kita. Jika hati dekat dengan Allah maka segala reaksi kita akan terkontrol untuk mencari ridhoNya.

🍃Kendalikan lisan. Berpikirlah “apa akibat jika aku berkata begini’. Dan ini akan berjalan sepersekian detik sebelum lisan meluncurkan kata-kata. Misal suami menyuruh kita berhenti pegang hape di saat kita sedang asyik bercanda dengan teman-teman di grop WA. Maka kontrol lisan kita dari kalimat ” ah, bentarlah bang”. Kalimat ini akan berefek negatif pada proses kejadian selanjutnya. Suami marah, kitapun emosi. Maka usahakan selaku mengatakan “ya, bang”. Dan ini dalam hal apapun jika suruh suami. Katakan “ya”. Maka, proses selanjutnyapun insyaallah akan berjalan baik.

🍃Kendalikan emosi. Terutama ketika mengalami kejadian yang frontal. Misal, kita diberitahu teman jika suami ada main hati dengan wanita lain. Maka, tetaplah stay cool. Jangan perturutkan emosi dengan langsung menumpahkan segala apa yang kita rasa. Sikap yang diambil hanya berdasar emosi akan berakibat penyesalan. Untuk mengantisipasi hal demikian, maka biasakan mengucapkan kalimat thoyyibah dalam setiap reaksi. Seperti _masyaallah, innalillahi, allahu akbar, subhanallah, la khaula wala quwwata illa billah_dan sebagainya. Reaksi awal ini akan melembutkan hati dan memperlunak reaksi kita.

🌷Yuk bunda sholehah, kita jaga reaksi kita dalam setiap fase kehidupan. Tetaplah bereaksi baik dan positip agar proses kehidupan kita. Insyaallah selanjutnyapun akan baik.
“Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS Ar ra’du 11)

Farida Nur Aini
Bidang Pendidikan dan Dakwah Salimah Surakarta

Kok Gak Liat ya?

🌷🌺 MOGA SAMARA🌺🌷

Motivasi Keluarga Sakinah Salimah Surakarta

Edisi 1

Kok Gak Liat ya?

🌷Bunda sholehah, pernahkah bunda mengalami hal menjengkelkan dari diri suami dalam hal penglihatan? Misalnya gini :
🍀 Bunda berniat mempercantik diri dengan potong rambut. Dengan harapan nanti jadi surpise buat suami. Begitu selesai nyalon, pulang dan ketemu suami. Bunda udah siap-siap nerima pujian. Tapi kok…suami diam aja? Kok gak muji? Sampai bunda mengibaskan rambut di depan suami, suami nggak ngeh juga. Barulah ketika bunda bilang dengan agak jengkel, ” Yahh… Liat dong. Bunda potong rambut ni” suami baru respon. “O, iya. Bagus”. Itu aja. Padahal bunda pengin lebih dari itu. Gak cuma “o, bagus”.
Mujinya pelit amat sih…manyun deh kita.

Atau gini :
🍀”Yah, tolong ambilkan gunting di meja depannya ayah itu”. Bunda nunggu sampai keringatan suami belum muncul. Muncul-muncul bilang, “gak ada guntingnya”. Padahal benda itu jelas di atas meja depannya. Hanya karena tertutup koran, suami gak tahu. Hhmm..gemes ya, bun.

🌷Bunda sholehah, suami itu laki-laki. Laki- laki tu beda sama perempuan. Kalau perempuan diciptakan Allah sebagai mahluk yang jeli, teliti, hati-hati. Nah suami tu beda.
Dia mahkluk yang rasional, berpikir global. Nggak bisa detail seperti kita. Karena dia bertugas memimpin dengan pandangan mata jauh lebih luas dari kita. Sedangkan tugas kita adalah menjalankan amanah di rumah yang memerlukan ketelitian. Mengurus anak, mengurus rumah.

🌷Jadi, santai saja menghadapi suami yang demikian. Gak perlu emosi, gak perlu jengkel. Karena mau emosi mau jengkel kaya apapun, suami ya seperti itu. Gak akan berubah jadi detail hanya karena kita jengkel sama dia. Ya gak, bun?

🌷Ayok bun, terimalah suami apa adanya. Tidak jeli itu bukan kelemahan dia. Tapi kodratnya memang seperti itu. Karena jeli itu milik perempuan, para istri. Suami istri itu saling melengkapi. Suami yang berpikir global berkolaborasi dengan istri yang detail. Suami yang berpandangan luas berkolaborasi dengan istri yang jeli. Kolaborasi yang indah bukan?
Mari ciptakan keindahan dalam rumahtangga kita dengan saling memahami

 

Farida Nur’Aini
Bidang Pendidikan dan Dakwah Salimah Surakarta

Jika Harus LDR

Motivasi Keluarga Sakinah Salimah Surakarta

Edisi 2

JIKA HARUS LDR

🌷Bunda sholehah, hidup terpisah dengan suami sungguh hal yang tidak kita inginkan. Namun terkadang kondisi dan situasi mengharuskan kita harus menjalaninya.
Nah, agar kita bisa nyaman ldr-an sama suami tercinta, yuk lakukan tips berikut :

🌷Tegarlah.
Jangan perlihatkan sikap merajuk atau lemah saat suami akan pergi. Bersikaplah tegar. Sikap ini akan membuat suami tenang menyiapkan diri. Karena suami juga berat menjalani hidup terpisah dengan keluarga tercintanya. Anak-anakpun akan nyaman melihat ketegaran ibunya. Karena jika ibunya gelisah anak-anakpun ikut gelisah.

🌷Percayai suami.
Butuh kekuatan hati melepas suami tercinta, bun. Jika timbul rasa cemas itu wajar. Memikirkan bagaimana kehidupan suami disana, lingkungan kerja bagaimana, sampai pada kekhawatiran suami akan tertarik pada wanita lain. Bunda sholehah, cukup adukan kegelisahan Bunda pada Allah swt. Dan beri suami kepercayaan bahwa dia akan bisa mengatasi semua. Dia tetap suami dan ayah yang baik. Sampaikan kepercayaan Bunda kepada suami secara langsung. Penyampaikan secara lisan akan memberi efek penguatan.

🌷 Mandiri.
Tentu hidup tanpa suami Bunda harus menjadi wanita super, yang bisa mengatasi segala permasalahan hidup. Mulai dari bumbu dapur sampai soal kendaraan. Mandirilah. Jangan mudah meminta oranglain membantu selama masih bisa dikerjakan sendiri, apalagi dibantu anak-anak.

🌷Jaga komunikasi.
Bunda, jangan menunggu suami menelpon. Telponlah lebih dulu karena bisa jadi suami sangat sibuk sehingga kesulitan mencari waktu longgar. Jaga pembicaraan ya, bun. Ceritakanlah hanya hal-hal yang menyenangkan. Hindari cerita permasalahan yang akan membuat suami semakin sedih karena tidak bisa berbuat banyak karena jauhnya jarak dengan rumah. Ingat kisah Ummu Sulaim dan Abu Tholhah. Istri tegar yang bisa menyimpan masalah besar sampai mendapatkan waktu yang tepat untuk bercerita masalah hidupnya pada suami.

🌷Jaga hati.
Jauh dari suami akan memancing godaan laki-laki iseng. Maka jaga diri baik-baik. Jangan buka peluang untuk laki-laki lain masuk dalam kehidupan Bunda. Ini bisa menjadi masalah besar.

🌷Jika suami pulang persiapkan sambutan sebaik-baiknya. Tetap jaga agar kepulangannya menjadi moment membahagiakan keluarga. Hargai privaci suami, bun. Jangan buka hape atau dompet suami tanpa ijin. Karena ini bisa merusak kebahagiaan pertemuan.

🌷Cari dan usahakan kesempatan untuk berkumpul dengan suami. Bahkan jika harus resign dari pekerjaan, lakukanlah. Demi keharmonisan dan kebahagiaan keluarga, sebuah nilai yang tak terbeli bahkan oleh harta.

Farida Nur Aini
Bidang Pendidikan dan Dakwah Salimah Surakarta