Tips Ibu Bekerja, agar lelah menjadi lillah…

Bu Karni merebahkan diri di kasur empuknya sekedar melepas penat setelah seharian bekerja dengan penuh tekanan. Baru dua menit, terdengar teriakan kedua anaknya yang rebutan mainan. Habis sudah kesabarannya hari ini, ia segera bangkit menuju ke arah suara ribut tadi. “Hai, kalian berdua bisa diam tidak!” teriaknya. Keempat mata polos menoleh dan seketika menciut. Dengan berurai air mata keduanya masuk kamar. Tinggallah Bu Karni sendiri dalam penyesalan karena telah membentak mereka.

Bunda, apakah pernah mengalami kejadian seperti di atas? Bagi ibu bekerja, lelah fisik sudah pasti, lelah hati apalagi. Pulang kantor capek masih dihadapkan dengan tugas domestik yang rasanya tidak ada habis-habisnya. Semua itu dapat memicu emosi negatif dalam diri kita. Bunda shalihah, manusia diciptakan Allah dengan berbagai emosi dalam dirinya, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Menurut ahli, emosi didefinisikan sebagai respon seseorang atas adanya stimulus eksternal maupun internal (Scherer:2001). Respon marah yang dilakukan oleh Bu Karni tadi karena adanya stimulus dari kedua anaknya yang berebut mainan.

Emosi negatif berupa marah tadi akan berdampak negatif bila tidak dikelola dengan bijaksana. Yang perlu dilakukan Bu Karni adalah melakukan coping potential, yaitu menilai kemampuan diri terhadap stimulus yang menghasilkan emosi negatif tadi dan beradaptasi dengannya. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah komunikasikan dengan baik aturan main kepada anak-anak bahwa saat Bunda pulang kerja mereka memberikan waktu istirahat sejenak  kepada bundanya. Bunda dapat ber”hibernasi” beberapa menit untuk mengendapkan penat. Tentu saja cara ini dapat dilakukan kepada anak yang sudah dapat diajak komunikasi dua arah secara baik. Kalau anak masih balita, Bunda dapat meminta bantuan pada suami atau pengasuh dalam aturan main ini.

Andaikan pulang kerja Bunda langsung dihadapkan dengan tumpukan cucian kotor, anak-anak rewel berebut perhatian, dan berbagai stimulus lainnya dan tidak berjeda untuk menyelesaikannya, maka Bunda akan seperti Bu Karni tadi. Oleh karena itu boleh dicoba aturan main di atas. Ajaklah anggota keluarga bersama-sama dalam aturan main itu. Tidak perlu berlama-lama dalam hibernasi. Cukup beberapa menit tetapi menghasilkan kualitas emosi yang baik saat menghadapi stimulus tidak menyenangkan. Oke Bunda…. silahkan dicoba.

Nining Hargiani, M.Psi [Pengurus Daerah Salimah Surakarta]

Cita-Cita, Pengorbanan dan Ketulusan

Saat itu seorang lelaki Baduwi yang tidak tercatat namanya dalam sejarah dating menemui Rasulullah SAW, yang dikisahkan oleh Imam An Nasa’i. Ia beriman, lantas bertaqwa.  “Aku berhijrah untuk mengikuti ajaranmu,” katanya. Setelah kembali dari suatu peperangan, Rasulullah SAW memperoleh harta rampasan perang. Rampasan itu dibagi-bagi untuk Rasulullah SAW dan para shahabat. Orang Baduwi tersebut juga mendapat bagian. Tetapi ia tidak kelihatan. Ketika suatu hari ia berada di tengah tengah sahabat. Para shahabat memberikan jatah tersebut kepadanya.

Ia bertanya, “Apa ini?”

“Bagianmu yang telah disisihkan oleh Nabi.”

Ia mengambil jatah tersebut lalu mendatangi Rasulullah SAW seraya bertanya, “Apa ini?”

Beliau menjawab, “Aku telah menyisihkannya untukmu.”

“Aku mengikutimu bukan untuk memperoleh seperti ini, tetapi agar aku terkena anak panah di sini sehingga aku menemui ajalku dan masuk surga,” katanya sambil mengisyaratkan telunjuknya pada satu bagian di lehernya.

“Jika engkau jujur kepada Allah,” kata Rasulullah SAW, “Niscaya Allah percaya dan akan menyampaikan keinginanmu.”

Ia terdiam sejenak, kemudian bangkit untuk ikut serta memerangi musuh. Setelah itu datang seseorang menggotongnya sambil membawa pedang, dia terluka pada bagian sebagaimana yang ia isyaratkan, lehernya. Sebuah anak panah telah menembus lehernya. Tepat! Tepat di bagian yang sebelumnya ditunjuknya.

“Apakah ini orang Baduwi yang itu?” Tanya Rasulullah SAW.

“Benar.”

“Ia jujur kepada Allah,” kata Rasulullah SAW, “Maka, Allah memenuhi permintaannya.”

Pemandangan indah pun nampak tatkala Rasulullah SAW mengkafaninya dengan baju jubah orang Baduwi ini, kemudian menshalatkannya. Sebuah penghargaan yang demikian tinggi untuk seorang Baduwi yang bahkan namanya tidak pernah dicatat sejarah. Rasulullah SAW pun bahkan berdoa secara khusus untuknya,  “Ya Allah, ini adalah hambaMu, keluar dari kabilahnya untuk berhijrah menuju jalanMu, kemudian mati syahid karena terbunuh, dan aku menjadi saksi atas yang demikian itu.”

Begitu indah sebuah cita-cita dari seorang lelaki sederhana yang berbalut ketulusan dan keikhlasan. Terwujud secara nyata hingga sedetil-detilnya karena kejujuran hatinya bertemu dengan ijabah ilahiyah. Bukan sekadar kedustaan cita dan angan-angan belaka, tetapi karena ridha Allah.

Khalid Bin Walid

Namun, ada pula cita tulus yang terkadang tak terwujud sesuai keinginannya, akan tetapi Allah tetap mengijabah keinginannya secara maknawi. Seperti Shahabat yang mulia, Khalid bin Walid. Ia adalah panglima bergelar Saifullah, Pedang Allah. Seorang panglima militer terbaik di masanya. Tak terkalahkan dalam peperangan yang dipimpinnya. Begitu kuat cita dan azzam dirinya meraih syahid dan bergelar syuhada’. Di tiap peperangan yang dijuangkannya, senantiasa harapan itu yang membuncah memenuhi rongga jiwanya. Bergerak melawan sekumpulan musuh, menebaskan pedangnya, hanya dua kemungkinan yang terjadi, ia membunuh musuh atau ia yang terbunuh. Dan tak pernah ia terbunuh dalam puluhan bahkan mungkin ratusan peperangan yang diikutinya.

Dicatat dalam Siyar A’lam Nubala, saat Khalid akan meninggal dunia, beliau menangis dan berkata, “Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengkal pun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak. Dan sekarang aku mati di atas ranjang kuterjelembab sebagaimana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti mata para pengecut.”

Sebuah ironi, dalam tanda kutip, Allah menghendakinya menghembuskan napas jiwa terakhirnya di atas ranjangnya, bersama air mata yang meleleh mengharapkan kesyahidan, di usia 52 tahun. Namun, Allah tidak menyia-nyiakan perjuangan dan keabadian citanya. Sang Kekasih, Rasulullah SAW, pernah berkata, seakan kata itu hanya untuk Khalid bin Walid, “Barangsiapa yang memohon syahid kepada Allah dengan tulus, maka Allah akan menyampaikan dirinya ke derajat syuhada’ meskipun dia mati di atas ranjangnya.”

Sahabat mulia itu tidak pernah syahid di medan pertempuran, tapi ia menempati derajat syuhada’ seperti cita yang diharapkannya.

Umar Bin Khathab

Begitu juga dengan sahabat mulia yang lain, Umar bin Khathab. Saat itu beliau menjabat sebagai Amirul Mu’minin. Kepada para sahabat-sahabat Rasulullah, beliau berkata, “Bercita-citalah!”

Seseorang mengatakan, “Saya bercita-cita seandainya rumah ini penuh dengan emas, niscaya akan saya infaqkan di jalan Allah.”

Umar berkata kembali, “Bercita-citalah!”

Seseorang yang lain mengatakan, “Saya bercita-cita rumah ini penuh dengan mutiara, zamrud dan permata, niscaya saya akan menginfaqkan di jalan Allah dan menyedekahkannya.”

“Bercita-citalah!” kata Umar kembali. Seakan-akan ia tidak puas dengan jawaban para sahabatnya. Sahabatnya pun berkata, “Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan, wahai Amirul Mu’minin.”

“Aku,” kata Umar bin Khathab, “Bercita-cita tampilnya orang-orang seperti Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Mu’adz bin Jabal, dan Salim maula Abu Hudzaifah. Niscaya aku akan meminta bantuan guna menegakkan kalimatullah!

Cita-cita Umar memang tak pernah terwujud. Tetapi pada masanya, Islam mampu tegak dan membebaskan negeri-negeri di berbagai benua dari lumpur kejahiliyahan. Mengangkat mereka ke kemuliaan cita rasa kemanusiaan dan penghambaan, serta memakmurkan mereka dengan cinta ilahi. Tentu saja semua yang dilakukan Umar bin Khathab itu adalah dalam rangka menggapai ridha Allah.

Hasan Al Banna

Di era kontemporer, tatkala agama ini menempati posisi kesekian dalam bingkai laku kemanusiaan secara umum, seorang pemuda sederhana dengan semangat keislaman yang membara menuliskannya di secarik lembar jawaban saat ujian Darul ‘Ulum, Mesir. Ia menuliskan cita-citanya, dengan tulus.

“Aku ingin menjadi seorang ustadz dan du’at. Aku akan mendidik para pemuda pada waktu siang, malam, dan waktu cuti. Aku akan mengajak keluarga mereka mengamalkan cara hidup Islam dan menunjukkan kepada mereka jalan untuk mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan hidup hakiki. Aku akan menggunakan cara-cara yang paling baik semampu saya untuk mencapai tujuan ini melalui penjelasanan, penulisan, dan pengembaraan di jalan raya dan lorong-lorong.”

Nama pemuda itu adalah Hasan Al Banna.

Ia tidak sekadar beretorika dengan cita-citanya. Ia berjuang mengorbankan segala yang mampu Ia korbankan, termasuk nyawanya! Demi tegaknya Islam di seluruh muka bumi dan menjadikannya sebagai guru bagi alam. Dan sejarah menunjukkan ia tidak pernah melihat ujung citanya itu terwujud. Namun, perjuangannya telah menuntun untuk mewujudkan ujung citanya itu. Ia membangun pribadi-pribadi muslim sejati. Ia membangun keluarga-keluarga dan rumah tangga islami. Ia membangun masyarakat yang tersibghah dengan warna Islam. Dan ia meletakkan pondasi dasar bagi kehidupan islami sebuah negara. Di titik itulah, ia berhenti atas kehendak Allah. Diterjang peluru para durjana, dan meraih kesyahidannya, insya Allah.

Orang-orang merasa dan mengatakan bahwa dakwahnya telah gagal. Selama puluhan tahun jama’ah yang didirikannya tak mampu mewujudkan satupun negera Islam, bahkan di negara asalnya, Mesir. Tidak! Sesungguhnya lelaki itu telah berhasil menuntaskan misi yang diembannya. Dan kini, generasi ketiganya telah mampu menumbangkan Fir’aun negeri Mesir. Dan kini, manusia yang memperoleh hidayah melalui jama’ahnya telah meluas di seluruh penjuru mata angin, di barat dan timur, sepanjang matahari bersinar. Karena cita-citanya yang melebihi usianya. Menjadikan agama ini sebagai guru bagi dunia, rahmat bagi seluruh alam, demi mendapatkan mardhatillah.

Subhanallah, cita-cita yang tinggi akan mengantarkan pemiliknya untuk mencapai dan mewujudkan cita-cita itu, dengan perjuangan yang benar dan keikhlasan yang tulus. Dan apa yang dicita-citakannya itu bukanlah sekadar angan-angan semu, tanpa perjuangan dan perhitungan jalan. Maka, marilah bercita-cita yang jauh. Yang mungkin akan sangat melelahkan, tapi terwujudnya cita itu adalah hadiah ilahi yang tak ternilai.

Saat Umar bin Khathab berwasiat tentang cita-cita, “Jangan sekali-kali kamu memperkecil cita-citamu, karena sesungguhnya aku tidak melihat seseorang yang terbelenggu kecuali karena ia tidak memiliki cita-cita.”

Bercita-citalah. Lillah, Fillah, Billah.

Wallahua’lambishawab

Denis Eka Cahyani,M.Kom [Sekretaris II PD Salimah Surakarta]

Islam dan Tujuan di dalam Hukum Islam

 

Islam dan hukum Islam merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahakan, karena sumber utama hukum Islam berasal dari ajaran Islam. Sumber hukum Islam yang berasal dari Alquran, sunnah , dan ra’yu menjadi dasar dalam menjalankan apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim berupa perintah maupun  larangan.

Semua hukum yang terdapat di dalam Alquran pada dasarnya bersifat mengikat secara keseluruhan. Sehingga tidak diperkenankan apabila ada seorang muslim yang memilih melaksanakan hukum suatu hal dan meninggalkan hukum yang lainnya dengan alasan bahwa hukum tersebut memberatkan atau bahkan yang lebih memalukan lagi sebagian menyandarkan pada alasan bahwa hukum islam bertentang dengan hak asasi manusia.

Misalnya apabila dibuka percakapan tentang hukum jinayat (hukum pidana islam) khususnya yang berkaitan dengan hukum qishash bagi seorang pencuri, maka ada pihak yang berpandangan bahwa hal tersebut kejam sehingga tidak patut untuk dilaksanakan. Padahal konsekuensi keimanan salah satunya  adalah yakin dan patuh terhadap hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam Alquran maupun Assunnah. Sehingga segala yang bersumber dari Alquran maupun Assunnah merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolak.

Ada sebagian masyarakat yang masih memandang sinis terhadap hukum Islam, tak jarangseorang muslim pun ada yang beranggapan bahwa hukum Islam sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi zaman. Pernyataan demikian tentunya mencederai keimanan orang tersebut sebagai seorang muslim, yang dituntut memiliki totalitas dalam beragama.  Sejatinya Islam datang untuk menata kehidupan manusia dengan segala tujuan-tujuan hukumnya.

Dengan melaksanakan hukum Islam manusia akan dapat menjalankan kehidupannya secara baik, sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban sebagai pemelihara bumi. Dalam kajian maqashid syariah dikenal adanya maslahat dharuriyat yang terdiri dari perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Secara mudah maqashid syariah dapat diartikan tujuan yang terdapat di dalam syariat pada setiap hukum-hukumnya.

Misalnya, ketika Alquran melarang seorang muslim untuk berzina, maka dapat dipastikan ada tujuan diberlakukannya hukum tersebut. Tujuan dalam hukum larangan berzina ini apabila dilihat dalam perspektif maqashid syariah adalah untuk menjaga kehormatan manusia dan keturunannya. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi apabila syariat tidak mengatur larangan ini, maka orang akan dengan mudah berbuat sesuatu dalam memperturutkan hawa nafsunya. Efeknya tentu akan menimbulkan kekacauan yang luar biasa di dalam masyarakat. Begitulah syariat mengatur kehidupan manusia yang dengannya akan diperoleh ketertiban dan kebahagiaan hidup d idunia dan akhirat. Maka tidak patut sebagai seorang muslim mengatakan bahwa hukum di dalam Alquran tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.

Salah satu bagian dari masyarakat yang berusaha untuk menjalankan syariat Islam secara keseluruhan antara lain masyarakat Aceh. Pemberlakuan status Daerah Istimewa Aceh diperolehmelalui Undang-undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Nangroe Aceh Darussalam yang kemudian diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Situasi masyarakat Aceh yang berusaha menerapkan sebagian dari hukum jinayat, dapat dilihat betapa hukum Islam mampu diterima secara baik. Memang bagi warga nonmuslim mereka tidak terikat dengan keberadaan Qanun (peraturan daerah khusus Aceh). Akan tetapi dijumpai beberapa warga nonmuslim yang melakukan perbuatan yang dilarang dalam Qanun bersama dengan seorang muslim, misalnya minum khamar, warga nonmuslim tersebut memilih untuk tunduk pada ketentuan Qanun yang dianggap lebih efektif karena tidak membutuhkan biaya dan waktu yang lama untuk menjalankan hukuman cambuk.

Penundukan diri terhadap Qanun ini memang sesuatu yang dimungkinkan berdasarkan peraturan. Hukuman cambuk yang dijalankan pun tetap memperhatikan aspek kemanusiaaan, dimana orang yang akan melaksanakan hukuman tersebut harus dalam keadaan sehat. Apabila orang tersebut hamil maka ditunggu sampai melahirkan. Ketentuan cambuk ini juga bersifat negosiatif, apabila orang yang melaksanakan hukuman tidak sanggup untuk melanjutkan karena alasan kesehatan maka hukuman tersebut dapat dilanjutkan dikemudian hari.

Hal ini membantah persepsi yang ada dikalangan masyarakat selama ini yang beranggapan bahwa hukuman cambuk sesuatu yang kejam dan tidak berperikemanusiaaan. Demikianlah Islam datang untuk memberikan kemudahan.  Dengan keberadaan Qanun ini dapat menjadi bukti bahwa ajaran Islam dengan keseluruhan hukum-hukumnya bertujuan untuk memberikan kebaikan dan kemanfaatan bagi umat manusia itu sendiri.

Luthfiyah Trini Hastuti <Sekretaris PD Salimah Solo>

Muslimah Melek Politik

Orang seringkali menganggap politik adalah sesuatu yang kotor. Apalagi bagi perempuan yang biasa berkutat dengan urusan rumah tangga saja, politik bukan ranah pikirnya. Perempuan lebih tertarik bicara tentang parenting (pengasuhan anak), harga-harga kebutuhan pokok di pasar, resep masakan, atau bahkan hal-hal lain yang dianggap tidak terkait dengan politik. Banyak perempuan yang belum menyadari bahwa itu semua sangat terkait dengan politik atau kebijakan negara dalam urusan tertentu. Semua yang terkait dengan kepentingan rakyat telah dipikirkan dan dibahas oleh pemerintah, sedangkan pemerintah adalah hasil dari pilihan politik rakyatnya.

Politik menurut KBBI berarti (1) pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan, (2) segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain, (3) cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah), kebijakan. Jadi pengertian politik sangat luas, tidak terbatas pada pemilu anggota legislatif dan presiden, tapi mencakup segala kebijakan dalam suatu negara.

Karena Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar Pancasila dan UUD 945, maka segala sesuatu memang harus bersumber dari sana, termasuk sistem perpolitikan yang salah satunya adalah pemilu untuk memilih wakil rakyat ataupun presiden.Undang-undang dibuat oleh DPR, orang yang duduk di DPR kita pilih lewat pemilu. Mau tidak mau, kita harus ikut pemilu untuk memilih wakil kita. Di sinilah kadang ketidakjelasan itu bermula. Orang memilih wakil bukan berdasarkan visi misinya, tapi karena uang yang diberikan oleh caleg tsb. Jadilah yang maju duduk di DPR adalah orang-orang yang secara etika politik sangat kurang, tidak tanggap masalah, dan ‘potong kompas’ dalam penyelesaian masalah-masalah krusial.

Kita, perempuan Indonesia, harusnya terlibat dalam proses demokrasi itu. Bukan saja dari keterwakilan 30% caleg perempuan, tapi juga tingkat partisipasi perempuan pemilih. Harus ada gerakan kesadaran memilih bagi perempuan. Bahwa harga-harga kebutuhan pokok di pasar yang sering dikeluhkan ibu-ibu itu, adalah hasil dari politik. Bahwa tarif dasar listrik, harga BBM, tayangan-tayangan di televisi dan segala hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, adalah hasil dari pilihan politik.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai perempuan?

Tetap pekalah pada segala hal di sekitar kita, melihat fenomena atau permasalahan masyarakat dan berkontribusi untuk berperan sekecil apapun itu. Jika kita adalah ibu rumah tangga, peran mendidik anak dan melayani suami sebaik-baiknya adalah hal yang wajib ditunaikan. Meski demikian, kita harus tetap peduli pada persoalan masyarakat. Dalam PKK misalnya, berusaha memberikan usul demi kebaikan masyarakat atau menjaga kondusifitasnya

Jika kita adalah perempuan yang bekerja, profesionallah dalam pekerjaan, tetap lakukan tugas sebagai ibu yang baik untuk anak-anak dan keluarga. Kontribusi dalam masyarakat juga harus tetap dilakukan meskipun dalam lingkup yang paling sederhana. Manajemen waktu yang baik adalah solusi agar semua peran muslimah bisa dilakukan dengan baik.

Setelah itu, jadilah solusi dalam permasalahan masyarakat. Ide-ide kita, meskipun perempuan, adalah ide mewakili kaum perempuan yang bisa saja tidak dipahami kaum laki-laki. Kepekaan kita terhadap permasalahan masyarakat akan memunculkan solusi-solusi yang pas. Dalam permasalahan yang lebih besar, kita bisa mewakilkan suara kita pada caleg yang visi misinya kita pahami. Gunakan hak suara kita untuk memilih wakil di DPR sehingga yang terpilih duduk di sana adalah orang yang berkualitas, undang-undang yang dihasilkannya pun berkualitas.

Terakhir, dalam pestra demokrasi ini, hendaknya kita tetap santun dalam bermasyarakat (dunia nyata maupun dunia maya). Perbedaan pilihan politik adalah suatu hal yang biasa. Yang penting kita bisa saling menghormati pilihan orang lain, tidak saling menjelekkan dan menjatuhkan. Yang perlu terus disuarakan adalah kebaikan-kebaikan, caleg-caleg baik yang bisa dipilih, kegiatan-kegiatan positif yang berkesinambungan.

Salimah, sebagai organisasi massa muslimah yang konsen pada isu-isu perempuan, anak, dan keluarga Indonesia, mengajak muslimah Indonesia untuk menjaga stabilitas bangsa ini dengan ikut berpartisipasi politik. Wakil yang dipilih adalah orang-orang baik, maka rancangan undang-undang yang dihasilkan adalah undang-undang yang maslahat untuk umat. Mari melek politik!

NB. Materi disampaikan Ketua Salimah Solo, Rianna Wati, S.S., M.A. pada program Salimah On Radio di Radio Dakwah Syariah Solo tanggal 27 Januari 2019. Program On Air berlangsung setiap Ahad pukul 07.30-09.00 WIB

Kriteria Kebahagiaan Dunia

Suatu hari Rasulullah bertemu dengan salah seorang sahabat yang kondisinya sangat memprihatinkan sehingga mengundang perhatian Rasul sampai Rasul bertanya, mengapa kamu menjadi seperti ini? Orang tersebut menjawab dengan penuh percaya diri, bahwasanya dia menjadi seperti itu justru karena doanya. Doanya adalah : Ya Allah berilah saya kesengsaraan dunia dan jadikan kesengsaraan dunia sebagai indikator bahwa saya akan mendapat kebahagiaan akhirat. Mendengar jawaban itu Rasulullah hanya bersabda : inginkah aku tunjukkan doa yang lebih baik dari itu?

Lalu dari peristiwa ini turunlah Surat Al-Baqarah ayat 201 yang artinya : “Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Jadi Rasul lebih suka kita punya sebuah cara berfikir bahwa kita berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akan mejadikan kebahagiaan dunia sebagai jembatan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Itu yang lebih disukai Rasululloh. Bahagia pun bukan hanya perkara harta, materi dan jabatan.

Menurut Ibnu Abbas salah seorang ulama tafsir di kalangan sahabat pernah menyebutkan bahwa yang dimaksud kebahagiaan dunia itu ada 6 yaitu :

1. Pasangan hidup yang sholeh
Pasangan hidup yang terdapat dalam Al-Quran dalam surat At-Tahrim disebutkan ada 3 macam pasangan hidup kita yaitu :
a) Tipe pasangan hidup Nabi Nuh
Nabi Nuh orang sholeh beliau diberi umur hampir 1.000 tahun dan hampir dari seluruh umurnya habis untuk dakwah, tapi ternyata istrinya sendiri yang termasuk menentang dakwahnya. Tipe suami sholih – istri tdk sholih.

b) Seperti Firaun
Kita kenal Firaun simbol kedzoliman dan ketakaburan. Apalagi ada 3 pencetus kesombongan yaitu : ilmu, kekayaan dan kekuasaan. 3 hal ini ada pada Firaun. Namun Firaun yang begitu dzolim dan takaburnya. Istrinya bernama Asiyah wanita sholihah. Tipe ini adalah istrinya taat beribadah namun sang suami jauh dari Allah.

c) Keluarga Imron
Imron adalah orang sholeh, punya istri sholeh, punya anak (Maryam) orang sholeh dan cucu (Nabi Isa) juga sholeh.

2. Anak yang jadi penyejuk hati

Anak bisa jadi surga dunia atau neraka dunia. Anak bisa mjd karunia atau ujian dr Allah. Maka, Wahai para orangtua didiklah anakmu dengan bekal dasar pendidikan agama.

3. Lingkungan yang baik
Kalau kita punya teman yang sholeh itu adalah kebahagiaan dunia. Tidak semua orang pintar/cerdas, arif dalam menghadapi persoalan. Tidak selamanya kecerdasan berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Majelis taklim
bukan hanya sekedar ilmu, tapi mencari teman-teman dan lingkungan yang sholeh. Nabi bersabda: Siapa yang duduk di majelis taklim dan niatnya ikhlas maka malaikat akan memberi barokah kepada majelis itu dan langkah
yang dilakukan akan menjadi kifarah dosa-dosanya. Maka yang rumahnya jauh itu lebih bagus asal ikhlas.

4. Harta yang halal
Kalau yang menjadi paradigma kita atau tolak ukur kita itu harta yang banyak, hati-hati kita cenderung menghalalkan segala cara. Karena demi banyak itu. Tapi kalau tolak ukur kita itu harta yang halal insya Allah kita akan bekerja keras mencari yang halal. Sehingga bagaimanapun harta yang banyak itu akan memberikan kemudahan bagi
kita dalam ber-taqarub kepada Allah.

5. Keinginan untuk memahami Islam dan mau mengamalkan

Ada keinginan/semangat untuk memahami Islam itu patut disyukuri sebab tanpa keinginan yang kuat dan karunia Allah kita tidak mungkin hadir disini. Problem terbesar yang dihadapi umat Islam adalah banyak yang mengakui
dirinya muslim tapi tidak mau memahami Islam, dan mengamalkan islam. Bukti dari kita beriman adalah Amal Sholih kita, pengamalan kita terhadap nilai-nilai Islam.

6. Umur yang barokah
Nabi bersabda: Kalau kamu meninggal kamu akan mendengar derap kaki orang yang mengantarkan kamu itu pulang dan yang setia menemani adalah amal sholeh.

Makanya ukuran kebahagiaan dunia adalah bagaimana kita bisa mengisi hidup dengan kesholehan. Usia makin bertambah, kita juga makin sholeh.

Sebaik-baik manusia adalah yg berumur panjang dan baik amalnya, begitu sebaliknya seburuk buruk manusia yg panjang umurnya dan buruk amalnya.

Demikian isian kajian yang disampaikan oleh Ketua PC Salimah Serengan, Anies Zulaehah ketika mengisi Kajian Rutin Salimah di Masjid PLN Solo, Ahad, 11 November lalu.[]

Salimah Solo tebar 1.000 Hijab untuk Indonesia

Pengurus Daerah (PD) Persaudaraan Muslimah (Salimah) Solo bekerjama dengan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Soloraya menggelar acara Tebar 1.000 hijab untuk Indonesia di area car free day, Minggu (16/9). Event ini digelar sekaligus untuk memperingati Hari Hijab Internasional tanggal 4 September lalu.

Ketua PD Salimah Solo, Rianna Wati, mengatakan tebar hijab tersebut dilakukan kepada muslimah yang berada di area cfd pada pagi itu. “Dengan aksi ini Salimah berharap muslimah di Solo menjadikan hijab sebagai pilihan berbusana dan menjaga akhlaqul karimah dalam keseharian,” ujarnya.

Selain tebar hijab, acara pagi itu juga diisi dengan talkshow dari pengurus Salimah tentang kewajibab muslimah untuk menutup auratnya dan akhlaqul karimah. “Kami ingin berbagi inspirasi kepada semua muslimah tentang manfaat yang bisa diambil ketika muslimah menutup auratnya, peran muslimah dan upaya dalam menghadapi tantangan peegaulan di masyarakat,” kata Nur Aida, salah satu pengurus Salimah yang juga hadir pada acara tersebut.

Salimah adalah salah satu ormas perempuan indonesia yang peduli pada perempuan,anak dan keluarga dan tersebar di 33 privinsi, 346 kota/kabupaten.[]

Gadget dan Kehidupan Masa Kini


Rumahtangga idealnya semakin hari semakin harmonis. Ibarat pisau bermata dua, di satu sisi gadget bisa menjadi salahsatu media agar rumahtangga semakin harmonis, di sisi lain bisa menjadi sumber konflik rumahtangga. Tema inilah yang disampaikan salah satu pengurus Salimah Solo, Farida Nur Aini pada waktu siaran on air di Radio Da’wah Syariah beberapa waktu lalu.

Kita bisa memanfaatkan gadget untuk menjadikan rumah tangga semakin harmonis dengan berbagai hal misal, berkirim gambar yang lucu, yang mesra, berkirim kisah cerita, berbagai kisah motivasi atau sekedar bercanda. “Candaan suami istri tidak hanya membuat hubungan semakin intim tapi juga berpahala,” ujar Farida.

Selain itu, lanjutnya, kita juga bisa mengatakan apa yang tidak mampu diucapkan misalnya kita sedang kesal dengan pasangan tetapi tidak terungkapkan lewat kata-kata. “Atau kita akan minta maaf kepada suami tapi segan melakukan. Nah ini bisa dilakukan melalui gadget.”

Tapi di sisi lain, imbuh Farida, HP juga bisa membuat masalah. Misal sibuk main HP padahal dia sedang bersama pasangan. Hal ini bisa menimbulkan kecemburuan pasangannya. “Masalah juga timbul ketika suami sudah berani
menggoda lawan jenis. Walaupun awalnya hanya sekedar iseng tetapi hal ini sangat berbahaya untuk kehidupan rumah tangga. Perselingkuhan banyak terjadi diawali dengan keisengan. Kasus CLBK ini banyak diawali dengan adanya komunikasi melalui HP,” jelasnya.

Nah, bagaimana mengatasi hal tersebut? Farida yang juga konsultan masalah rumah tangga ini menyarankan untuk kita supaya bisa mengendalikan diri dan mengimbanginya dengan ibadah.  “Suami istri harus menjadi partner yang baik dalam hal ibadah, saling memotivasi berlomba-lomba dalam ibadah. Hal ini penting sebagai penyeimbang ruhiyah agar tetap bisa Istiqomah.”

Selain itu, juga dipandang perlu adanya aturan di rumah terkait dengan penggunaan gadget atau HP. “Terutama ketika di saat berkumpul bersama keluarga maka harus ada aturan yang jelas sehingga tidak terjadi HP itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat,” sarannya.

Semoga kita terhindar dari yang demikian. Aamiiin[]

Bahaya Bid’ah dalam Beragama

Apakah suatu amalan itu bisa tertolak alias tidak diterima, padahal sudah berniat baik dan ikhlas?
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah r.a. beliau berkata Rasululloh SAW bersabda ” Barangsiapa yang mengada adakan suatu perkara di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya maka ia pasti tertolak (HR Bukhari Muslim).

“Di dalam riwayat Muslim diperjelas juga bahwa Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia pasti tertolak,” kata Nur Aida, salah seorang PD Salimah Solo ketika mengisi kajian rutin yang diselenggarakan Salimah Solo berjasama Radio Da’wah Syariah di Mesjid Hj Mini Banjarsari, Ahad (23/9) kemarin.

Mengutip Imam asy Syathibi rahimatulloh, Aida menjelaskan bahwa bid’ah adalah suatu tata cara beragama yang diada-adakan dan menyerupai syariat. “Hal ini dilakukan dengan maksud untuk melebih-lebihkan dalam beribadah kepada Allah,” ujar Aida.

Hadits ini, lanjutnya, merupakan salah satu dasar Islam yang sangat penting. Jika hadits ‘Segala perbuatan ditentukan oleh niatnya’ merupakan barometer dari setiap perbuatan ditinjau dari segi batin (niat). Kemudian bahwa setiap amal perbuatan yang tidak untuk mencari ridho Allah maka perbuatan tersebut tidak berpahala, hadits ini merupakan barometer setiap perbuatan dari sisi dhohirnya. “Jika setiap perbuatan tidak didasari oleh perintah Allah dan Rasulullah SAW maka perbuatan tersebut akan tertolak. Demikian juga orang yang membuat satu tambahan dalam urusan agama yang tidak memiliki dasar baik dalam Al Quran maupun al hadits, maka tambahan tersebut sama sekali bukan bagian dari agama dan dengan sendirinya akan tertolak,” paparnya.

Lebih rinci Aida menjelaskan bahwa ajaran Islam dilakukan dengan cara ittiba’ (mengikuti), bukan ibtida (menciptakan). “Untuk itu kita harus berhati-hati sehingga amalan yang kita lakukan menjadi muspro karena keluar dari koridor syar’i. Ada tuntunan yang harus kita perhatikan baik dalam hal ibadah maupun muamalah.”

Pada akhir kajiannya, Aida menyampaikan hadits dari Abdullah bin Mas’ud r.a. “Menurut Ali, ikutilah tuntunan dan janganlah kalian mengada adakan bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” []

Halalbihalal Salimah Solo

Salimah Solo

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ

💖💖💖💖💖 السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 💖💖💖💖💖

🌟 Yaa Rabb,,,jadikan kami wanita sholehah…
Yang baik diantara yang terbaik…🌟

Mauuuuuu….❓❔😍😍😍

🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺

💝 SALIMAH SURAKARTA 💝
Mempersembahkan

🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺🔻🔺

‼ Ingatttt ‼

🗓 Ahad, 8 Juli 2018
⏰ 08.00 – 12.00
🕌 NHIC UNS
👳🏻 Ustadz Hanifullah Sukri (insyalloh)
📜 Muslimah Tangguh, Muslimah Pembelajar

Fasilitas👇🏻👇🏻
💎 Ilmu
🔋 Motivasi
🌮 Snack
🎁 Door prizes
🤝🏻 Ukhuwah

Jangan lewatkan kesempatan ini…📣📣📣

Ikuti dan Meriahkan juga ..🤩🤩🤩🤩

🥦 Lomba Menghias Sayuran dengan tema Sayur Asem
♧ Satu kelompok 3 orang (perwakilan majelis taklim)
♧ Bahan dan Alat dari peserta
♧ Bahan sayur maksimal senilai Rp 30.000
♧ Sudah dihias dari rumah

💸 GRATIS,,TIS,,TIS,, ⛳⛳⛳⛳⛳⛳⛳⛳

Ikatkan tali silaturahmi
Dengan cinta dan ilmu
Tuk menggapai Ridho Ilahi
Menuju FirdausMu

💝❣💝❣💝❣💝❣💝

🍃 Muslimah Only 🍃

Sambut Ramadhan, Salimah Bagi Sembako 

Menyambut kedatangan bulan Ramadhan 1439 H PC Salimah Laweyan kembali menggelar Baksos, Selasa (15/5). Baksos berupa pembagian sembako untuk warga kurang mampu, janda, dan anak yatim/piatu ini rutin dilaksanakan menjelang Ramadhan. Tahun ini merupakan yang ke-10 kalinya PC Salimah Laweyan menggelar Baksos. Panitia juga menghadirkan Ketua Pengurus Daerah (PD) Surakarta Rianna Wati, SS, MSi untuk memberikan sambutan dan tausiah kepada peserta baksos.
Ketua Panitia Muthmainnah mengatakan Baksos ini sengaja dilaksanakan sebelum Ramadhan untuk menggembirakan hati mereka yang berhak menerima paket sembako. Tahun ini panitia menyiapkan 135 paket sembako berisi beras 2 kg, mie telor, gula pasir, teh, minyak goreng, dan kecap. Dengan demikian mereka dapat memasuki bulan Ramadhan dengan lebih tenang, setidaknya untuk makan sahur dan berbuka hari pertama sudah tercukupi.
Ketua PD Salimah Surakarta dalam sambutan dan tausiahnya mengingatkan peserta untuk menyambut Ramadhan dengan bergembira dan mengisinya dengan ibadah yang maksimal. Seratusan lebih penerima santunan pulang dengan wajah sumringah sembari membawa paket sembako masing-masing. [] Tim Humas
Foto: Warga Laweyan menghadiri acara bakti sosial Salimah Laweyan, Selasa (15/5)