Keluarga Tetap Sehat di Era New Normal

 

Bismiilah…

Beberapa waktu yang lalu, Salimah Surakarta bekerjasama dengan Pocari Sweat menggelar program talkshow live ig bersama dr Randi Dwiyanto. Dalam perbincangan yang dipandu oleh pengurus Salimah, Irna Kartina tersebut kami membahas tentang tema yang sangat relevan dengan situasi yang sedang terjadi saat ini terutama bagi keluarga dan khususnya ibu-ibu muslimah yaitu Keluarga Tetap Sehat di Masa New Normal.

Artikel ini adalah rangkuman yang bisa kami berikan kepada muslimah dari perbincangan live IG selama satu jam kemarin. Silakan disimak semoga bermanfaat.

Masa pandemi adalah masa yang tidak satu orang pun menginginkan nya, namun tidak ada pilihan yang bisa dilakukan selain menghadapi dengan upaya menjaga diri dan keluarga. “Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, maka jika kita ingin menyehatkan masyarakat maka keluarga adalah titik awal brangkat yang tepat,” kata dr Randi.

Hal yang perlu dipahami menurut dr Randi adalah New Normal merupakan suatu keadaan beradaptasi dengan keadaan yang baru, namun kita belum terbiasa dengan keadaan tersebut. “Bisa juga diartikan dalam makna luas bahwa new normal adalah masa menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang yang pandemi dengan gaya hidup yang mengikuti protokol kesehatan,” ujarnya.

Ada tiga hal yang bisa diupayakan (tips) dalam New Normal dalam pandemi ini :
1. Adaptasi baru dengan protokol kesehatan : tetap sehat dan terhindar dari resiko penyakit.

2. Tetap membudayakan PHBS, makanan gizi seimbang, minum air putih yg cukup, tidur harus cukup, dan berolahraga (dengan mempertimbangkan protokol kesehatan, seperti tetap menggunakan masker, tempat olah raga yang sepi /indoor). Bersabar untuk tidak melakukan olahraga Outdoor sampai keadaan benar-benar aman.

3. Menjaga hubungan dan interaksi dengan orang tercinta (quality time) dengan tetap mempertimbangkan jaga jarak dan mandi setelah beraktivitas di luar rumah, keep in touch dengan dunia maya.

Selain itu, memberikan pengertian kepada keluarga terkait dengan kodisi yang sedang terjadi termasuk tentang protokol kesehatan. Memberikan edukasi yang jelas kepada anggota keluarga, berarti melindungi keluarga kita secara tidak langsung.

Semoga seluruh keluarga kita terlindung dari virus covid-19 dan bisa terus kokoh hingga masa pandemi berakhir.

Wallohu’alam bi showab.

Muslimah Tangguh di Era Milenia

Di era kemajuan teknologi seperti saat ini, manusia dirasuki digitalisasi. Tak peduli usia. Tua, muda, remaja, anak-anak, hingga balita. Tak peduli masa. Pagi, siang, petang, malam, bahkan satu detik setelah terjaga. Pun, tak peduli di mana. Di kantor, di sekolah, di kantin, di kendaraan, di sawah, di kamar mandi, bahkan hingga menjelang shalat di masjid. Sayangnya, kebanyakan dari orang yang mengakses gadget ini menggunakan sosial media yang kurang bermanfaat untuk mengisi waktunya.

Keadaan ini diperparah dengan kondisi generasi muslim muda di Indonesia yang jauh dari kata baik. Pasalnya, mereka terlalu banyak mengadopsi budaya dari luar. Mereka hanyut dalam arus globalisasi dan lupa dari mana mereka berasal. Mulai dari cara berpakaian, tingkah laku, sopan santun seakan hilang bertahap dari jiwa muda muslim di Indonesia. Perlahan mereka meninggalkan budaya berpakaian Islam yang sopan dan lebih senang menggunakan budaya berpakaian dari Barat yang terkesan terbuka. Mereka beranggapan bahwa berpakaian Islam itu ketinggalan zaman dan berpakaian mengadopsi Barat menunjukkan modernitas.

Dengan masuknya berbagai informasi yang tidak terbendung, pola dan gaya hidup ikut berubah menjadi materialisme dan konsumerisme. Penilaian seseorang dilihat dari materi yang dimiikinya. Gaya dan penampilan lebih dipentingkan daripada yang lain, sehingga memaksa diri, hingga terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane mengungkapkan, tingkat sadisme dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia kian memprihatinkan, ditandai dengan makin tingginya angka pembuangan bayi di jalanan di sepanjang Januari 2018. “Ada 54 bayi dibuang di jalanan di Januari 2018. Pelaku umumnya wanita muda berusia antara 15 hingga 21 tahun.” Tidak hanya itu, kondisi Indonesia saat ini diwarnai dengan angka perceraian yang terus meningkat, bahkan ratusan ribu tiap tahunnya. Pada tahun 2016, terdapat 350.000 kasus perceraian di negara ini.

Peran Muslimah

Muslimah merupakan salah satu benteng Islam. Di pundak para muslimah, ada tanggung jawab besar untuk melindungi, mendidik, dan menjaga umat. Ada ungkapan yang mengatakan “Wanita adalah tiang negara, hancur atau majunya suatu negara tergantung bagaimana kondisi wanita yang ada di dalamnya”.

Apabila baik akhlak para wanitanya, maka baik pulalah negara itu. Dan apabila buruk perangainya, maka buruk dan hancurlah negara tersebut. Menghadapi realita yang ada sekarang, diperlukan sosok-sosok muslimah yang tangguh, yang dapat menjalankan peran yang diberikan Rabb padanya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimanakah muslimah tangguh itu? Muslimah tangguh adalah muslimah yang kuat menghadapi berbagai tantangan hidup dan fitnah dunia, yang mampu menjaga diri dan hatinya, dengan berbekal iman dan akhlak mulia.

Bagaimana Cara Menjadi Muslimah Tangguh?

  1. Genggam erat iman kita, jaga ruhiyah kita, jaga rasa takut kita pada Allah SWT

Dari Abu Raihannah, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW dalam satu peperangan. Kami mendengar beliau SAW bersabda, ‘Neraka diharamkan atas mata yang mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah. Neraka diharamkan atas mata yang tidak tidur di jalan Allah.’” Abu Rahainah berkata, “Aku lupa yang ketiganya. Tapi setelahnya aku mendengar beliau bersabda, ‘Neraka diharamkan atas mata yang berpaling dari segala yang diharamkan Allah.’” ( HR. Ahmad, Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, disetujui oleh Adz-Dzahabi dan An-Nasai).

Takut dan menangis karena Allah SWT akan melapangkan hati kita dan menjadikan jiwa kita tenang, serta menjauhkan kita dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT. Muslimah…jaga hubungan kita dengan Allah, melalui ibadah-ibadah dan dzikir kita..

  1. Tutup aurat, dan hiasilah diri dengan rasa malu serta akhlak mulia                 An-Nuur :31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.

Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.                                                                                                                 

Al-Ahzab :59

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan mu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulur kan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang….

Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.

Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Malu Adalah Cabang Keimanan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”[5]

  1. Sabar dan ikhlas terhadap segala ketentuan Allah SWT

Keharusan bagi seorang muslim untuk selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Di antara tanda seorang seorang muslim berbaik sangka pada Allah SWT adalah mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan dan pertolongan Allah SWT dalam setiap menemui ujian. Allah SWT memuji orang yang mengharapkan perkara-perkara tersebut seperti halnya Allah SWT memberikan pujian bagi orang yang takut pada Allah SWT.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 218).

Dengan senantiasa mengharapkan dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah SWT akan memberi energi positif pada diri kita karena setiap masalah pasti ada solusinya.

Sabar terhadap cobaan dan ridha terhadap ketentuan Allah SWT akan menuntun kita pada sikap konsisten untuk selalu berpegang teguh pada Kitabullah, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan. Sabar seperti inilah yang akan semakin menambah kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (TQS. Al-Baqarah[2]:155-157).

Wanita, jadikanlah dirimu tangguh dengan terus menerus belajar ikhlas untuk selalu mengharap ridla-Nya, karena saat kamu mampu bersifat ikhlas maka sudah tentu Allah akan selalu memberimu rahmat dan hidayah-Nya agar dirimu tetap dalam kebaikan-Nya.

  1. Teruslah belajar dan luaskan wawasan kita. Datangilah majelis-majelis ilmu,..

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan/ilmu agama.” (Muttafaq ‘alaih)”

Belajar dari siroh,.. Rasulullah, ummul mukminin, dan para sahabiyah..Khadijah ra, aisyah ra, fatimah az zahra, asma binti abu bakar, dll… yang bisa kita jadikan teladan dlm hidup

  1. Pilihlah teman dan lingkungan yang baik

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119).

Berteman dengan Pemilik Minyak Misk

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Dan karena untuk menjadi baik, dan istiqomah dalam kebaikan, dibutuhkan teman, dibutuhkan jamaah.

  1. Manfaatkan waktu dengan optimal, dan berperanlah.

Manfaatkan waktu dan umur yang diberikan Allah ini untuk kebaikan. Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata “ Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yag batil”.

Teknologi seperti pisau bermata dua. Kedua sisinya menawarkan manfaat atau mudharat, tergantung si penggunanya. Teknologi, gadget harus dimaknai sebagai peluang untuk ‘melejit’ sekaligus pemberat tabungan di hari penghitungan, kelak. Manfaatkan untuk hal yang positif.Mulailah mengambil peran di lingkungan sekitar kita, isi hari dengan mengumpulkan bekal untuk akhirat kita nanti.                                                                                                                                     Al Hasyr: 18 :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Wahai muslimah, jadilah muslimah yang tangguh,

Yang menjadikan ridho dan surga Allah satu-satunya tujuan

Yang menjadikan Allah satu-satunya sandaran

Yang menjadikan malu dan akhlakul karimah sebagai perhiasan

 

Yang tidak hanyut oleh hiruk pikuk dunia,

Yang menjadikan shalat dan sabar penolong pertamanya

Yang tidak membiarkan rayuan laki-laki bukan mahram mengganggu hari dan hatinya

Yang mengisi hari-harinya dengan taat dan takwa….

 

**Anita Indrasari, ST., M.Sc**

Pengurus Salimah Surakarta

 

“Menjadi Menantu Idaman”

Bunda sholihah ketika dulu kita menikah dengan suami tentu kita sudah mempertimbangkan segala sesuatunya pasca menikah.
Kita akan menyiapkan diri kita dengan menyesuaikan diri dengan kondisi suami, termasuk juga kondisi mertua kita. Sekarang mari kita evaluasi sejauh mana diri kita menjadi menantu yang diidamkan oleh mertua , menantu kesayangan mertua . Apakah kita sudah mendapatkan gelar itu?
Jika sudah Alhamdulillah. Istri yang disayang oleh mertuanya pastilah istri yang disayang oleh suaminya. Suami akan merasa sangat bahagia apabila melihat keharmonisan hubungan antara istrinya dan ibunya. Dia akan merasa bersyukur sekaligus bangga karena tidak salah memilih istri. Semoga kita termasuk di dalamnya. amin.

Untuk menjadi menantu idaman tentu harus di upayakan, bukan ditunggu.
Sebagai konselor keluarga saya banyak mendapati menantu yang mempunyai hubungan kurang baik dengan mertuanya. Menantu yang merasa tidak nyaman berada di dekat mertuanya atau bahkan menantu yang tertekan dengan sikap mertuanya.

Tidak ada kata terlambat semua bisa diperbaiki .
Mulailah dari niatan yang tulus untuk bisa hidup harmonis dengan mertua. Kita sudah menikah dengan anaknya, tentu kita harus bersyukur kepada beliau karena lewat beliaulah kita mendapatkan suami yang sekarang . Beliaulah yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik membiayai dengan segala perjuangannya debagai ibu.
Dan akhirnya setelah dewasa , anaknya meninggalkan ibunya untuk bersanding dan hidup bersama dengan kita. Maka kuatkan niat kita untuk turut serta berbakti kepada mertua sebagaimana kita berbakti kepada orang tua kita sendiri.

Berikut beberapa tips agar kita menjadi menantu idaman mertua

Pertama , dapatkan ridho dan restu mertua. Pastikan bahwa kehadiran kita di keluarga besar suami diterima dengan baik terutama oleh mertua. Bagaimanapun orang tua akan berat berpisah dengan anak laki-lakinya untuk bersanding dengan perempuan yang belum banyak dikenalnya, yaitu kita. Untuk itu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan kita harus mendapatkan an ridho dan restu orang tua. Karena jika laki-laki dan perempuan nekat menikah tanpa ada restu dari orang tua maka sudah hampir pasti kehidupan rumah tangganya akan penuh dengan masalah.
Bagaimana jika kita sudah terlanjur menikah tetapi ridho orang tua belum turun ? Upayakan semaksimal mungkin agar kita mendapatkan restu tersebut. Selalu ada jalan selama kita mau berusaha. Usahakanlah untuk menempatkan mertua sama seperti orangtua kita sendiri. Ini adalah cara yang mudah untuk mendapatkan Ridho orang tua

Kedua, Pahamilah karakter beliau segeralah menyesuaikan diri dengan karakter mertua banyaklah bertanya kepada suami bagaimana agar beliau Ridho kepada kita. Jangan menuntut orang tua untuk menyesuaikan dengan diri kita dan minta dia memahami kita. Justru sebaliknya kitalah yang harus pintar-pintar menyesuaikan diri dengan karakter mertua. Banyaklah bertanya kepada suami bagaimana cara agar kita bisa segera menyesuaikan diri dengan karakternya. Sesulit apapun karakter manusia pasti bisa akan ditaklukan nama cara kita tempat.

Ketiga, fahamilah apa yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan mertua. Kemudian upayakan untuk melakukan apa yang disukai mertua dan jangan lakukan apa yang tidak disukai oleh mertua. Hal ini termasuk cara berbicara, cara menata rumah, sampai selera makan.
Dapatkan perhatian orang tua dan kelembutan hatinya dengan memberikan makanan kesukaan mertua. Sesekali juga penting mengirimkan apa yang dibutuhkan beliau sesuai dengan kemampuan kita. Berinisiatiflah. Jangan menunggu suami. Justru ketika kita yang mengambil inisiatif dampak psikologisnya akan lebih mengena apabila ide itu berasal dari kita.

Keempat, berbaik hatilah juga kepada para ipar. Jaga komunikasi baik dengan mereka. Anggaplah mereka seperti saudara sendiri. Akan sangat baik apabila kita memberikan sekedar makanan atau bahkan hadiah pada saat-saat tertentu. Selain akan mempererat hubungan kita dengan para ipar, ini juga sekaligus akan mendatangkan rasa cinta dari mertua untuk kita.

Demikian Bunda beberapa tips agar kita menjadi menantu idaman mertua
Ayo terus semangat …ayo lebih baik lagi

Farida nur aini
Sie pendidikan Salimah Surakarta

Tips Ibu Bekerja, agar lelah menjadi lillah…

Bu Karni merebahkan diri di kasur empuknya sekedar melepas penat setelah seharian bekerja dengan penuh tekanan. Baru dua menit, terdengar teriakan kedua anaknya yang rebutan mainan. Habis sudah kesabarannya hari ini, ia segera bangkit menuju ke arah suara ribut tadi. “Hai, kalian berdua bisa diam tidak!” teriaknya. Keempat mata polos menoleh dan seketika menciut. Dengan berurai air mata keduanya masuk kamar. Tinggallah Bu Karni sendiri dalam penyesalan karena telah membentak mereka.

Bunda, apakah pernah mengalami kejadian seperti di atas? Bagi ibu bekerja, lelah fisik sudah pasti, lelah hati apalagi. Pulang kantor capek masih dihadapkan dengan tugas domestik yang rasanya tidak ada habis-habisnya. Semua itu dapat memicu emosi negatif dalam diri kita. Bunda shalihah, manusia diciptakan Allah dengan berbagai emosi dalam dirinya, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Menurut ahli, emosi didefinisikan sebagai respon seseorang atas adanya stimulus eksternal maupun internal (Scherer:2001). Respon marah yang dilakukan oleh Bu Karni tadi karena adanya stimulus dari kedua anaknya yang berebut mainan.

Emosi negatif berupa marah tadi akan berdampak negatif bila tidak dikelola dengan bijaksana. Yang perlu dilakukan Bu Karni adalah melakukan coping potential, yaitu menilai kemampuan diri terhadap stimulus yang menghasilkan emosi negatif tadi dan beradaptasi dengannya. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah komunikasikan dengan baik aturan main kepada anak-anak bahwa saat Bunda pulang kerja mereka memberikan waktu istirahat sejenak  kepada bundanya. Bunda dapat ber”hibernasi” beberapa menit untuk mengendapkan penat. Tentu saja cara ini dapat dilakukan kepada anak yang sudah dapat diajak komunikasi dua arah secara baik. Kalau anak masih balita, Bunda dapat meminta bantuan pada suami atau pengasuh dalam aturan main ini.

Andaikan pulang kerja Bunda langsung dihadapkan dengan tumpukan cucian kotor, anak-anak rewel berebut perhatian, dan berbagai stimulus lainnya dan tidak berjeda untuk menyelesaikannya, maka Bunda akan seperti Bu Karni tadi. Oleh karena itu boleh dicoba aturan main di atas. Ajaklah anggota keluarga bersama-sama dalam aturan main itu. Tidak perlu berlama-lama dalam hibernasi. Cukup beberapa menit tetapi menghasilkan kualitas emosi yang baik saat menghadapi stimulus tidak menyenangkan. Oke Bunda…. silahkan dicoba.

Nining Hargiani, M.Psi [Pengurus Daerah Salimah Surakarta]

Kriteria Kebahagiaan Dunia

Suatu hari Rasulullah bertemu dengan salah seorang sahabat yang kondisinya sangat memprihatinkan sehingga mengundang perhatian Rasul sampai Rasul bertanya, mengapa kamu menjadi seperti ini? Orang tersebut menjawab dengan penuh percaya diri, bahwasanya dia menjadi seperti itu justru karena doanya. Doanya adalah : Ya Allah berilah saya kesengsaraan dunia dan jadikan kesengsaraan dunia sebagai indikator bahwa saya akan mendapat kebahagiaan akhirat. Mendengar jawaban itu Rasulullah hanya bersabda : inginkah aku tunjukkan doa yang lebih baik dari itu?

Lalu dari peristiwa ini turunlah Surat Al-Baqarah ayat 201 yang artinya : “Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Jadi Rasul lebih suka kita punya sebuah cara berfikir bahwa kita berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akan mejadikan kebahagiaan dunia sebagai jembatan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Itu yang lebih disukai Rasululloh. Bahagia pun bukan hanya perkara harta, materi dan jabatan.

Menurut Ibnu Abbas salah seorang ulama tafsir di kalangan sahabat pernah menyebutkan bahwa yang dimaksud kebahagiaan dunia itu ada 6 yaitu :

1. Pasangan hidup yang sholeh
Pasangan hidup yang terdapat dalam Al-Quran dalam surat At-Tahrim disebutkan ada 3 macam pasangan hidup kita yaitu :
a) Tipe pasangan hidup Nabi Nuh
Nabi Nuh orang sholeh beliau diberi umur hampir 1.000 tahun dan hampir dari seluruh umurnya habis untuk dakwah, tapi ternyata istrinya sendiri yang termasuk menentang dakwahnya. Tipe suami sholih – istri tdk sholih.

b) Seperti Firaun
Kita kenal Firaun simbol kedzoliman dan ketakaburan. Apalagi ada 3 pencetus kesombongan yaitu : ilmu, kekayaan dan kekuasaan. 3 hal ini ada pada Firaun. Namun Firaun yang begitu dzolim dan takaburnya. Istrinya bernama Asiyah wanita sholihah. Tipe ini adalah istrinya taat beribadah namun sang suami jauh dari Allah.

c) Keluarga Imron
Imron adalah orang sholeh, punya istri sholeh, punya anak (Maryam) orang sholeh dan cucu (Nabi Isa) juga sholeh.

2. Anak yang jadi penyejuk hati

Anak bisa jadi surga dunia atau neraka dunia. Anak bisa mjd karunia atau ujian dr Allah. Maka, Wahai para orangtua didiklah anakmu dengan bekal dasar pendidikan agama.

3. Lingkungan yang baik
Kalau kita punya teman yang sholeh itu adalah kebahagiaan dunia. Tidak semua orang pintar/cerdas, arif dalam menghadapi persoalan. Tidak selamanya kecerdasan berbanding lurus dengan kebijaksanaan. Majelis taklim
bukan hanya sekedar ilmu, tapi mencari teman-teman dan lingkungan yang sholeh. Nabi bersabda: Siapa yang duduk di majelis taklim dan niatnya ikhlas maka malaikat akan memberi barokah kepada majelis itu dan langkah
yang dilakukan akan menjadi kifarah dosa-dosanya. Maka yang rumahnya jauh itu lebih bagus asal ikhlas.

4. Harta yang halal
Kalau yang menjadi paradigma kita atau tolak ukur kita itu harta yang banyak, hati-hati kita cenderung menghalalkan segala cara. Karena demi banyak itu. Tapi kalau tolak ukur kita itu harta yang halal insya Allah kita akan bekerja keras mencari yang halal. Sehingga bagaimanapun harta yang banyak itu akan memberikan kemudahan bagi
kita dalam ber-taqarub kepada Allah.

5. Keinginan untuk memahami Islam dan mau mengamalkan

Ada keinginan/semangat untuk memahami Islam itu patut disyukuri sebab tanpa keinginan yang kuat dan karunia Allah kita tidak mungkin hadir disini. Problem terbesar yang dihadapi umat Islam adalah banyak yang mengakui
dirinya muslim tapi tidak mau memahami Islam, dan mengamalkan islam. Bukti dari kita beriman adalah Amal Sholih kita, pengamalan kita terhadap nilai-nilai Islam.

6. Umur yang barokah
Nabi bersabda: Kalau kamu meninggal kamu akan mendengar derap kaki orang yang mengantarkan kamu itu pulang dan yang setia menemani adalah amal sholeh.

Makanya ukuran kebahagiaan dunia adalah bagaimana kita bisa mengisi hidup dengan kesholehan. Usia makin bertambah, kita juga makin sholeh.

Sebaik-baik manusia adalah yg berumur panjang dan baik amalnya, begitu sebaliknya seburuk buruk manusia yg panjang umurnya dan buruk amalnya.

Demikian isian kajian yang disampaikan oleh Ketua PC Salimah Serengan, Anies Zulaehah ketika mengisi Kajian Rutin Salimah di Masjid PLN Solo, Ahad, 11 November lalu.[]

Gadget dan Kehidupan Masa Kini


Rumahtangga idealnya semakin hari semakin harmonis. Ibarat pisau bermata dua, di satu sisi gadget bisa menjadi salahsatu media agar rumahtangga semakin harmonis, di sisi lain bisa menjadi sumber konflik rumahtangga. Tema inilah yang disampaikan salah satu pengurus Salimah Solo, Farida Nur Aini pada waktu siaran on air di Radio Da’wah Syariah beberapa waktu lalu.

Kita bisa memanfaatkan gadget untuk menjadikan rumah tangga semakin harmonis dengan berbagai hal misal, berkirim gambar yang lucu, yang mesra, berkirim kisah cerita, berbagai kisah motivasi atau sekedar bercanda. “Candaan suami istri tidak hanya membuat hubungan semakin intim tapi juga berpahala,” ujar Farida.

Selain itu, lanjutnya, kita juga bisa mengatakan apa yang tidak mampu diucapkan misalnya kita sedang kesal dengan pasangan tetapi tidak terungkapkan lewat kata-kata. “Atau kita akan minta maaf kepada suami tapi segan melakukan. Nah ini bisa dilakukan melalui gadget.”

Tapi di sisi lain, imbuh Farida, HP juga bisa membuat masalah. Misal sibuk main HP padahal dia sedang bersama pasangan. Hal ini bisa menimbulkan kecemburuan pasangannya. “Masalah juga timbul ketika suami sudah berani
menggoda lawan jenis. Walaupun awalnya hanya sekedar iseng tetapi hal ini sangat berbahaya untuk kehidupan rumah tangga. Perselingkuhan banyak terjadi diawali dengan keisengan. Kasus CLBK ini banyak diawali dengan adanya komunikasi melalui HP,” jelasnya.

Nah, bagaimana mengatasi hal tersebut? Farida yang juga konsultan masalah rumah tangga ini menyarankan untuk kita supaya bisa mengendalikan diri dan mengimbanginya dengan ibadah.  “Suami istri harus menjadi partner yang baik dalam hal ibadah, saling memotivasi berlomba-lomba dalam ibadah. Hal ini penting sebagai penyeimbang ruhiyah agar tetap bisa Istiqomah.”

Selain itu, juga dipandang perlu adanya aturan di rumah terkait dengan penggunaan gadget atau HP. “Terutama ketika di saat berkumpul bersama keluarga maka harus ada aturan yang jelas sehingga tidak terjadi HP itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat,” sarannya.

Semoga kita terhindar dari yang demikian. Aamiiin[]

Sambut Ramadhan, Salimah Bagi Sembako 

Menyambut kedatangan bulan Ramadhan 1439 H PC Salimah Laweyan kembali menggelar Baksos, Selasa (15/5). Baksos berupa pembagian sembako untuk warga kurang mampu, janda, dan anak yatim/piatu ini rutin dilaksanakan menjelang Ramadhan. Tahun ini merupakan yang ke-10 kalinya PC Salimah Laweyan menggelar Baksos. Panitia juga menghadirkan Ketua Pengurus Daerah (PD) Surakarta Rianna Wati, SS, MSi untuk memberikan sambutan dan tausiah kepada peserta baksos.
Ketua Panitia Muthmainnah mengatakan Baksos ini sengaja dilaksanakan sebelum Ramadhan untuk menggembirakan hati mereka yang berhak menerima paket sembako. Tahun ini panitia menyiapkan 135 paket sembako berisi beras 2 kg, mie telor, gula pasir, teh, minyak goreng, dan kecap. Dengan demikian mereka dapat memasuki bulan Ramadhan dengan lebih tenang, setidaknya untuk makan sahur dan berbuka hari pertama sudah tercukupi.
Ketua PD Salimah Surakarta dalam sambutan dan tausiahnya mengingatkan peserta untuk menyambut Ramadhan dengan bergembira dan mengisinya dengan ibadah yang maksimal. Seratusan lebih penerima santunan pulang dengan wajah sumringah sembari membawa paket sembako masing-masing. [] Tim Humas
Foto: Warga Laweyan menghadiri acara bakti sosial Salimah Laweyan, Selasa (15/5)

Salimah Berbagi

Dalam rangka menumbuhkan kepedulian dan semangat berbagi, Salimah Surakarta akan mengadakan Bakti Sosial di Kratonan RT 04/ RW 01 Serengan Solo. Bakti Sosial yang akan berlangsung pada Ahad (29/4/2018) menyediakan konsultasi keluarga dan cek kesehatan gratis. Masyarakat juga bisa mendapatkan sembako murah dan pakaian layak pakai saat acara berlangsung.

Salimah membuka partisipasi dari semua elemen masyarakat untuk ikut berdonasi sembako dan pakaian layak pakai dalam rangka mensukseskan acara tersebut.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

*Bagi yang ingin berpartisipasi bisa menghubungi: 085727404723/ 08561766060.

 

Bagaimana Menjadi Muslimah Yang Punya Inner dan Outer Healthy?

  1. INNER HEALTHY

Makna sehat dari dalam (inner healthy) mencakup 3 hal yaitu: sehat fisik (jasadiyah/physically), sehat mental (ruhiyah/mentally) sehat pemikiran (mind set/fikriyah).

  1. Fisik(Phisically)

Orang yang sehat secara fisik dari dalam berarti fisiknya tidak menderita penyakit dan terpenuhi asupan gizi atau nutrisi. Gizi atau Nutrisi adalah substansi organic yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari system tubuh, pertumbuhan pemeliharaan kesehatan (Wikipedia).

Bagaimana cara agar fisik sehat dari dalam?

  • Menerapkan pola makan yang teratur dan seimbang. Teratur dalam jadwal dan seimbang secara nutrisi.
  • Utamakan makanan yang sehat meski sedikit lebih mahal ketimbang sekedar enak dan murah.
  • Hindari makanan yang mengandung pengawet, penyedap rasa, dan pewarna makanan yang berlebihan.
  • Olahlah daging dan telor hingga matang. Hindari makanan dari olahan daging dan telor yang setengah matang. Hal ini agar terhindar dari banyak penyakit akibat kuman dan cacing yang kemungkinan masih hidup pada makanan yang setengah matang.
  • Mengutamakan mengolah makanan dengan dikukus atau direbus daripada digoreng maupun dibakar.
  • Cuci bersih sayuran dan buah yang hendak dimakan atau diolah. Sayuran dan buah yang tidak bersih mengandung bakteri salmonella yang membahayakan tubuh.
  • Hindari makanan yang mengandung lemak jahat yang bias mengakibatkan kolesterol meningkat dan berat badan meningkat juga.
  1. Kejiwaan(Mentally/Ruhiyah)

Orang yang sehat secara kejiwaan berarti jiwanya dipenuhi oleh keimanan kepada Allah SWT, tidak ada gangguan jiwa, mampu membedakan yang baik dan buruk atau benar dan salah, serta optimis dalam menjalani kehidupan.

Nutrisi ruhiyah adalah ibadah kita kepada Allah. Dan, bukankah misi hidup manusia dan jin tak lain dan tak bukan hanyalah untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Bagaimana memperoleh ruhiyah yang sehat?

  • Ruhiyah yang sehat dimulai dengan pendekatan yang intensif dengan sang pemilik ruh, yaitu Allah SWT. Untuk itu, kita harus mendekatkan diri kepada Allah dengan sarana ibadah, seperti sholat sunah, puasa sunah, tilawah Al Quran, berdzikir, dan sebagainya. Allah berfirman:”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.
  • Ruhiyah akan menjadi sehat jika kita sering siram dengan nasihat dan ilmu yang mencerahkan. Nasihat dari orang-orang salih, baik ulama, pemimpin, maupun saudara dalam islam. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk bergaul dan mencari teman orang-orang yang sholih.

Rasulullah saw, bersabda: “seseorang yang duduk (berteman) dengan orang yang salih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan seorang pandai besi. Jika engaku tidak dihadiahkan minyak misk oelhnya, engkau bias membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak”

(HR. Bukhari no.2101, dari Abu Musa).

  • Ruhiyah akan menjadi sehat apabila kita jauh dari maksiat. Hal ini karena maksiat akan membuat jiwa kotor. Kita ibaratkan seperti cermin yang kotor. Kotoran pada jermin adalah maksiat yang kita lakukan. Semakin banyak kotoran yang menempel maka semakin tidak berfungsi cermin tersebut karena tidak dapat memantulkan bayangan yang berada di dekatnya. Maka, maksiat akan meyebabkan hati kotor. Hati yang kotor menyebabkan ruhiyah tidak sehat. Ruhiyah yang sehat adalah pengendali diri untuk membedakan perilaku yang baik atau tidak dan merupakansumber kekuatan untuk tetap pada jalan kebenaran.
  • Ruhiyah akan menjadi sehat jika kita senantiasa sadar bahwa Allah selalu melihat kita (muroqobatulloh). Kesadaran seperti inilah yang akan membimbing kita untuk melakukan segala sesuatu dengan cara yang terbaik. Baik itu yang berkaitan dengan hablu minnallah ataupun hablu minannaas. Baik itu yang berupa perintah maupun larangan Allah. Maka, kita akan berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah maupun manusia.
  • Ruhiyah yang sehat akan diperoleh apabila kita banyak mengingat mati dan mengurangi tertawa. Mengapa? Karena dengan mengingat mati, hati kita akan menjadi lembut dan mudah menerima kebenaran. Sedangkan banyak tertawa akan membuat hati kita keras dan sulit menerima kebenaran. Tertawa tidak dilarang tetapi jangan berlebihan.
  • Terakhir, sering mengingat nikmat Allah akan menyehatkan ruhiyah. Nikmat Allah yang dikaruniakankepada kita sungguh tidak terbatas jumlahnya. Kesadaran bahwa segala nikmat yang datang melalui makhluk Allah adalah berasal dari Allah dan tidak ada sekutu bagi-nya. Hal ini akan menjadikanruhiyah kita sehat, dipenuhi rasa syukur kepada Allah tanpa melupakan rasa syukur kepada makhluk-Nya. Ruhiyah yang selalu optimis dengan karunia Allah dan terbebas dari belenggu manusia.
  1. Pola Pikir(Mind set)

Pola pikir yang sehat diperoleh dari hati yang bersih dan pengetahuan yang baik. Orang yang terbebas dari segala penyakit hati akan mempunyai pola pikir yang sehat. Contoh penyakit hati: riya, sombong, iri, dengki, tidak mau menerima nasihat, suudzon dll.

Bagaimana agar pola pikir kita sehat?

  • Membersihakan hati dari segala penyakit hati sehingga pikiran pun juga bersih
  • Mengisi hati dan pikiran dengan hal-hal yang positif
  • Membiasakan/memaksakan diri untuk berpikir positif
  1. OUTER HEALTHY
  2. Penampilan (Performance)

Mungkin kita berpikir apalah arti sebuah penampilan. Penampilan memang tidak menjamin kualitas diri seseorang. Namun, tidak dipungkiri bahwa penampilan lah yang akan pertama kali tampak dan dinilai oleh orang lain. Terkadang bukan masalah usia yang membuat orang kelihatan lebih tua atau lebih muda dari umurnya, tapi mungkin karena cara merawat diri dan cara berpenampilan. Maka, tidak salah jika kita memperhatikan penampilan diri kita.

Adalah Abdullah bin Masúd menceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: “Sesungguhnya seseorang suka pakainnya bagus dan sandalnya bagus.” Maka Nabi saw bersabda,”sesungguhnya Allah mencintai keindahan.” (HR Muslim).

Hadits di atas menerangkan bahwa Allah mencintai keindahan. Maka, hamba-Nya yang berusaha berpenampilan indah juga tentu disukai Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, ada hadits yang menceritakan tentang seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah dengan muka kusut dan rambut dan jenggot yang acak-acakan, maka Rasulullah saw menyuruhnya pergi untuk merapikannya. Begitu sudah rapi, Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu keluar dengan rambut yang acak-acakan seperti rambut setan.”

Seorang muslimah, tentunya, jika keluar rumah akan menutup auratnya, berkerudung. Jika rambut acak-acakan, siapa yang tahu? Hanya dirinya dan Allah yang tahu..he..he..meski tidak diketahui orang lain maka sebaiknya juga seorang muslimah menjaga kerapian diri. Jangan samapi bagus tampak luar tapi berantakan di dalam. Lagi pula, tidak nyaman kan.

Dalam beberapa hadits lain disebutkan bahwa muslimah diperbolehkan berhias dengan beberapa hal, yaitu pakaian yang indah (kain sutera), wewangian yang tidak mencolok, perona pipi (humroh), menghias wajah dengan warna keputih-putihan/bedak (isfidai), bercelak, memakai inai/pacar, dan memakai perhiasan gelang/cincin/kalung.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak beberapa hadits berikut ini.

Dari Ummu Athiyah,”kami dilarang berkabung untuk mayat lebih dari tiga hari, kecuali atas suami selama empat bulan sepuluh hari. Kami tidak boleh bercelak, memakai wewangian, dan memakai pakaian yang bercelup” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ungkapan pada hadits di atas menunjukan pada kebolehan menggunakan celak, wewangian, dan pakaian yang bercelup pada kondisi di luar masa berkabung.

Aisyah berkata bahwa seorang perempuan menyodorkan tangannya kepada Nabi saw dengan sebuah kitab, lalu berkata,”Aku menyodorkan tanganku dengan sebuah kitab, tetapi engkau tidak mengambilnya.”Beliau menjawab,” aku tidak tahu apakah itu tangan perempuan atau laki-laki? Dia menjawab,”Tangan perempuan.”Sabda Nabi,”jika engkau seorang perempuan, tentu engkau akan mengubah warna kukumu dengan inai”(HR Nasaí)

Hadits di atas menggambarkan dibolehkannya memakai inai, bahkan dianjurkan. Asma’ binti Yazid menceritakan bahwa dia dan bibinya mengenakan gelang emas. Beliau bertanya, “Apakah kamu sudah mengeluarkan zakatnya?”Belum,”jawabnya. Beliau bersabda,”Apakah kamu tidak takut Allah akan memakaikan kepadamu gelang-gelang dari neraka? Keluarkanlah zakatnya!”(HR.Ahmad).

Hadits di atas menggambarkan kebolehan memakai perhiasan gelang dan semacamnya, namun harus dikeluarkan zakat apabila mencapai nisabnya.

“sesungguhnya pakaian sutera dan emas diharamkan atas kaum laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi kaum perempuan.” (HR. Tirmidzi)

Hadits di atas menjelaskan tentang kebolehan memakai sutera dan emas bagi kaum perempuan.

Aisyah menceritakan,”Kami keluar bersama Rasulullah saw. Ke Makkah. Kami ikatkan pada dahi kami pembalut yang diberi wewangian ketika berikhram. Apabila salah satu dari kami berkeringat dan mengalir di wajahnya lalu Nabi melihatnya, maka beliau tidak melarang”(HR.Abu Dawud).

Hadits di atas menggambarkan kebolehan memakai wangi-wangian pada pakaian asalkan tidak berlebihan.

Jadi, muslimah diperbolehkan berhias asalkan sesuai syariat dan tidak berlebihan. Begitupun dalam hal memakai perhiasan berupa pakaian dan kerudung, muslimah boleh memilih model maupun warna sesuai selera, asalkan memperhatikan kaidah sebagai berikut:

  1. Menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.

Berkaitan dengan hal ini, Abu Dawud meriwayatkan hadits Nabi saw. sebagai berikut: “Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa tidak layak kelihatan darinya, kecuali ini dan ini (sembari beliau menunjuk wajah dan telapak tangan beliau,” (HR.Abu Dawud)

Pendapat tentang perempuan harus menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan ini juga disepakati oleh para ulama terdahulu seperti dalam fikih Madzab Hanafi dan Zhahiri (Kitab Al Muhala karya Ibnu Hazm.

Bahkan, seorang ulama salafi yang bernama Syaih Nasiruddin Al Albani, dalam kitab Ar-Rad Al Mufhi, mengatakan,” orang-orang yang mewajibkan para perempuan menutup wajah dan kedua telapak tangan tidak beradasar kepada Al Qur’an dan Sunnah maupun ijma ulama.”

Albani juga menambahkan, bahwa mereka yang mewajibkan cadar bagi muslimah sebagi “berdalil dengan hadits-hadits dhaif, atsar-atsar lemah, serta atsar-atsar palsu yang mereka ketahui, atau mungkin tidak mereka ketahui.

Beliau juga mengatakan, “ Saya berkeyakinan bahwa sikap berlebih-lebihan terhadap urusan wajah perempuan itu tidak mungkin bias mencetak generasi perempuan di tiap-tiap negerinya yang mampu mengemban tugas yang tergantung pada leher mereka.”

“Perempuan-perempuan seperti itu juga tidak akan mampu bertindak secara luwes dan tangkas di saat keadaan membutuhkan. Dari berbagai hadits, kita bias mengetahui bahwa perempuan di zaman Rasulullah ikut menyuguhkan makan dan minum untuk para tamu, ikut berperang dengan memberi minum bagi mereka yang kehausan, memberi makan bagi mereka yang kelaparan, dan mengevakuasi mereka yang terbunuh. Terkadang perempuan sendiri ikut berberang saat kondisi mengharuskan.”

“Mungkinkah perempuan-perempuan yang memakai cadar dan kaos tangan mampu melakukan kegiatan dan tugas semacam itu?”Lanjut Albani,”Sunnguh tidak mungkin. Kegiatan dan tuigas-tugas semacam itu hanya bias dilakukan tatkala para perempuan membuka wajah dan telapak tangan mereka.”

Dalam hal pakaian dan perhiasan, Abu Syuqoh dalam buku berjudul Kebebasan Wanita Jilid I halaman 31, memberikan rambu-rambu sebagai berikut:

  1. Membuka wajah sudah umum dilakukan pada zaman Nabi saw. Kondisi seperti ini merupakan kondisi awalnya. Adapun memakai cadar, sehingga yang terlihat hanya bola mata, merupkan salah satu tradisi atau mode/cara berdandan yang menjadi trend pada sebagian wanita sebelum dan sesudah kedatangan Islam.
  2. Berdandan secara wajar pada muka, kedua telapak tangan, dan pakaian diperbolehkan agama dalam batas-batas yang pantas dilakukan oleh seorang wanita mukminat.
  3. Tidak pernah diwajibkan mengikuti satu mode tertentu dalam berpakaian. Yang diwajibkan adalah menutupi badan. Tidaklah berdoas mengikuti beberapa mode sesuai dengan kondisi cuaca dan lingkungan social.
  4. Kriteria-kriteria di atas membantu wanita untuk lebih bebas bergerak dan memudahkannya dalam mengikuti kegiatan social.
  5. Menggunakan kain yang tidak tembus pandang.
  6. Lonngar dan tidak sempit.
  7. Tidak menyerupai laki-laki.
  8. Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
  9. Memperhatikan keindahan dan kepantasan secara wajar.
  10. Kepribadian (Personality)
  11. Salimul Akidah (Akidah yang bersih)
  12. Shahihul ibadah(ibadah yang benar)
  13. Matinul khuluk (akhlak yang kokoh)
  14. Qowwiyul Jismi (Kekuatan jasmani)
  15. Mutsaqoful Fikri (intelek dalam berpikir)
  16. Mujahadatun linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
  17. Harishun ‘ala waqtihi (pandai menjaga waktu)
  18. Munazhzhamun fi syuúnihi (teratur dalam suatu urusan)
  19. Qodirun ‘ala kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri atau mandiri finansial)
  20. Naafi’un lighoirihi (Bermanfaat bagi orang lain)
  21. Kecerdasan dan Kreativitas (Intellegency and Creativity)
  22. Brightly intelligence
  • S Al Mujadillah ayat 11: “…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
  • Utlubul ‘Ilma walau bissin” artinya tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Chia
  • Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin” artinya menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim
  • Bagaimana agar muslimah cerdas akalnya:
  • suka membaca
  • suka menuntut ilmu

ilmu diniyah maupun ilmu umum

  • spesialis dalam satu ilmu dan berwawasan global

Agar mampu menjawab berbagai persoalan yang berkaitan dengan bidang keahliannya dan menjadi referensi orang banyak terkait dengan keahliannya

  • prioritas investasi ilmu.

Mengalokasikan dana untuk membeli buku, mengikuti training, seminar dll.

  1. Creativity
  • Orang yang kreatif akan mampu mengubah hambatan menjadi peluang, ancaman menjadi kekuatan, dan kekuatan dapat dilipat gandakan.
  • Steve Job
  • Abdurrahman bin Auf adalah seorang sahabat nabi saw. yang terkenal sebagai pengusaha yang kaya raya. Saat hijrah di Madinah, semua hartanya dia tinggal di Makkah. Sesampainya di Makkah, dia menolak tawaran saudara angkatnya yang akan memberikan harta. Dia hanya minta ditunjukan pasar. Dan di pasar itulah, Abdurrahman bin Auf memakai kreativitasnya untuk berdagang. Tidak butuh waktu yang lama, beliau kembali menjadi pengusaha.
  • Salman Al Farisi adalah sahabat nabi yang berasal dari Persia. Saat Madinah dikepung oleh tentara yang bersekutu ( tentara musyrik dari Makkah dan Madinah, juga orang-orang Yahudi di Madinah). Saat itu, tampillah Salman Al Farisi memberikan konsep kepada Rasulullah saw. agar membuat parit mengelilingi Kota Madinah untuk menghalangi musuh menyerang kota. Konsep parit saat itu belum familiar di kalangan orang Arab. Dan dari ide parit inilah, maka perang itu dinamakan Perang Khandaq (Perang Parit)
  • Umar bin Khatab, penggagas Terusan Zues. Terusan Zues adalah terusan yang menghubungkan antara Benua Afrika dan Asia yang letaknya di dekat Mesir. Jika melihat sejarah, terusan suez itu ditemukan oleh orang Barat tetapi sesungguhnya ide untuk menghubungkan sudah di mulai sejak Umar bin Khatab dan dietruskan oleh para pemimpin muslim
  • Zainab binti Jahsy. Beliau adalah muslimah yang suka bekerja, tidak mau nganggur, dan suka sekali bersedekah. Padahal, dengan gelar ummul mukminin dan istri Nabi saw., beliau tidak perlu bekerja. Tapi beliau memilih bekeraja. Belaiu banyak membuat kerajinan tangan seperti anyaman, lalu menjualnya di pasar. Dan hasil penjualannya beliau sedekahkan kepada orang-orang miskin. Hingga Nabi saw. menggelari beliau sebagai istri paling panjang tangannya, artinya paling banyak sedekahnya.

Wallahu ‘alam bi showab.

*Materi siaran RDS oleh Ari Purwani, pada Ahad 11 Februari2018, Solo Jawa Tengah

Persiapan Pernikahan

PERNIKAHAN seperti yang disampaikan Cahyadi Takariawan “Pernik-pernik Rumah Tangga Islami”  berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dan bukan mempertentangkannya. Menikah adalah peristiwa fitrah, fiqhiyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya. Fitrah artinya pernikahan merupakan salah satu sarana mengekspresikan sifat-sifat dasar kemanusiaan (yakni kecenderungan terhadap lawan jenis). Fiqhiyah artinya pernikahan memiliki sejumlah aturan fikih yang jelas (dari proses pembentukan keluarga, setelah terbentuknya keluarga, permasalahan dan solusinya). Dakwah artinya pernikahan merupakan pengkabaran tentang jati diri Islam kepada masyarakat. Tarbiyah artinya dengan pernikahan, akan menguatkan sisi-sisi kebaikan individual dari laki-laki dan perempuan yang menikah tersebut, jadi bareng-bareng gitu. Sosial artinya dengan pernikahan, terhubungkanlah 2 keluarga besar pihak laki-laki dan perempuan. Budaya artinya dengan pernikahan, terbaurkanlah 2 latar budaya yang tidak mesti sama dari kedua belah pihak

KESIAPAN adalah perpaduan harmonis antara pekerjaan akal, hati dan anggota tubuh. Tidaklah seseorang dikatakan siap melakukan sesuatu sebelum akal, hati, dan anggota tubuhnya menyatakan kesangggupan.

Hadits-hadits Rasulullah:

“Apabila seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya, maka hendakalah ia menjaga separuh yang lain dengan bertaqwa kepada Allah”

“Menikah adalah sunnahku, maka barangsiapa tidak suka dengan sunnahku, ia bukan termasuk golonganku.”

“Menikahlah, karena akau akan membanggakan jumlahmu yang banyak di hari akhir nanti.”

“Wahai para pemuda, barangsiapa telah mampu di antara kalian, hendaklah melaksanakan pernikahan, karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (kehormatan).”

“Carilah kekayaan dan rizki melalui pernikahan”

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS An Nuur 24:32)

Di jalan dakwah hendaknya kita menikah. Jalan para nabi dan syuhada, jalan orang-orang shalih, jalan para ahli syurga. Jalan ini menawarkan kelurusan orientasi, bahwa pernikahan adalah ibadah.
Bahwa berkeluarga adalah salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi Allah SWT.

Bahagia itu adalah kosakata ruhani, dengan demikian sesungguhnya ia tak akan dicapai dengan jalan materi. Ia hanya dicapai dengan jalan ruhani. Materi tak akan pernah bisa memuaskan nafsu manusia, berapapun banyaknya. Kebahagiaan itu letaknya di hati yang mampu mensyukuri seluruh nikmat yang Allah berikan. Pada jiwa yang senantiasa mendambakan keridhaan Allah, pada pikiran yang senantiasa tersibghah dalam kebenaran. Kebahagiaan itu bersumber dari: keimanan yang mendalam, ketundukan yang tulus atas ketentuan Allah, kelapangan hati dalam menerima perintah dan larangan Nya.

PERSIAPAN DIRI MENJELANG PERNIKAHAN

1.Persiapan MORAL & SPIRITUAL

Artinya: mantapnya niat. Siap dengan segala konsekuensi dan resiko. Persiapan moral dengan: (1) meningkatkan  pengetahuan agama, (2) perbaikan diri secara kontinyu, (3) jadikan diri cinta beramal shalih dan ihsan. Sedangkan secara spiritual: (1) meningkatkan ibadah wajib dan sunnah, (2) berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dan kemantapan hati, dan (3) istighfar, mohon ampun, taubat

2.Persiapan KONSEPSIONAL

Artinya: menguasai hukum etika, aturan dan pernik-pernik pernikahan serta rumah tangga. Cara mempersiapkannya dengan banyak belajar, pembekalan pernikahan, belajar tentang fiqh yang berkaitan dengan kerumahtanggaan seperti fiqh thaharah, fiqh berhubungan suami istri, pengasuhan anak, dll.

3.Persiapan FISIK

Artinya: sehat jasmani, rajin olahraga, sehat dan bugar. Caranya; hidup teratur, makan seimbang dan bergizi, cukup istirahat, olahraga teratur. Perempuan menyiapkan rahimnya untuk melahirkan bayi-bayi sehat, jangan banyak makan makanan instan. Ayah dan ibu yang sehat bisa membersamai tumbuh kembang anaknya hingga dewasa.

4.Persiapan MATERIAL

Materi merupakan salah satu sarana ibadah kepada Allah. Kesiapan pihak laki-laki untuk menafkahi dan kesiapan pihak perempuan untuk mengelola keuangan keluarga. Setiap muslim hendaknya memiliki optimisme tinggi untuk bisa mendapatkan karunia dari Allah berupa rizki. Sepanjang mereka mau berusaha, melakukan sesuatu untuk kehidupan, jalan-jalan kemudahan itu akan datang. Yang penting adalah etos kerja dari pihak laki-laki untuk berusaha mencari nafkah dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.

5.Persiapan SOSIAL

Artinya: membiasakan diri terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Istri telah menjadi tanggung jawab suami sehingga harus menjaga izzah/harga diri suami dalam bersosialisasi. Berbaur dengan masyarakat tapi tidak lebur, mempunyai prinsip-prinsip Islam yang tetap harus dijaga. Dakwah masyarakat dengan berkontribusi terlibat. (End)

Materi ini disampaikan oleh Ketua Salimah Surakarta, Rianna Wati SS MA pada program on air “Salimah On Radio” bekerjasama dengan RDS FM. Program ini mengudara setiap hari Ahad, jam 07.30 WIB.