Cara Alloh Menguji Iman dan Imun Kita di Masa Pandemi

Notulensi Kelas Sabil@ WhatsApp

Hari, tanggal : Jumat, 24 Juli 2020

jam 15.30-17.00 WIB

Narasumber : Ustadzah Ori Nako

Moderator:

Bismillahirrahmanirrahim  ….Innalhamdalillah nahmaduhu wanasta’inuwanastaghfiruhu wana’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyiaati a’maalina. Man yahdillah falaa mudhillalahu wamai yudhillhu falaa haadiyalahu. Asyhadu Ala illaa haillahllah wa assahadu anna muhammdanrrosululllah..

Segala puji bagi Allah,  yang telah memberikan  nikmat islam dan iman sehingga kita bisa menjadi bagian dari kebaikan hari ini dalam menuntut ilmu..

Sholawat dan salam teruntuk nabiyullah Muhammad SAW, suri tauladan terbaik sepanjang masa,  semoga kita adalah umat yang akan mendapatkan syafaatnya.. Aamiin Allohumma Aamiin..

Yang kami hormati Ustadzah Orinako, Yang kami sayangi, ibu-ibu  dan teman-teman  muslimah yang shalihah ,..

Seperti yg kita ketahui  bersama, ini adalah kajian perdana kita,  maka izinkan saya menyampaikan kembali selamat datang /Ahlan wa sahlan  untuk ibu2 dan teman2 yang baru saja bergabung melalui link..

Semoga Allah berkahi tempat ini dan rahmat ilmu yg akan kita kaji

Selanjutnya  izinkan saya menyampaikan  susunan acara pada sore hari ini :

  • pembukaan
  • penyampaian materi
  • sesi diskusi
  • penutup

Tidak berpanjang  lebar.. Untuk acara pembukaan, mari kita buka kajian kita sore ini dengan sama-sama membaca basmallah  dan dilanjutkan  Al fatihah..

Alhamdulillah, Kajian kita kali ini akan diisi oleh seorang ustadzah yang mungkin sudah ada beberapa teman2 yang sudah mengenal beliau atau pernah mengikuti kajian beliau..

Beliau adalah ustadzah Orinako 😇, seorang ibu dari 2 putri, yang lahir pada 5 juni 1971,  dan saat ini beliau tinggal di Jln Bengawan Solo 37, Mojo, Pasar Kliwon,  Surakarta.

Beliau adalah:

  • ketua majelis Ta’lim Nur Karimah dan
  • ketua yayasan Insan Mulia Surakarta

Adapun  materi yang akan disampaikan pada hari ini adalah ” Cara Allah menguji Iman dan Imun kita di Era Pandemi. ” Selanjutnya, kami persilahkan kepada utadzah Orinako untuk menyampaikan materi kajian hari ini,,, monggo ustadzah waktu dan tempat kami persilahkan,,

Narasumber:

Asssalaamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Bismillahirrahmanirrahim. Ba’da tahmid dan salam. Salam kenal nggih ibu2 dan mbak2 sekalian. Smg semua dlm keadaan bahagia dan sehat selalu. Hari ini saya mendapat Amanah utk menyampaikan kajian dengan tema: Cara Allah Menguji iman dan imun kita di era pandemic.

Kalau kita baca surat 67: 2 tadi, kita akan paham bahwa sebenarnya hidup ini adalah ujian untuk kita. Al Quran menggambarkan bahwa setiap nabi mendapatkan ujiannya masing masing dengan berbagai bentuk. Bentuk bentuk ujian itu seperti yang Allah gambarkan dalam qs 2 : 155 bisa berupa kekurangan harta, jiwa, kelaparan dsb. Maka pandemi covid 19 ini pun harus kita yakini sebagai bentuk ujian dalam kehidupan.

Pandemi covid 19 adalah ujian dr Allah yg sangat unik karena mengenai hampir seluruh umat manusia di muka bumi, muslim kafir, tua muda, kaya miskin, semua kena efeknya dan efeknya yang bermula dari hanya di sisi kesehatan ternyata merambah ke berbagai sisi kehidupan, mulai dari sisi pendidikan, hubungan sosial diantara anggota keluarga dan masyarakat, ekonomi bahkan sampai ke sisi politik.

Kalau kita mau mengeluh, akan banyak sekali hal yang bisa kita keluhkan. Tapi Allah sudah memberikan resep kepada kita di dalam Al Quran ketika kita mendapatkan ujian. Di dalam QS 2: 155 lanjutan tentang bentuk ujian yang Allah berikan, Allah perintahkan kita bersabar untuk menghadapi ujian tersebut dan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Mengembalikan semua yang diberikan hanya kepada Allah

Ujian pandemi ini adalah ujian keimanan juga untuk kita . pertama ujian untuk meyakini bahwa ini memang takdir terbaik dari Allah. Berapa banyak kita melihat orang mengeluhkan, menyalahkan pandemi covid sebagai penyebab berbagai masalah. smg kita termasuk orang yang demikian karena itu berarti kita tidak mempercayai takdir Allah. Tugas kita adalah mencari hikmah yang sebanyak banyaknya dari musibah ini. Pandemik ini juga menguji kesabaran kita. Kita lihat saja banyak orang yang tidak sabar utk tetap ada di dalam rumah, atau tidak sabar dengan kondisi keuangan yang semakin melemah atau semakin tidak sabar dengan kondisi anak2 di rumah.

Ketawakkalan kita juga diuji. Bagaimana dengan kondisi yang semakin memburuk ini kita punya keyakinan penuh bahwa Allah akan menyelesaikan ujian ini, akan tetap menurunkan rizki ketika banyak pintu rizki kita ditutup.

Ibu2 dan mbak2 sekalian, seperti virus covid yang datang dan kemudian menyerang orang yang tidak punya imunitas dalam tubuh, maka saya mengajak diri saya dan penjenengan semua untuk meningkatkan imunitas keimanan kita agar kita bisa melewati ujian yang Allah berikan kepada kita. Wallahu a’lam bisshowab.Insya Allah ini yang bisa sampaikan

Tanya Jawab :

Q1 :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Ibu Weni dari Karangasem Surakarta. Ada yang berpendapat bahwa virus covid 19 itu dibikin oleh manusia dari suatu negara dengan maksud dan tujuan tertentu. Menurut ustadzah, benarkah demikian? Ataukah virus ini memang dari Allah sebagai bentuk ujian akibat tingkah polah manusia yang sudah melampaui batas? Mohon penjelasannya. Jazakumullah.

A1 :

2 minggu lalu sy sempat ikut beberapa seminar ttg covid ini, sampai di kesimpulan sebenarnya virus ini sudah ada sejak lama, mungkin kita pernah dengan sars, mars, flu burung, covid ini bentukan lain dr virus tersebut. Munculnya di China pertama kali di pasar yang memang menjual berbagai macam binatang dan covid ini dari virus yang ada di kelelawar yang dijual disana.

Bahwa virus ini diberikan Allah sebagai bentuk ujian atas segala tingkah laku manusia adalah salah satu hikmah yang bisa kita ambil dari ujian ini. Mengaten bu atau mbak Weni.

Q2:

Njih Ust.. Materi ini boleh saya share ke grup lain ya Ust? Kebetulan saya punya grup pengajian remaja putri (FKRS Banyuanyar)

A2:

Monggo saya serahkan ke panitia. untuk saya pribadi tidak masalah. Barokallah mbak Ummik smg pengajian putrinya tetap eksis di tengah pandemi ini. Materi boleh dishare dengan tidak melakukan perubahan atau menghilangkan logo salimah njih mbak ummik. Semoga bermanfaat ilmunya

Q3:

  1. Bagaimana menghadapi anak yang aktif dan di lingkungan yang sebaya suka main
  2. Bagaimana meningkatkan kesabaran mendidik anak tantrum dan 3 balita

A3:

Alhamdulillah ketika kita punya anak yang aktif, artinya dia sehat. Asalkan protokol kesehatan ketika main dijalankan dan tidak berkerumun insya Allah tidak masalah. Dan yang paling penting ketika pulang segera mandi, ganti baju agar tidak virus yang masuk ke rumah kita. Untuk anak tantrum sepertinya butuh waktu dan pembahasan sendiri nggih bu Nitha karena ada banyak aspek yang perlu dibahas. Semoga Kajian Salimah suatu saat bisa memfasilitasinya.

Q4:

Ustadzah orinako.. bacaan apa yg shrusnya kita bca.. saat kita mndptkn ujian & cbaan yg bertubi tubi.. ?

A4:

Mbak Yayuk, bisa membaca salah satu doa yang diucapkan nabi Ayyub saat mendapatkan ujian bertubi tubi, mendapat sakit parah, hartanya habis, istrinya meninggalkan beliau. Allahummaghfir wa anta arhamurrohimin. Atau memperbanyak istighfar, tilawah, sholat, dll. intinya mendekatkan diri kepada Allah. Semoga ujian yang bertubi tubi dari Allah menjadi tanda Allah akan meningkatkan derajat keimanan kita. Aamiin.. yarabb

Penutup:

Alhamdulillah.. InshaAllah semua pertanyaan  sudah terjdwab geh ibu – ibu, Kajian kita yang perdana Alhamdulillah  disambut dengan antusias dan semoga memberi kita bekal untuk meningkatkan imunitas Iman pun tubuh kita.. Aamiin ya Rabbalamiin

Baiklah ibu-ibu dan teman teman muslimah.. Mari kita akhiri kajian kita kali ini dengan Istighfar, kemudian hamdalah  dan doa penutup majelis.. Subhaabakallahumma wabihamdika ashadu anlaa ilaaha illa anta astagfiruka wa atuubu ilaik.

Jazakumullah kahir ibu-ibu dna teman-teman muslimah seklaian, inshaAllah kita kembali berjumpa dlaam ruang WA yang sama di Jum’at berikutnya,,,

Wasalamualaikum Wr Wb

Tips Rihlah agar Berkah

Selepas rutinitas duniawi yang melelahkan, alternatif aktivitas yang paling asyik adalah rihlah. Apalagi rihlah dilakukan dengan keluarga. Selain memperbaiki komunikasi juga mencari inspirasi sebagai motivasi diri dengan lebih dekat dengan alam.

Rihlah sesuai sunnah yang bisa dilakukan secara berjamaah antara lain berenang, berkuda dan memanah. Sebagai muslimah kegiatan tersebut membekali kita dalam konsentrasi, fisik yang kuat dan strategi dalam menghadapi gejolak duniawi.

Ada sedikit tips yang bisa dicoba untuk kalian para muslimah kala melakukan rihlah :

  1. Pastikan sehat jasmani dan rohani termasuk kesehatan kantong. Jangan sampai selepas rihlah jadi pusing karena mikir hutang.
  2. Perhatikan lokasi rihlah mau ke gunung, main air atau ke pantai disesuaikan donk dengan barang bawaan dan kebutuhan yang diperlukan sesuai tujuan seperti baju ganti dan perlengkapan sholat.
  3. Keperluan seperti charger, powerbank atau batu cadangan untuk kamera pastikan terbawa.
  4. Bawa makanan ringan sebagai teman dalam perjalanan kesukaan keluarga dan air putih tentunya.
  5. Obat-obat ringan jangan lupa dibawa seperti minyak angin, koyo, dan lain sebagainya.
  6. Tetep memperhatikan rambu lalu lintas.
  7. Jangan buang sampah sembarangan ditempat rihlah semisal tidak tersedia tong sampah, sediakan kantong plastik untuk menampungnya.
  8. Jangan rusak atau dengan sengaja memetik tanaman di lokasi rihlah cukup diabadikan dalam bentuk gambar .
  9. Tetep jaga akhlak sebagai muslimah dengan tetep murojaah biar lebih berkah.

SELAMAT MENIKMATI DENGAN SENYUM DAN HATI BAHAGIA KARENA ALLAH SUDAH MEMPERJALANKAN DI ATAS BUMINYA 😊

**Nur Hidayah**

Pengurus Salimah Surakarta

Muslimah Tangguh di Era Milenia

Di era kemajuan teknologi seperti saat ini, manusia dirasuki digitalisasi. Tak peduli usia. Tua, muda, remaja, anak-anak, hingga balita. Tak peduli masa. Pagi, siang, petang, malam, bahkan satu detik setelah terjaga. Pun, tak peduli di mana. Di kantor, di sekolah, di kantin, di kendaraan, di sawah, di kamar mandi, bahkan hingga menjelang shalat di masjid. Sayangnya, kebanyakan dari orang yang mengakses gadget ini menggunakan sosial media yang kurang bermanfaat untuk mengisi waktunya.

Keadaan ini diperparah dengan kondisi generasi muslim muda di Indonesia yang jauh dari kata baik. Pasalnya, mereka terlalu banyak mengadopsi budaya dari luar. Mereka hanyut dalam arus globalisasi dan lupa dari mana mereka berasal. Mulai dari cara berpakaian, tingkah laku, sopan santun seakan hilang bertahap dari jiwa muda muslim di Indonesia. Perlahan mereka meninggalkan budaya berpakaian Islam yang sopan dan lebih senang menggunakan budaya berpakaian dari Barat yang terkesan terbuka. Mereka beranggapan bahwa berpakaian Islam itu ketinggalan zaman dan berpakaian mengadopsi Barat menunjukkan modernitas.

Dengan masuknya berbagai informasi yang tidak terbendung, pola dan gaya hidup ikut berubah menjadi materialisme dan konsumerisme. Penilaian seseorang dilihat dari materi yang dimiikinya. Gaya dan penampilan lebih dipentingkan daripada yang lain, sehingga memaksa diri, hingga terkadang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane mengungkapkan, tingkat sadisme dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia kian memprihatinkan, ditandai dengan makin tingginya angka pembuangan bayi di jalanan di sepanjang Januari 2018. “Ada 54 bayi dibuang di jalanan di Januari 2018. Pelaku umumnya wanita muda berusia antara 15 hingga 21 tahun.” Tidak hanya itu, kondisi Indonesia saat ini diwarnai dengan angka perceraian yang terus meningkat, bahkan ratusan ribu tiap tahunnya. Pada tahun 2016, terdapat 350.000 kasus perceraian di negara ini.

Peran Muslimah

Muslimah merupakan salah satu benteng Islam. Di pundak para muslimah, ada tanggung jawab besar untuk melindungi, mendidik, dan menjaga umat. Ada ungkapan yang mengatakan “Wanita adalah tiang negara, hancur atau majunya suatu negara tergantung bagaimana kondisi wanita yang ada di dalamnya”.

Apabila baik akhlak para wanitanya, maka baik pulalah negara itu. Dan apabila buruk perangainya, maka buruk dan hancurlah negara tersebut. Menghadapi realita yang ada sekarang, diperlukan sosok-sosok muslimah yang tangguh, yang dapat menjalankan peran yang diberikan Rabb padanya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimanakah muslimah tangguh itu? Muslimah tangguh adalah muslimah yang kuat menghadapi berbagai tantangan hidup dan fitnah dunia, yang mampu menjaga diri dan hatinya, dengan berbekal iman dan akhlak mulia.

Bagaimana Cara Menjadi Muslimah Tangguh?

  1. Genggam erat iman kita, jaga ruhiyah kita, jaga rasa takut kita pada Allah SWT

Dari Abu Raihannah, ia berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW dalam satu peperangan. Kami mendengar beliau SAW bersabda, ‘Neraka diharamkan atas mata yang mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah. Neraka diharamkan atas mata yang tidak tidur di jalan Allah.’” Abu Rahainah berkata, “Aku lupa yang ketiganya. Tapi setelahnya aku mendengar beliau bersabda, ‘Neraka diharamkan atas mata yang berpaling dari segala yang diharamkan Allah.’” ( HR. Ahmad, Al-Hakim dalam kitab Shahih-nya, disetujui oleh Adz-Dzahabi dan An-Nasai).

Takut dan menangis karena Allah SWT akan melapangkan hati kita dan menjadikan jiwa kita tenang, serta menjauhkan kita dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT. Muslimah…jaga hubungan kita dengan Allah, melalui ibadah-ibadah dan dzikir kita..

  1. Tutup aurat, dan hiasilah diri dengan rasa malu serta akhlak mulia                 An-Nuur :31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.

Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.                                                                                                                 

Al-Ahzab :59

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan mu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulur kan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang….

Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.

Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Malu Adalah Cabang Keimanan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.”[5]

  1. Sabar dan ikhlas terhadap segala ketentuan Allah SWT

Keharusan bagi seorang muslim untuk selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Di antara tanda seorang seorang muslim berbaik sangka pada Allah SWT adalah mengharapkan rahmat, jalan keluar, ampunan dan pertolongan Allah SWT dalam setiap menemui ujian. Allah SWT memuji orang yang mengharapkan perkara-perkara tersebut seperti halnya Allah SWT memberikan pujian bagi orang yang takut pada Allah SWT.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 218).

Dengan senantiasa mengharapkan dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah SWT akan memberi energi positif pada diri kita karena setiap masalah pasti ada solusinya.

Sabar terhadap cobaan dan ridha terhadap ketentuan Allah SWT akan menuntun kita pada sikap konsisten untuk selalu berpegang teguh pada Kitabullah, bukan melemparkannya dengan dalih beratnya cobaan. Sabar seperti inilah yang akan semakin menambah kedekatan seorang hamba kepada Rabbnya.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (TQS. Al-Baqarah[2]:155-157).

Wanita, jadikanlah dirimu tangguh dengan terus menerus belajar ikhlas untuk selalu mengharap ridla-Nya, karena saat kamu mampu bersifat ikhlas maka sudah tentu Allah akan selalu memberimu rahmat dan hidayah-Nya agar dirimu tetap dalam kebaikan-Nya.

  1. Teruslah belajar dan luaskan wawasan kita. Datangilah majelis-majelis ilmu,..

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah akan pahamkan dia dalam urusan/ilmu agama.” (Muttafaq ‘alaih)”

Belajar dari siroh,.. Rasulullah, ummul mukminin, dan para sahabiyah..Khadijah ra, aisyah ra, fatimah az zahra, asma binti abu bakar, dll… yang bisa kita jadikan teladan dlm hidup

  1. Pilihlah teman dan lingkungan yang baik

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119).

Berteman dengan Pemilik Minyak Misk

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)

Dan karena untuk menjadi baik, dan istiqomah dalam kebaikan, dibutuhkan teman, dibutuhkan jamaah.

  1. Manfaatkan waktu dengan optimal, dan berperanlah.

Manfaatkan waktu dan umur yang diberikan Allah ini untuk kebaikan. Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata “ Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yag batil”.

Teknologi seperti pisau bermata dua. Kedua sisinya menawarkan manfaat atau mudharat, tergantung si penggunanya. Teknologi, gadget harus dimaknai sebagai peluang untuk ‘melejit’ sekaligus pemberat tabungan di hari penghitungan, kelak. Manfaatkan untuk hal yang positif.Mulailah mengambil peran di lingkungan sekitar kita, isi hari dengan mengumpulkan bekal untuk akhirat kita nanti.                                                                                                                                     Al Hasyr: 18 :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Wahai muslimah, jadilah muslimah yang tangguh,

Yang menjadikan ridho dan surga Allah satu-satunya tujuan

Yang menjadikan Allah satu-satunya sandaran

Yang menjadikan malu dan akhlakul karimah sebagai perhiasan

 

Yang tidak hanyut oleh hiruk pikuk dunia,

Yang menjadikan shalat dan sabar penolong pertamanya

Yang tidak membiarkan rayuan laki-laki bukan mahram mengganggu hari dan hatinya

Yang mengisi hari-harinya dengan taat dan takwa….

 

**Anita Indrasari, ST., M.Sc**

Pengurus Salimah Surakarta

 

“Menjadi Menantu Idaman”

Bunda sholihah ketika dulu kita menikah dengan suami tentu kita sudah mempertimbangkan segala sesuatunya pasca menikah.
Kita akan menyiapkan diri kita dengan menyesuaikan diri dengan kondisi suami, termasuk juga kondisi mertua kita. Sekarang mari kita evaluasi sejauh mana diri kita menjadi menantu yang diidamkan oleh mertua , menantu kesayangan mertua . Apakah kita sudah mendapatkan gelar itu?
Jika sudah Alhamdulillah. Istri yang disayang oleh mertuanya pastilah istri yang disayang oleh suaminya. Suami akan merasa sangat bahagia apabila melihat keharmonisan hubungan antara istrinya dan ibunya. Dia akan merasa bersyukur sekaligus bangga karena tidak salah memilih istri. Semoga kita termasuk di dalamnya. amin.

Untuk menjadi menantu idaman tentu harus di upayakan, bukan ditunggu.
Sebagai konselor keluarga saya banyak mendapati menantu yang mempunyai hubungan kurang baik dengan mertuanya. Menantu yang merasa tidak nyaman berada di dekat mertuanya atau bahkan menantu yang tertekan dengan sikap mertuanya.

Tidak ada kata terlambat semua bisa diperbaiki .
Mulailah dari niatan yang tulus untuk bisa hidup harmonis dengan mertua. Kita sudah menikah dengan anaknya, tentu kita harus bersyukur kepada beliau karena lewat beliaulah kita mendapatkan suami yang sekarang . Beliaulah yang mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik membiayai dengan segala perjuangannya debagai ibu.
Dan akhirnya setelah dewasa , anaknya meninggalkan ibunya untuk bersanding dan hidup bersama dengan kita. Maka kuatkan niat kita untuk turut serta berbakti kepada mertua sebagaimana kita berbakti kepada orang tua kita sendiri.

Berikut beberapa tips agar kita menjadi menantu idaman mertua

Pertama , dapatkan ridho dan restu mertua. Pastikan bahwa kehadiran kita di keluarga besar suami diterima dengan baik terutama oleh mertua. Bagaimanapun orang tua akan berat berpisah dengan anak laki-lakinya untuk bersanding dengan perempuan yang belum banyak dikenalnya, yaitu kita. Untuk itu sebelum melangkah ke jenjang pernikahan kita harus mendapatkan an ridho dan restu orang tua. Karena jika laki-laki dan perempuan nekat menikah tanpa ada restu dari orang tua maka sudah hampir pasti kehidupan rumah tangganya akan penuh dengan masalah.
Bagaimana jika kita sudah terlanjur menikah tetapi ridho orang tua belum turun ? Upayakan semaksimal mungkin agar kita mendapatkan restu tersebut. Selalu ada jalan selama kita mau berusaha. Usahakanlah untuk menempatkan mertua sama seperti orangtua kita sendiri. Ini adalah cara yang mudah untuk mendapatkan Ridho orang tua

Kedua, Pahamilah karakter beliau segeralah menyesuaikan diri dengan karakter mertua banyaklah bertanya kepada suami bagaimana agar beliau Ridho kepada kita. Jangan menuntut orang tua untuk menyesuaikan dengan diri kita dan minta dia memahami kita. Justru sebaliknya kitalah yang harus pintar-pintar menyesuaikan diri dengan karakter mertua. Banyaklah bertanya kepada suami bagaimana cara agar kita bisa segera menyesuaikan diri dengan karakternya. Sesulit apapun karakter manusia pasti bisa akan ditaklukan nama cara kita tempat.

Ketiga, fahamilah apa yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan mertua. Kemudian upayakan untuk melakukan apa yang disukai mertua dan jangan lakukan apa yang tidak disukai oleh mertua. Hal ini termasuk cara berbicara, cara menata rumah, sampai selera makan.
Dapatkan perhatian orang tua dan kelembutan hatinya dengan memberikan makanan kesukaan mertua. Sesekali juga penting mengirimkan apa yang dibutuhkan beliau sesuai dengan kemampuan kita. Berinisiatiflah. Jangan menunggu suami. Justru ketika kita yang mengambil inisiatif dampak psikologisnya akan lebih mengena apabila ide itu berasal dari kita.

Keempat, berbaik hatilah juga kepada para ipar. Jaga komunikasi baik dengan mereka. Anggaplah mereka seperti saudara sendiri. Akan sangat baik apabila kita memberikan sekedar makanan atau bahkan hadiah pada saat-saat tertentu. Selain akan mempererat hubungan kita dengan para ipar, ini juga sekaligus akan mendatangkan rasa cinta dari mertua untuk kita.

Demikian Bunda beberapa tips agar kita menjadi menantu idaman mertua
Ayo terus semangat …ayo lebih baik lagi

Farida nur aini
Sie pendidikan Salimah Surakarta

Tips Ibu Bekerja, agar lelah menjadi lillah…

Bu Karni merebahkan diri di kasur empuknya sekedar melepas penat setelah seharian bekerja dengan penuh tekanan. Baru dua menit, terdengar teriakan kedua anaknya yang rebutan mainan. Habis sudah kesabarannya hari ini, ia segera bangkit menuju ke arah suara ribut tadi. “Hai, kalian berdua bisa diam tidak!” teriaknya. Keempat mata polos menoleh dan seketika menciut. Dengan berurai air mata keduanya masuk kamar. Tinggallah Bu Karni sendiri dalam penyesalan karena telah membentak mereka.

Bunda, apakah pernah mengalami kejadian seperti di atas? Bagi ibu bekerja, lelah fisik sudah pasti, lelah hati apalagi. Pulang kantor capek masih dihadapkan dengan tugas domestik yang rasanya tidak ada habis-habisnya. Semua itu dapat memicu emosi negatif dalam diri kita. Bunda shalihah, manusia diciptakan Allah dengan berbagai emosi dalam dirinya, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Menurut ahli, emosi didefinisikan sebagai respon seseorang atas adanya stimulus eksternal maupun internal (Scherer:2001). Respon marah yang dilakukan oleh Bu Karni tadi karena adanya stimulus dari kedua anaknya yang berebut mainan.

Emosi negatif berupa marah tadi akan berdampak negatif bila tidak dikelola dengan bijaksana. Yang perlu dilakukan Bu Karni adalah melakukan coping potential, yaitu menilai kemampuan diri terhadap stimulus yang menghasilkan emosi negatif tadi dan beradaptasi dengannya. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah komunikasikan dengan baik aturan main kepada anak-anak bahwa saat Bunda pulang kerja mereka memberikan waktu istirahat sejenak  kepada bundanya. Bunda dapat ber”hibernasi” beberapa menit untuk mengendapkan penat. Tentu saja cara ini dapat dilakukan kepada anak yang sudah dapat diajak komunikasi dua arah secara baik. Kalau anak masih balita, Bunda dapat meminta bantuan pada suami atau pengasuh dalam aturan main ini.

Andaikan pulang kerja Bunda langsung dihadapkan dengan tumpukan cucian kotor, anak-anak rewel berebut perhatian, dan berbagai stimulus lainnya dan tidak berjeda untuk menyelesaikannya, maka Bunda akan seperti Bu Karni tadi. Oleh karena itu boleh dicoba aturan main di atas. Ajaklah anggota keluarga bersama-sama dalam aturan main itu. Tidak perlu berlama-lama dalam hibernasi. Cukup beberapa menit tetapi menghasilkan kualitas emosi yang baik saat menghadapi stimulus tidak menyenangkan. Oke Bunda…. silahkan dicoba.

Nining Hargiani, M.Psi [Pengurus Daerah Salimah Surakarta]

Cita-Cita, Pengorbanan dan Ketulusan

Saat itu seorang lelaki Baduwi yang tidak tercatat namanya dalam sejarah dating menemui Rasulullah SAW, yang dikisahkan oleh Imam An Nasa’i. Ia beriman, lantas bertaqwa.  “Aku berhijrah untuk mengikuti ajaranmu,” katanya. Setelah kembali dari suatu peperangan, Rasulullah SAW memperoleh harta rampasan perang. Rampasan itu dibagi-bagi untuk Rasulullah SAW dan para shahabat. Orang Baduwi tersebut juga mendapat bagian. Tetapi ia tidak kelihatan. Ketika suatu hari ia berada di tengah tengah sahabat. Para shahabat memberikan jatah tersebut kepadanya.

Ia bertanya, “Apa ini?”

“Bagianmu yang telah disisihkan oleh Nabi.”

Ia mengambil jatah tersebut lalu mendatangi Rasulullah SAW seraya bertanya, “Apa ini?”

Beliau menjawab, “Aku telah menyisihkannya untukmu.”

“Aku mengikutimu bukan untuk memperoleh seperti ini, tetapi agar aku terkena anak panah di sini sehingga aku menemui ajalku dan masuk surga,” katanya sambil mengisyaratkan telunjuknya pada satu bagian di lehernya.

“Jika engkau jujur kepada Allah,” kata Rasulullah SAW, “Niscaya Allah percaya dan akan menyampaikan keinginanmu.”

Ia terdiam sejenak, kemudian bangkit untuk ikut serta memerangi musuh. Setelah itu datang seseorang menggotongnya sambil membawa pedang, dia terluka pada bagian sebagaimana yang ia isyaratkan, lehernya. Sebuah anak panah telah menembus lehernya. Tepat! Tepat di bagian yang sebelumnya ditunjuknya.

“Apakah ini orang Baduwi yang itu?” Tanya Rasulullah SAW.

“Benar.”

“Ia jujur kepada Allah,” kata Rasulullah SAW, “Maka, Allah memenuhi permintaannya.”

Pemandangan indah pun nampak tatkala Rasulullah SAW mengkafaninya dengan baju jubah orang Baduwi ini, kemudian menshalatkannya. Sebuah penghargaan yang demikian tinggi untuk seorang Baduwi yang bahkan namanya tidak pernah dicatat sejarah. Rasulullah SAW pun bahkan berdoa secara khusus untuknya,  “Ya Allah, ini adalah hambaMu, keluar dari kabilahnya untuk berhijrah menuju jalanMu, kemudian mati syahid karena terbunuh, dan aku menjadi saksi atas yang demikian itu.”

Begitu indah sebuah cita-cita dari seorang lelaki sederhana yang berbalut ketulusan dan keikhlasan. Terwujud secara nyata hingga sedetil-detilnya karena kejujuran hatinya bertemu dengan ijabah ilahiyah. Bukan sekadar kedustaan cita dan angan-angan belaka, tetapi karena ridha Allah.

Khalid Bin Walid

Namun, ada pula cita tulus yang terkadang tak terwujud sesuai keinginannya, akan tetapi Allah tetap mengijabah keinginannya secara maknawi. Seperti Shahabat yang mulia, Khalid bin Walid. Ia adalah panglima bergelar Saifullah, Pedang Allah. Seorang panglima militer terbaik di masanya. Tak terkalahkan dalam peperangan yang dipimpinnya. Begitu kuat cita dan azzam dirinya meraih syahid dan bergelar syuhada’. Di tiap peperangan yang dijuangkannya, senantiasa harapan itu yang membuncah memenuhi rongga jiwanya. Bergerak melawan sekumpulan musuh, menebaskan pedangnya, hanya dua kemungkinan yang terjadi, ia membunuh musuh atau ia yang terbunuh. Dan tak pernah ia terbunuh dalam puluhan bahkan mungkin ratusan peperangan yang diikutinya.

Dicatat dalam Siyar A’lam Nubala, saat Khalid akan meninggal dunia, beliau menangis dan berkata, “Aku telah mengikuti perang ini dan perang ini bersama pasukan, dan tidak ada satu jengkal pun dari bagian tubuhku kecuali padanya terdapat bekas pukulan pedang atau lemparan panah atau tikaman tombak. Dan sekarang aku mati di atas ranjang kuterjelembab sebagaimana matinya seekor unta. Janganlah mata ini terpejam seperti mata para pengecut.”

Sebuah ironi, dalam tanda kutip, Allah menghendakinya menghembuskan napas jiwa terakhirnya di atas ranjangnya, bersama air mata yang meleleh mengharapkan kesyahidan, di usia 52 tahun. Namun, Allah tidak menyia-nyiakan perjuangan dan keabadian citanya. Sang Kekasih, Rasulullah SAW, pernah berkata, seakan kata itu hanya untuk Khalid bin Walid, “Barangsiapa yang memohon syahid kepada Allah dengan tulus, maka Allah akan menyampaikan dirinya ke derajat syuhada’ meskipun dia mati di atas ranjangnya.”

Sahabat mulia itu tidak pernah syahid di medan pertempuran, tapi ia menempati derajat syuhada’ seperti cita yang diharapkannya.

Umar Bin Khathab

Begitu juga dengan sahabat mulia yang lain, Umar bin Khathab. Saat itu beliau menjabat sebagai Amirul Mu’minin. Kepada para sahabat-sahabat Rasulullah, beliau berkata, “Bercita-citalah!”

Seseorang mengatakan, “Saya bercita-cita seandainya rumah ini penuh dengan emas, niscaya akan saya infaqkan di jalan Allah.”

Umar berkata kembali, “Bercita-citalah!”

Seseorang yang lain mengatakan, “Saya bercita-cita rumah ini penuh dengan mutiara, zamrud dan permata, niscaya saya akan menginfaqkan di jalan Allah dan menyedekahkannya.”

“Bercita-citalah!” kata Umar kembali. Seakan-akan ia tidak puas dengan jawaban para sahabatnya. Sahabatnya pun berkata, “Kami tidak tahu lagi apa yang harus kami katakan, wahai Amirul Mu’minin.”

“Aku,” kata Umar bin Khathab, “Bercita-cita tampilnya orang-orang seperti Abu Ubaidah bin Al Jarrah, Mu’adz bin Jabal, dan Salim maula Abu Hudzaifah. Niscaya aku akan meminta bantuan guna menegakkan kalimatullah!

Cita-cita Umar memang tak pernah terwujud. Tetapi pada masanya, Islam mampu tegak dan membebaskan negeri-negeri di berbagai benua dari lumpur kejahiliyahan. Mengangkat mereka ke kemuliaan cita rasa kemanusiaan dan penghambaan, serta memakmurkan mereka dengan cinta ilahi. Tentu saja semua yang dilakukan Umar bin Khathab itu adalah dalam rangka menggapai ridha Allah.

Hasan Al Banna

Di era kontemporer, tatkala agama ini menempati posisi kesekian dalam bingkai laku kemanusiaan secara umum, seorang pemuda sederhana dengan semangat keislaman yang membara menuliskannya di secarik lembar jawaban saat ujian Darul ‘Ulum, Mesir. Ia menuliskan cita-citanya, dengan tulus.

“Aku ingin menjadi seorang ustadz dan du’at. Aku akan mendidik para pemuda pada waktu siang, malam, dan waktu cuti. Aku akan mengajak keluarga mereka mengamalkan cara hidup Islam dan menunjukkan kepada mereka jalan untuk mendapatkan kegembiraan dan kebahagiaan hidup hakiki. Aku akan menggunakan cara-cara yang paling baik semampu saya untuk mencapai tujuan ini melalui penjelasanan, penulisan, dan pengembaraan di jalan raya dan lorong-lorong.”

Nama pemuda itu adalah Hasan Al Banna.

Ia tidak sekadar beretorika dengan cita-citanya. Ia berjuang mengorbankan segala yang mampu Ia korbankan, termasuk nyawanya! Demi tegaknya Islam di seluruh muka bumi dan menjadikannya sebagai guru bagi alam. Dan sejarah menunjukkan ia tidak pernah melihat ujung citanya itu terwujud. Namun, perjuangannya telah menuntun untuk mewujudkan ujung citanya itu. Ia membangun pribadi-pribadi muslim sejati. Ia membangun keluarga-keluarga dan rumah tangga islami. Ia membangun masyarakat yang tersibghah dengan warna Islam. Dan ia meletakkan pondasi dasar bagi kehidupan islami sebuah negara. Di titik itulah, ia berhenti atas kehendak Allah. Diterjang peluru para durjana, dan meraih kesyahidannya, insya Allah.

Orang-orang merasa dan mengatakan bahwa dakwahnya telah gagal. Selama puluhan tahun jama’ah yang didirikannya tak mampu mewujudkan satupun negera Islam, bahkan di negara asalnya, Mesir. Tidak! Sesungguhnya lelaki itu telah berhasil menuntaskan misi yang diembannya. Dan kini, generasi ketiganya telah mampu menumbangkan Fir’aun negeri Mesir. Dan kini, manusia yang memperoleh hidayah melalui jama’ahnya telah meluas di seluruh penjuru mata angin, di barat dan timur, sepanjang matahari bersinar. Karena cita-citanya yang melebihi usianya. Menjadikan agama ini sebagai guru bagi dunia, rahmat bagi seluruh alam, demi mendapatkan mardhatillah.

Subhanallah, cita-cita yang tinggi akan mengantarkan pemiliknya untuk mencapai dan mewujudkan cita-cita itu, dengan perjuangan yang benar dan keikhlasan yang tulus. Dan apa yang dicita-citakannya itu bukanlah sekadar angan-angan semu, tanpa perjuangan dan perhitungan jalan. Maka, marilah bercita-cita yang jauh. Yang mungkin akan sangat melelahkan, tapi terwujudnya cita itu adalah hadiah ilahi yang tak ternilai.

Saat Umar bin Khathab berwasiat tentang cita-cita, “Jangan sekali-kali kamu memperkecil cita-citamu, karena sesungguhnya aku tidak melihat seseorang yang terbelenggu kecuali karena ia tidak memiliki cita-cita.”

Bercita-citalah. Lillah, Fillah, Billah.

Wallahua’lambishawab

Denis Eka Cahyani,M.Kom [Sekretaris II PD Salimah Surakarta]