Bagaimana Menjadi Muslimah Yang Punya Inner dan Outer Healthy?

  1. INNER HEALTHY

Makna sehat dari dalam (inner healthy) mencakup 3 hal yaitu: sehat fisik (jasadiyah/physically), sehat mental (ruhiyah/mentally) sehat pemikiran (mind set/fikriyah).

  1. Fisik(Phisically)

Orang yang sehat secara fisik dari dalam berarti fisiknya tidak menderita penyakit dan terpenuhi asupan gizi atau nutrisi. Gizi atau Nutrisi adalah substansi organic yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari system tubuh, pertumbuhan pemeliharaan kesehatan (Wikipedia).

Bagaimana cara agar fisik sehat dari dalam?

  • Menerapkan pola makan yang teratur dan seimbang. Teratur dalam jadwal dan seimbang secara nutrisi.
  • Utamakan makanan yang sehat meski sedikit lebih mahal ketimbang sekedar enak dan murah.
  • Hindari makanan yang mengandung pengawet, penyedap rasa, dan pewarna makanan yang berlebihan.
  • Olahlah daging dan telor hingga matang. Hindari makanan dari olahan daging dan telor yang setengah matang. Hal ini agar terhindar dari banyak penyakit akibat kuman dan cacing yang kemungkinan masih hidup pada makanan yang setengah matang.
  • Mengutamakan mengolah makanan dengan dikukus atau direbus daripada digoreng maupun dibakar.
  • Cuci bersih sayuran dan buah yang hendak dimakan atau diolah. Sayuran dan buah yang tidak bersih mengandung bakteri salmonella yang membahayakan tubuh.
  • Hindari makanan yang mengandung lemak jahat yang bias mengakibatkan kolesterol meningkat dan berat badan meningkat juga.
  1. Kejiwaan(Mentally/Ruhiyah)

Orang yang sehat secara kejiwaan berarti jiwanya dipenuhi oleh keimanan kepada Allah SWT, tidak ada gangguan jiwa, mampu membedakan yang baik dan buruk atau benar dan salah, serta optimis dalam menjalani kehidupan.

Nutrisi ruhiyah adalah ibadah kita kepada Allah. Dan, bukankah misi hidup manusia dan jin tak lain dan tak bukan hanyalah untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Bagaimana memperoleh ruhiyah yang sehat?

  • Ruhiyah yang sehat dimulai dengan pendekatan yang intensif dengan sang pemilik ruh, yaitu Allah SWT. Untuk itu, kita harus mendekatkan diri kepada Allah dengan sarana ibadah, seperti sholat sunah, puasa sunah, tilawah Al Quran, berdzikir, dan sebagainya. Allah berfirman:”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.
  • Ruhiyah akan menjadi sehat jika kita sering siram dengan nasihat dan ilmu yang mencerahkan. Nasihat dari orang-orang salih, baik ulama, pemimpin, maupun saudara dalam islam. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk bergaul dan mencari teman orang-orang yang sholih.

Rasulullah saw, bersabda: “seseorang yang duduk (berteman) dengan orang yang salih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan seorang pandai besi. Jika engaku tidak dihadiahkan minyak misk oelhnya, engkau bias membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak”

(HR. Bukhari no.2101, dari Abu Musa).

  • Ruhiyah akan menjadi sehat apabila kita jauh dari maksiat. Hal ini karena maksiat akan membuat jiwa kotor. Kita ibaratkan seperti cermin yang kotor. Kotoran pada jermin adalah maksiat yang kita lakukan. Semakin banyak kotoran yang menempel maka semakin tidak berfungsi cermin tersebut karena tidak dapat memantulkan bayangan yang berada di dekatnya. Maka, maksiat akan meyebabkan hati kotor. Hati yang kotor menyebabkan ruhiyah tidak sehat. Ruhiyah yang sehat adalah pengendali diri untuk membedakan perilaku yang baik atau tidak dan merupakansumber kekuatan untuk tetap pada jalan kebenaran.
  • Ruhiyah akan menjadi sehat jika kita senantiasa sadar bahwa Allah selalu melihat kita (muroqobatulloh). Kesadaran seperti inilah yang akan membimbing kita untuk melakukan segala sesuatu dengan cara yang terbaik. Baik itu yang berkaitan dengan hablu minnallah ataupun hablu minannaas. Baik itu yang berupa perintah maupun larangan Allah. Maka, kita akan berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah maupun manusia.
  • Ruhiyah yang sehat akan diperoleh apabila kita banyak mengingat mati dan mengurangi tertawa. Mengapa? Karena dengan mengingat mati, hati kita akan menjadi lembut dan mudah menerima kebenaran. Sedangkan banyak tertawa akan membuat hati kita keras dan sulit menerima kebenaran. Tertawa tidak dilarang tetapi jangan berlebihan.
  • Terakhir, sering mengingat nikmat Allah akan menyehatkan ruhiyah. Nikmat Allah yang dikaruniakankepada kita sungguh tidak terbatas jumlahnya. Kesadaran bahwa segala nikmat yang datang melalui makhluk Allah adalah berasal dari Allah dan tidak ada sekutu bagi-nya. Hal ini akan menjadikanruhiyah kita sehat, dipenuhi rasa syukur kepada Allah tanpa melupakan rasa syukur kepada makhluk-Nya. Ruhiyah yang selalu optimis dengan karunia Allah dan terbebas dari belenggu manusia.
  1. Pola Pikir(Mind set)

Pola pikir yang sehat diperoleh dari hati yang bersih dan pengetahuan yang baik. Orang yang terbebas dari segala penyakit hati akan mempunyai pola pikir yang sehat. Contoh penyakit hati: riya, sombong, iri, dengki, tidak mau menerima nasihat, suudzon dll.

Bagaimana agar pola pikir kita sehat?

  • Membersihakan hati dari segala penyakit hati sehingga pikiran pun juga bersih
  • Mengisi hati dan pikiran dengan hal-hal yang positif
  • Membiasakan/memaksakan diri untuk berpikir positif
  1. OUTER HEALTHY
  2. Penampilan (Performance)

Mungkin kita berpikir apalah arti sebuah penampilan. Penampilan memang tidak menjamin kualitas diri seseorang. Namun, tidak dipungkiri bahwa penampilan lah yang akan pertama kali tampak dan dinilai oleh orang lain. Terkadang bukan masalah usia yang membuat orang kelihatan lebih tua atau lebih muda dari umurnya, tapi mungkin karena cara merawat diri dan cara berpenampilan. Maka, tidak salah jika kita memperhatikan penampilan diri kita.

Adalah Abdullah bin Masúd menceritakan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: “Sesungguhnya seseorang suka pakainnya bagus dan sandalnya bagus.” Maka Nabi saw bersabda,”sesungguhnya Allah mencintai keindahan.” (HR Muslim).

Hadits di atas menerangkan bahwa Allah mencintai keindahan. Maka, hamba-Nya yang berusaha berpenampilan indah juga tentu disukai Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, ada hadits yang menceritakan tentang seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah dengan muka kusut dan rambut dan jenggot yang acak-acakan, maka Rasulullah saw menyuruhnya pergi untuk merapikannya. Begitu sudah rapi, Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu keluar dengan rambut yang acak-acakan seperti rambut setan.”

Seorang muslimah, tentunya, jika keluar rumah akan menutup auratnya, berkerudung. Jika rambut acak-acakan, siapa yang tahu? Hanya dirinya dan Allah yang tahu..he..he..meski tidak diketahui orang lain maka sebaiknya juga seorang muslimah menjaga kerapian diri. Jangan samapi bagus tampak luar tapi berantakan di dalam. Lagi pula, tidak nyaman kan.

Dalam beberapa hadits lain disebutkan bahwa muslimah diperbolehkan berhias dengan beberapa hal, yaitu pakaian yang indah (kain sutera), wewangian yang tidak mencolok, perona pipi (humroh), menghias wajah dengan warna keputih-putihan/bedak (isfidai), bercelak, memakai inai/pacar, dan memakai perhiasan gelang/cincin/kalung.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak beberapa hadits berikut ini.

Dari Ummu Athiyah,”kami dilarang berkabung untuk mayat lebih dari tiga hari, kecuali atas suami selama empat bulan sepuluh hari. Kami tidak boleh bercelak, memakai wewangian, dan memakai pakaian yang bercelup” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ungkapan pada hadits di atas menunjukan pada kebolehan menggunakan celak, wewangian, dan pakaian yang bercelup pada kondisi di luar masa berkabung.

Aisyah berkata bahwa seorang perempuan menyodorkan tangannya kepada Nabi saw dengan sebuah kitab, lalu berkata,”Aku menyodorkan tanganku dengan sebuah kitab, tetapi engkau tidak mengambilnya.”Beliau menjawab,” aku tidak tahu apakah itu tangan perempuan atau laki-laki? Dia menjawab,”Tangan perempuan.”Sabda Nabi,”jika engkau seorang perempuan, tentu engkau akan mengubah warna kukumu dengan inai”(HR Nasaí)

Hadits di atas menggambarkan dibolehkannya memakai inai, bahkan dianjurkan. Asma’ binti Yazid menceritakan bahwa dia dan bibinya mengenakan gelang emas. Beliau bertanya, “Apakah kamu sudah mengeluarkan zakatnya?”Belum,”jawabnya. Beliau bersabda,”Apakah kamu tidak takut Allah akan memakaikan kepadamu gelang-gelang dari neraka? Keluarkanlah zakatnya!”(HR.Ahmad).

Hadits di atas menggambarkan kebolehan memakai perhiasan gelang dan semacamnya, namun harus dikeluarkan zakat apabila mencapai nisabnya.

“sesungguhnya pakaian sutera dan emas diharamkan atas kaum laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi kaum perempuan.” (HR. Tirmidzi)

Hadits di atas menjelaskan tentang kebolehan memakai sutera dan emas bagi kaum perempuan.

Aisyah menceritakan,”Kami keluar bersama Rasulullah saw. Ke Makkah. Kami ikatkan pada dahi kami pembalut yang diberi wewangian ketika berikhram. Apabila salah satu dari kami berkeringat dan mengalir di wajahnya lalu Nabi melihatnya, maka beliau tidak melarang”(HR.Abu Dawud).

Hadits di atas menggambarkan kebolehan memakai wangi-wangian pada pakaian asalkan tidak berlebihan.

Jadi, muslimah diperbolehkan berhias asalkan sesuai syariat dan tidak berlebihan. Begitupun dalam hal memakai perhiasan berupa pakaian dan kerudung, muslimah boleh memilih model maupun warna sesuai selera, asalkan memperhatikan kaidah sebagai berikut:

  1. Menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.

Berkaitan dengan hal ini, Abu Dawud meriwayatkan hadits Nabi saw. sebagai berikut: “Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa tidak layak kelihatan darinya, kecuali ini dan ini (sembari beliau menunjuk wajah dan telapak tangan beliau,” (HR.Abu Dawud)

Pendapat tentang perempuan harus menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan ini juga disepakati oleh para ulama terdahulu seperti dalam fikih Madzab Hanafi dan Zhahiri (Kitab Al Muhala karya Ibnu Hazm.

Bahkan, seorang ulama salafi yang bernama Syaih Nasiruddin Al Albani, dalam kitab Ar-Rad Al Mufhi, mengatakan,” orang-orang yang mewajibkan para perempuan menutup wajah dan kedua telapak tangan tidak beradasar kepada Al Qur’an dan Sunnah maupun ijma ulama.”

Albani juga menambahkan, bahwa mereka yang mewajibkan cadar bagi muslimah sebagi “berdalil dengan hadits-hadits dhaif, atsar-atsar lemah, serta atsar-atsar palsu yang mereka ketahui, atau mungkin tidak mereka ketahui.

Beliau juga mengatakan, “ Saya berkeyakinan bahwa sikap berlebih-lebihan terhadap urusan wajah perempuan itu tidak mungkin bias mencetak generasi perempuan di tiap-tiap negerinya yang mampu mengemban tugas yang tergantung pada leher mereka.”

“Perempuan-perempuan seperti itu juga tidak akan mampu bertindak secara luwes dan tangkas di saat keadaan membutuhkan. Dari berbagai hadits, kita bias mengetahui bahwa perempuan di zaman Rasulullah ikut menyuguhkan makan dan minum untuk para tamu, ikut berperang dengan memberi minum bagi mereka yang kehausan, memberi makan bagi mereka yang kelaparan, dan mengevakuasi mereka yang terbunuh. Terkadang perempuan sendiri ikut berberang saat kondisi mengharuskan.”

“Mungkinkah perempuan-perempuan yang memakai cadar dan kaos tangan mampu melakukan kegiatan dan tugas semacam itu?”Lanjut Albani,”Sunnguh tidak mungkin. Kegiatan dan tuigas-tugas semacam itu hanya bias dilakukan tatkala para perempuan membuka wajah dan telapak tangan mereka.”

Dalam hal pakaian dan perhiasan, Abu Syuqoh dalam buku berjudul Kebebasan Wanita Jilid I halaman 31, memberikan rambu-rambu sebagai berikut:

  1. Membuka wajah sudah umum dilakukan pada zaman Nabi saw. Kondisi seperti ini merupakan kondisi awalnya. Adapun memakai cadar, sehingga yang terlihat hanya bola mata, merupkan salah satu tradisi atau mode/cara berdandan yang menjadi trend pada sebagian wanita sebelum dan sesudah kedatangan Islam.
  2. Berdandan secara wajar pada muka, kedua telapak tangan, dan pakaian diperbolehkan agama dalam batas-batas yang pantas dilakukan oleh seorang wanita mukminat.
  3. Tidak pernah diwajibkan mengikuti satu mode tertentu dalam berpakaian. Yang diwajibkan adalah menutupi badan. Tidaklah berdoas mengikuti beberapa mode sesuai dengan kondisi cuaca dan lingkungan social.
  4. Kriteria-kriteria di atas membantu wanita untuk lebih bebas bergerak dan memudahkannya dalam mengikuti kegiatan social.
  5. Menggunakan kain yang tidak tembus pandang.
  6. Lonngar dan tidak sempit.
  7. Tidak menyerupai laki-laki.
  8. Tidak menyerupai pakaian orang kafir.
  9. Memperhatikan keindahan dan kepantasan secara wajar.
  10. Kepribadian (Personality)
  11. Salimul Akidah (Akidah yang bersih)
  12. Shahihul ibadah(ibadah yang benar)
  13. Matinul khuluk (akhlak yang kokoh)
  14. Qowwiyul Jismi (Kekuatan jasmani)
  15. Mutsaqoful Fikri (intelek dalam berpikir)
  16. Mujahadatun linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
  17. Harishun ‘ala waqtihi (pandai menjaga waktu)
  18. Munazhzhamun fi syuúnihi (teratur dalam suatu urusan)
  19. Qodirun ‘ala kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri atau mandiri finansial)
  20. Naafi’un lighoirihi (Bermanfaat bagi orang lain)
  21. Kecerdasan dan Kreativitas (Intellegency and Creativity)
  22. Brightly intelligence
  • S Al Mujadillah ayat 11: “…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
  • Utlubul ‘Ilma walau bissin” artinya tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Chia
  • Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin” artinya menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim
  • Bagaimana agar muslimah cerdas akalnya:
  • suka membaca
  • suka menuntut ilmu

ilmu diniyah maupun ilmu umum

  • spesialis dalam satu ilmu dan berwawasan global

Agar mampu menjawab berbagai persoalan yang berkaitan dengan bidang keahliannya dan menjadi referensi orang banyak terkait dengan keahliannya

  • prioritas investasi ilmu.

Mengalokasikan dana untuk membeli buku, mengikuti training, seminar dll.

  1. Creativity
  • Orang yang kreatif akan mampu mengubah hambatan menjadi peluang, ancaman menjadi kekuatan, dan kekuatan dapat dilipat gandakan.
  • Steve Job
  • Abdurrahman bin Auf adalah seorang sahabat nabi saw. yang terkenal sebagai pengusaha yang kaya raya. Saat hijrah di Madinah, semua hartanya dia tinggal di Makkah. Sesampainya di Makkah, dia menolak tawaran saudara angkatnya yang akan memberikan harta. Dia hanya minta ditunjukan pasar. Dan di pasar itulah, Abdurrahman bin Auf memakai kreativitasnya untuk berdagang. Tidak butuh waktu yang lama, beliau kembali menjadi pengusaha.
  • Salman Al Farisi adalah sahabat nabi yang berasal dari Persia. Saat Madinah dikepung oleh tentara yang bersekutu ( tentara musyrik dari Makkah dan Madinah, juga orang-orang Yahudi di Madinah). Saat itu, tampillah Salman Al Farisi memberikan konsep kepada Rasulullah saw. agar membuat parit mengelilingi Kota Madinah untuk menghalangi musuh menyerang kota. Konsep parit saat itu belum familiar di kalangan orang Arab. Dan dari ide parit inilah, maka perang itu dinamakan Perang Khandaq (Perang Parit)
  • Umar bin Khatab, penggagas Terusan Zues. Terusan Zues adalah terusan yang menghubungkan antara Benua Afrika dan Asia yang letaknya di dekat Mesir. Jika melihat sejarah, terusan suez itu ditemukan oleh orang Barat tetapi sesungguhnya ide untuk menghubungkan sudah di mulai sejak Umar bin Khatab dan dietruskan oleh para pemimpin muslim
  • Zainab binti Jahsy. Beliau adalah muslimah yang suka bekerja, tidak mau nganggur, dan suka sekali bersedekah. Padahal, dengan gelar ummul mukminin dan istri Nabi saw., beliau tidak perlu bekerja. Tapi beliau memilih bekeraja. Belaiu banyak membuat kerajinan tangan seperti anyaman, lalu menjualnya di pasar. Dan hasil penjualannya beliau sedekahkan kepada orang-orang miskin. Hingga Nabi saw. menggelari beliau sebagai istri paling panjang tangannya, artinya paling banyak sedekahnya.

Wallahu ‘alam bi showab.

*Materi siaran RDS oleh Ari Purwani, pada Ahad 11 Februari2018, Solo Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *